Latest Entries »

Gerhana Bulan Total/Khusüf

8 Oktober 2014

Oleh: Zaid Nasrullah

بسم الله الرحمن الرحيم

وخسف القمر ۝ وجمع الشمس والقمر ۝

Dan apabila Bulan telah hilang cahayanya ۝ Dan apabila Matahari dan Bulan dikumpulkan. Q.S.
alQiyämah (75): 8-9﴿

Bertasbih apa yang ada di langit dan di Bumi menurut sunnatulläh terutama ketiga makhluk kosmos ini khususnya Bulan yang selalu berenang-renang berthawaf mengelilingi Bumi dengan kemiringan bidang orbitnya mencapai ~5o atau lebih tepatnya 5,145o terhadap ekliptika (bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari).

Gambar 1 Rantai tahapan gerhana Bulan Total mulai dari kontak awal hingga kontak akhir penggerhanaan. Kredit: bintanggumilang

Gambar 1 Rantai tahapan gerhana Bulan Total mulai dari kontak awal hingga kontak akhir penggerhanaan. Kredit: bintanggumilang

Arti Gerhana Perspektif Agama Kultur

Sepanjang sejarah peradaban manusia di seluruh dunia, peristiwa sunnatulläh baik itu Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan menjadi pusat perhatian yang kemudian dihubung-hubungkan dengan kepercayaan pada masanya karena keterbatasan pengetahuan rahib-rahib atau pendeta-pendeta selaku pemimpin agama yang mereka miliki – sebagaimana kepercayaan pribumi pada masa kerajaan hindu di Jawa, dahulu peristiwa ini disebut “Grahono” dari penggalan kata “gara” dan “hana” jadi kurang lebih maksudnya “ana gara-gara” atau akan terjadi peristiwa huru-hara atau prahara di tanah Jawa yang diakibatkan oleh raksasa bernama “Buta Ijo” berusaha menelan Bulan dan Matahari. Apabila terjadi gerhana, maka penduduk akan membunyikan “tundan”, yaitu membunyikan kentongan secara bersahutan. Di samping itu penduduk membawa ember berisi air untuk melihat gerhana tersebut. Menurut kepercayaan mereka, akan terlihat raksasa yang akan menelan Bulan dan Matahari.

Di Jawa Barat, sebutan gerhana dengan “Samagaha” maka penduduk akan membunyikan sesuatu dengan cara memukulkan benda apa saja yang ditemuinya. Maksudnya ialah supaya Bulan dan Matahari yang akan kawin itu segera mengurungkan maksudnya, karena apabila hal itu terjadi maka Bumi akan menjadi gelap gulita. Di samping itu, dengan adanya suara atau bunyi-bunyian tersebut akan menghilangkan pengaruh buruk. Misalnya pengaruh buruk terhadap telur yang sedang dierami, telur tersebut akan menjadi busuk (sunda; kacingcalang). Selain itu, wanita yang sedang hamil dilarang melihat gerhana atau keluar rumah, bahkan harus bersembunyi di bawah tempat tidur karena menurut kepercayaan mereka, apabila hal itu tidak dilakukan akan menyebabkan anak yang dikandungnya itu jika lahir memiliki tubuh yang belang (sunda; hideung sabeulah).

Kepercayaan lain di Bali menyebutnya “Kepayang”, di mana raksasa yang bernama “Kala Ratu” berusaha menelan Matahari dan Bulan maka penduduk akan memukul “antan” pada lesungnyasehingga terjadilah bunyi-bunyian yang ramai. Bunyi-bunyian ini dimaksudkan untuk mengusir raksasa itu yang berusaha menelan Bulan dan Matahari.

Berbeda halnya di Makassar, masyarakat menyebut gerhana Bulan dengan sebutan “Bulan Abunting” yang berarti Bulan kawin, artinya pertanda kebahagian akan datang sehingga membunyikan kentongan – dengan serta-merta para perjaka dan perawan membuka pakaiannya lalu keluar rumah tanpa busana kemudian berdo’a di halaman rumahnya masing-masing. Menurut kepercayaan mereka, dengan melakukan semua ini akan cepat mendapat jodoh dan akan menemui kebahagiaan. Lain halnya pada saat gerhana Matahari, mereka malah lari masuk ke dalam rumah dan berlindung sambil memukul kentongan. Mereka melakukan perbuatan seperti itu karena takut sebab sedang terjadi “Sinkanrei Mata Alloa” yang berarti Matahari sedang baku hantam.

Kalau kita tarik kesimpulan, ada benang merah yang saling terhubung yang dinamakan tahayyul (kepercayaan) dan khurafat dalam hal ini animisme (kepercayaan adanya jiwa dan ruh yang dapat mempengaruhi alam manusia) dan dinamisme (kepercayaan adanya kekuatan dalam diri manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, benda-benda dan kata-kata) serta upacaranya dinamakan bid’ah karena mengadakan hal baru dalam urusan agama padahal bukan bagian dari agama maka ia tertolak seperti dalam H.R alBukhäriy dan Muslim. Dikatakan demikian, karena tata cara seperti itu hanya merupakan produk pemikiran manusia, hasil akal bukan berdasarkan wahyu Alläh yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Dengan kata lain, garis pemisah antara Tahayyul, Bid’ah, dan Khurafat (TBC) itu antara produk pemikiran manusia, hasil akal atau berdasarkan petunjuk wahyu yang diterima oleh utusan-Nya.

Arti Gerhana Perspektif Isläm

Terhitung sejak tahun kelahiran Nabi 12 Rabi’ul Awwal 53 Sebelum Hijriyyah atau bertepatan dengan 20 April 570 Masehi sampai wafatnya pada 2 Rabi’ul Awwal 11 Hijriyyah bertepatan 8 Juni 632 Masehi selama 62 tahun terjadi Gerhana Matahari sebanyak 157 kali di seluruh dunia, baik itu Gerhana Matahari Total, Annular (Cincin), maupun Parsial atau Sebagian, sedangkan Hybrid tidak terjadi. Sedangkan gerhana Bulan terjadi sebanyak 161 kasus, baik itu Gerhana Bulan Total, Sebagian, dan Penumbra. Ada pun sunnatulläh yang paling masyhur terjadi pada zaman Rasul sebelum wafat dalam beberapa bulan, terjadi Gerhana Matahari Annular atau Cincin, di mana bayangan pada piringan Bulan lebih kecil daripada piringan Matahari – sehingga pada puncaknya cahaya Matahari yang terhalang oleh Bulan menutupi bagian tengah Matahari namun pada pinggiran tidak terhalang oleh Bulan sehingga membebaskan pinggiran cahaya Matahari menyerupai cincin, yang bertepatan ketika putra Nabi bernama Ibrähiym meninggal
dari istri Nabi bernama Mariyah alQibthiyah pada hari Senin, 27 Januari 632 Masehi atau bertepatan dengan 29 Syawwal 10 H pukul 10:44 waktu setempat di Madinah atau 14:44 WIB.

Peristiwa ini menggemparkan kaum muslimiyn mengingat peristiwa ini bertepatan dengan wafatnya putra Nabi yang wafat saat Ibrähiym berumur 19 bulan. Mereka pun berkata: “Terjadinya Gerhana Matahari karena wafatnya Ibrähiym!”. Mendengar keresahan kaum muslimiyn, Rasul pun keluar dan pergi ke masjid kemudian diikuti oleh para sahabat sehingga keresahan pun mereda. Kemudian Rasul pun mengutus penyeru untuk Iqamat dengan “Ash-Shalaatu Jaami’atun“. Seperti dijelaskan dari berbagai riwayat, salah satunya di dalam kitäb Shahiyh Muslim.

وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ قَالَ الْأَوْزَاعِيُّ أَبُو عَمْرٍو وَغَيْرُهُ سَمِعْتُ ابْنَ شِهَابٍ الزُّهْرِيَّ يُخْبِرُ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ مُنَادِيًا الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ فَاجْتَمَعُوا وَتَقَدَّمَ فَكَبَّرَ وَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ ﴿صحيح مسلم {صلاة الكسوف}٤:٤٤٤

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mihrän arRäziy telah menceritakan kepada kami Waliyd bin Muslim ia berkata: “Ouzä’iy Abü ‘Amr dan yang lainnya aku mendengar Ibnu Syihäb azZuhriy memberitakan dari ‘Urwah dari ‘Äisyah: “Sesungguhnya telah terjadi Gerhana Matahari pada zaman Rasul SAW. lalu Beliau mengutus penyeru “ashShalätu jämi’atun” kemudian mereka berkumpul dan maju (merapihkan saf) kemudian bertakbir dan shalät empat kali ruku’ dalam dua raka’at dan empat kali sujud.”

Dari hadits ini sangat jelas, Rasul memberikan contoh bagaimana tata cara melaksanakan shalat Kusüf/Khusüf yang diawali dengan qamat “ashShalätu Jämi’atun”, merapihkan atau meluruskan barisan kemudian bertakbir (di sini tidak adanya bacaan niat dalam shalat Kusüf/Khusüf).

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُصْعَبٌ وَهُوَ ابْنُ الْمِقْدَامِ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ عِلَاقَةَ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ قَالَ زِيَادُ بْنُ عِلَاقَةَ سَمِعْتُ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ يَقُولُ انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ﴿صحيح مسلم {ذكر النداء بصلاة الكسوف الصلاة جامعة}٤:٤٦٩

Telah menceritakan kepada kami Abü Bakar bin Abiy Syaybah dan Muhammad bin ‘Abdilläh bin Numayr ia berkata telah menceritakan kepada kami Mush’ab dan dia itu Ibnu Miqdäm telah menceritakan kepada kami Zäidah telah menceritakan kepada kami Ziyäd bin ‘Iläqah dan pada satu riwayat Abi Bakar berkata Ziyäd bin ‘Iläqah mengatakan Aku mendengar Mughiyrah bin Syu’bah berkata: “Pada zaman Rasulullah SAW. terjadi Gerhana Matahari pada hari kematian Ibrähiym. Rasululläh SAW. bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari kekuasaan Allah. Tidak terjadi dua Gerhana karena kematian seseorang dan tidak karena hidupnya seseorang. Maka apabila kalian melihat kedua Gerhana itu, maka berdo’alah kepada Alläh dan shalätlah sehingga terang.”

عن عائشة أنها قالت: خسفت الشمس فى عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم بالناس فقام فأطال القيام ثم ركع فأطال الركوع ثم قام فأطال القيام وهو دون القيام الأول ثم ركع فأطال الركوع وهو دون الركوع الأول ثم سجد فأطال السجود ثم فعل فى ركعة الثانية مثل ما فعل فى الأولى ثم انصرف و قد انجلت الشمس فخطب الناس فحمدالله و أثنى عليه ثم قال: إن الشمس و القمر آياتان من آيات الله لايخسفان لموت أحد ولالحياته فإذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبروا وصلوا وتصدقوا

Dari ‘Äisyah r.a. berkata: “Di zaman Rasululläh SAW. telah terjadi gerhana Matahari, kemudian Rasululläh shalät bersama orang-orang. Beliau berdiri dan memanjangkan (lama) berdirinya, lalu beliau ruku’ dan memanjangkan ruku’nya, setelah itu Beliau berdiri (lagi) dan memanjangkan berdirinya hanya tidak sepanjang berdiri yang pertama, kemudian Beliau ruku’ kurang (tidak selama) ruku’ yang pertama, kemudian Beliau sujud dan memanjangkan sujudnya. Kemudian Beliau melakukannya pada raka’at yang kedua sebagaimana melakukan pada raka’at yang pertama. Setelah itu Beliau berpaling sedangkan Matahari sudah terang, lalu beliau menasihati (khuthbah) orang-orang, Beliau membaca tasbih kepada Alläh dan memuji-Nya lantas bersabda: ‘Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua ayat (tanda) di antara tanda-tanda kekuasaan Alläh. Keduanya tidak terjadi gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat yang serupa itu (gerhana) berdo’alah kamu kepada Alläh dan bertakbirlah dan shalätlah dan bershadaqahlah kamu.” (H.R. Bukhäriy 1:181, 2:24).

Jelas sudah, Isläm datang untuk meluruskan kembali peristiwa tersebut yang diyakini oleh masyarakat Arab karena meninggalnya putra Nabi bernama Ibrähiym khususnya, kepercayaan lain pada umunya.

Perspektif Teminologi

Lantas bagaimana dengan terminologi Kusüf maupun Khusüf di kalangan bangsa Arab?

الكسوف لغة : التغير إلى السواد ومنه كسف فى وجهه وكسفت الشمس أسودة وذهب شعاعها ﴿نيل الأوطار ٤:١٤

Kusüf menurut bahasa adalah “Perubahan ke bentuk warna hitam dan perubahannya itu menutup permukaan bagian depan (wajah)sampai hilangnya bayangan.”{Naylul Authär (4):14}.

الكسوف لغة : التغير إلى السواد. والخسوف : النقصان ﴿سبل السلام }صلاة الكسوف{
٢:٧٣

Kusüf menurut bahasa adalah “Perubahan menuju warna hitam” dan Khusüf adalah Penurunan {Subulus Saläm (Shalät Kusuf) 2:73}.

Kalimat Kusüf maupun Khusüf seharusnya bahasa ‘urfi karena kalimat ini sudah dikenal jauh sebelum Nabi SAW. lahir akan tetapi sejak manusia menempati Bumi ini, berbeda halnya dengan kalimat shalät yang merupakan bahasa syar’i – diawali dengan takbir dan diakhiri dengan saläm. Penulis sendiri belum sempat mencari ke kitäb Lisänul Arabiy dsb. untuk mengetahui etimologi kalimat Kusüf maupun Khusüf. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penelusuran dari mana orang Arab mengetahui adanya perubahan ke bentuk warna hitam yang mendekati pengetahuan kontemporer menggambarkan gerhana secara astronomis di mana bayangan atau disebut umbra Bumi menyentuh wajah Bulan sehingga terjadi gerhana Bulan, sedangkan gerhana Matahari terjadi karena Bulan melewati piringan Matahari sehingga membentuk bayangan atau umbra Bulan yang berbentuk kerucut mengarah ke Bumi sehingga mengalami penggelapan di daerah yang melewati garis penggerhanaan Matahari.

Dugaan penulis, berdasarkan kitäb Qishashul Anbiyã berasal dari da’wah Nabi Idriys AS. sepeninggal Nabi Adam AS.. Kitäb yang ditulis oleh Muhammad bin Ibrähiym anNaysaburiy atsTsa’labiy hal. 46 cetakan Beirut 2006 menuturkan bahwa Nabi Idriys AS. adalah orang pertama yang menulis dengan pena, penulis baju (pembatik) dan pakaian yang dijahit, observasi dan menghitung pada ilmu perbintangan (Falakiy/Astronom), bercocok tanam, mengajarkan berbagai benih (botani), menentukan musim dan sebagainya. Adil Thähä Yunüs dalam bukunya Jejak-jejak Para Nabi Alläh hal. 47 menambahkan, Nabi Idris A.S. juga dikenal sebagai Osiris yang kemudian dikultuskan menjadi Dewa Mesir (yakni setelah para pendeta mendewakannya)
setelah Allah mengangkatnya ke langit {Q.S. Maryam (19):56-57}. Semenjak itulah banyak mitos-mitos ataupun cerita-cerita yang berkembang dan menyimpang dari ajaran Nabi Idris A.S. baik dari lini sosial maupun kepercayaan termasuk pada ilmu perbintangan yang begitu besar pengaruhnya.

Hipotesis penulis tentu tidak bisa dijadikan landasan karena kurangnya keterangan daliyl yang mengisahkan Nabi kedua setelah Nabi nenek moyang para manusia. Akan tetapi, perlu dicermati dengan sunnah Nabi SAW. di mana ada perintah takbir, berdo’a, shalät, serta mengumpulkan dilanjutkan pembagian shadaqah. Rata-rata kepercayaan di seluruh dunia memiliki korelasi benang merah dengan perintah Nabi SAW. walaupun menyimpang sangat jauh. Salah satu contohnya adalah membunyikan suara, dugaan penulis – Nabi Idriys memerintahkan bertakbir tatkala ummatnya melihat gerhana. Sepeninggal Nabi, masyarakat mulai menyimpang dari koridor yang sudah ditetapkan mengingat manusia selalu kehilangan arah hingga datangnya Rasul terakhir yang diutus untuk menghilangkan unsur-unsur TBC
kemudian meluruskan kembali. Sama halnya ‘ibädah hajji sebelum datangnya isläm banyak sekali penyimpangan-penyimpangan sepeninggal Nabi Ibrähiym AS. kemudian Nabi SAW. membersihkan benalu-benalu yang menempel pada ajaran Bapak para Nabi.

Perspektif Astronomis

Gerhana Bulan Total (GBT) yang berlangsung pada hari Rabu, 8 Oktober 2014 (GBT – 8 Oktober 2014) yang terjadi bertepatan dengan 13-14 Dzul Hijjah 1435 H. Tertanggal 13 karena GBT ini terjadi kontak awal penggerhanaannya pada sore hari sebelum Matahari tenggelam walaupun sebenarnya posisi Bulan masih ada di bawah horizon atau ufuq atau kaki langit 21o 0′ 39″ jika pengamat berada di Bandung, sementara perubahan penanggalan dalam kalender Hijriyyah terjadi ketika maghrib, sehingga terjadi selama pada dua tanggal. GBT – 8 Oktober 2014 merupakan Gerhana Bulan ke 42 dari 72 gerhana dalam seri Saros 127 atau Gerhana Bulan Total kedua dari dua gerhana Bulan Total yang berlangsung pada 15 April 2014 kemarin – di mana memiliki keistimewaan merupakan bagian untaian empat gerhana Bulan Total yang berurutan, dua gerhana yang lainnya akan berlangsung pada 4 April dan 28 September 2015 mendatang. Untaian empat GBT yang berlangsung secara berurutan dinamakan gerhana Bulan tetrad. Untaian gerhana Bulan tetrad ini tergolong langka, dalam seribu tahun di millenium 3 terdapat 32 kali fenomena tersebut. GBT – 8 Oktober 2014 bertepatan dengan (pertengahan) 14 Dzulhijjah 1435 H bersamaan dengan fase puncak Bulan Purnama pada pukul 17:51 WIB yang diikuti illuminasi sebesar 100%. Alhamdulilläh, Alläh memperlihatkan salah satu tanda kebenaran karena kita bisa memahami diturunkannya sunnah shawm pertengahan bulan itu pada tanggal 13-14-15 bisa terjadi Bulan dalam fase Purnama.

GBT – 8 Oktober 2014 dimulai dengan Bulan memasuki kawasan Penumbra (P1) pada pukul 15:15:33 WIB pertanda tahap gerhana Bulan Penumbra dimulai, 59 menit 15 detik kemudian disusul Bulan mulai memasuki kawasan Umbra Bumi (U1) pada pukul 16:14:48 WIB, dan seluruh permukaan Bulan memasuki Umbra Bumi (U2) pertanda momen GBT – 8 Oktober 2014 dimulai pada pukul 17:25:10 WIB, sementara puncak Gerhana Bulan Total pukul 17:54:36,2 WIB, kemudian momen GBT berakhir (U3) pukul 18:24:00 WIB, Bulan meninggalkan Umbra Bumi (U4) pukul 19:34:21 WIB dan Bulan meninggalkan kawasan Penumbra (P4) pada pukul 20:33:43 WIB. Jadi momen GBT berlangsung 59 menit. Pada momen gerhana Penumbra sangat sulit dibedakan antara Bulan Purnama dengan Bulan dalam kawasan Penumbra Bumi, yang sebenarnya sorot cahaya Matahari ke permukaan Bulan berkurang, tidak 100% seperti sorot cahaya Matahari ke permukaan Bulan pada fase Bulan Purnama seperti pada Gambar 2..

Perlu diketahui, untuk mengamati GBT secara langsung dengan mata telanjang tidak berbahaya – terlebih penggunaan alat bantu binokuler dan teleskop tanpa filter juga akan lebih jelas dan tidak berbahaya. Karena Matahari terbenam pada pukul 17:43 WIB di ufuq Barat sementara Bulan sudah terbit terlebih dahulu pada pukul 17:36WIB dalam keadaan sudah Total tertutup oleh bayangan umbra Bumi mengingat U2 terjadi pada pukul 17:25 WIB maka secara umum di Indonesia memiliki keunikan pada warna Bulan karena berada di kaki horizon yang sangat bergantung kondisi atmosfer planet Bumi terlebih ukuran Bulan akan tampak lebih besar dari biasanya. Skala kecerahan Bulan bergantung pada kondisi atmosfer yang mengandung sejumlah air (awan, kabut, curah hujan) dan partikel padat (debu, puing-puing organik, abu vulkanik) maupun polusi udara lainnya yang berguna sebagai filter alami seperti yang dikenalkan oleh astronom Perancis André –Louis Danjon, semakin kecil nilai “L”nya maka semakin gelap (L = 0) sedangkan nila “L”nya besar maka akan mengalami perubahan warna, mulai dari abu-abu atau kecoklatan (L = 1), merah jauh atau berwarna karat (L = 2), merah darah (L = 3), dan yang terakhir sangat terang berwarna merah tembaga atau oranye.

Lantas apa yang bisa menyebabkan warna Bulan menjadi merah?

Pembiasan warna merah dari Matahari layaknya cincin merah Bumi.

Gambar 2 Pembiasan warna merah dari Matahari layaknya cincin merah Bumi.

Sebagaimana penjelasan di atas, atmosfer Bumi membiaskan cahaya merah dari Matahari sehingga Bulan tidak gelap total. Hal ini bisa dijelaskan dengan mudah saat astronot melihatnya dari permukaan Bulan hingga tampak terjadi gerhana Matahari oleh Bumi. Bumi tampak dikelilingi cahaya kemerahan akibat atmosfer yang membiaskan cahaya merah dari Matahari sementara cahaya biru dari Matahari dihamburkan oleh atmosfer Bumi.

Gambar 2. Momen Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014.

Gambar 3. Momen Gerhana Bulan Total 8 Oktober 2014.

Momen Gerhana Bulan Total dapat disaksikan hampir di seluruh wilayah Indonesia, kecuali di Banda Aceh. Hampir di seluruh wilayah Indonesia Bulan terbit sebelum momen GBT 8 Oktober 2014 berakhir, kecuali di Aceh, bulan terbit di Aceh setelah GBT berakhir, namun masih bisa menyaksikan momen akhir gerhana Bulan Sebagian. Di seluruh wilayah Indonesia, Bulan terbit dalam keadaan gerhana, namun tidak ada yang bisa menyaksikan seluruh momen GBT – 8 Oktober 2014 dari sejak Bulan mulai memasuki kawasan Penumbra maupun Umbra Bumi. Di Sorong dan Jayapura, Bulan terbit ketika Bulan sudah berada di kawasan Penumbra Bumi, di kedua tempat ini dapat menyaksikan paling banyak momen gerhana Bulan 8 Oktober 2014. Di Sumatera umumnya orang menyaksikan gerhana dari pertengahan gerhana bulan total 17:55 WIB hingga gerhana Bulan berakhir saat Bulan benar-benar keluar dari umbra Bumi (U4) pada pukul 19:34:21 WIB sedangkan akhir dari Penumbra pukul 20:34 WIB. Di kota – kota Palangkaraya, Banjarmasin, Samarinda, Tanjung Selor, Manado, Gorontalo, Palu, Mamuju, Makassar, Kendari, Ternate, Ambon, Sorong, Jayapura, Kupang, Mataram, Denpasar dan Surabaya dapat menyaksikan seluruh momen GBT 8 Oktober 2014 yang akan berlangsung selama 59 menit tersebut, sejak 17:25 WIB hingga jam 18:24 WIB.

Kota

Moon Rise

Sun Set

Bandar Lampung

17:49

17:54

Bandung

17:36

17:46

Banjar

17:35

17:40

Bengkulu

18:00

18:03

Bogor

17:41

17:48

Ciamis

17:29

17:35

Cianjur

17:39

17:47

Cirebon

17:36

17:39

Garut

17:35

17:45

Jakarta

17:43

17:45

Jambi

17:54

17:56

Jogjakarta

17:28

17:33

Kediri

17:21

17:26

Kuningan

17:33

17:42

Malang

17:17

17:25

Padang

18:07

18:09

Palembang

17:50

17:52

Pangkal Pinang

17:44

17:46

Pekanbaru

18:02

18:04

Pontianak

17:30

17:32

Purwakarta

17:39

17:44

Semarang

17:28

17:31

Serang

17:45

17:48

Subang

17:38

17:42

Sukabumi

17:40

17:48

Sumedang

17:35

17:44

Surabaya

17:19

17:22

Beberapa kota pada Tabel 1 bisa dicermati ternyata Bulan sudah terbit sebelum Matahari terbenam. Karena illuminasi Bulan ~100% maka Bulan dapat diamati dengan mudah jika tidak terhalang oleh bangunan maupun pepohonan. Berdasarkan hadits Nabi di atas, takbiran bisa dimulai sebelum Matahari terbenam ketika Bulan sudah muncul di kaki langit, selang beberapa saat adzan maghrib dikumandankan kemudian dilanjutkan takbiran (baca selengkapnya cara takbiran di sini sedangkan tata cara shalät gerhana bisa dibaca di sini).

GBT 8 Oktober 2014 (di Indonesia) dapat disaksikan pada momen menjelang Bulan terbenam sebagai GBT 7 Oktober 2014 di wilayah Kanada, Amerika Serikat, samudera Pasifik, bagian Barat negara Amerika latin.

Sehingga durasi penggerhanaan dari mulai Penumbra (P1-P4) selama 5 jam 18 menit 10 detik, sedangkan Umbra (U1-U4) 3 jam 19 menit 33 detik, dan Total (U2-U3) 58 menit 50 detik.

Kesimpulan

Takbiran bisa dimulai saat Bulan sudah terbit di kaki langit pada pukul 17:36 waktu lokal di Bandung dan sekitrnya sedangkan Matahari mulai terbenam pada pukul 17:43 waktu lokal di ufuq Barat. Sehingga teknis mulai takbiran dari pukul 17:36 WIB sampai pukul 17:46 WIB disambungkan adzan maghrib kemudian shalät maghrib. Setelah selesai shalät maghrib dilanjutkan kembali takbiran kemudian dilanjutkan shalät khusüf. Seusai shalät khusüf dilanjutkan khuthbah disertai shadaqah sampai pukul 19:34:21 WIB saat umbra Bumi hilang dari wajah Bulan. Untuk kota lain yang tidak disebutkan, takbiran dimulai setelah shalat maghrib.

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام والمسلمين

بسم الله الرحمن الرحيم

Selama 13 tahun hidup di Mekkah sebelum hijrah, Nabi Muhammad telah 13 kali mengalami Ramadhan, yaitu dimulai dari Ramadhan tahun ke-41 kelahiran Nabi yang bertepatan bulan Agustus 610 M, hingga Ramadhan tahun ke-53 dari kelahirannya yang bertepatan dengan bulan April tahun 622 M. Namun selama waktu itu belum disyari’atkan kewajiban mengeluarkan zakat fithrah bagi kaum muslimiyn, dan demikian pula dengan syari’at Iydul Fithrinya.

Setelah Nabi hijrah ke Madiynah, dan menetap selama 17 bulan di sana, maka turunlah ayat 183-184 surat alBaqarah pada bulan Sya’ban tahun ke-2 H, sebagai dasar disyari’atkannya shawm bulan Ramadhan. Tak lama setelah itu, dalam bulan Ramadhan tahun itu pula mulai diwajibkan zakat kepada kaum muslimiyn. (Lihat, Tawdhiyh alAhkӓm Syarh Bulugh alMarӓm, III:371) Zakat ini kemudian populer di kalangan kita dengan sebutan zakat fithrah atau zakat fithri.

Sehubungan dengan kewajiban itu, Ibnu ‘Umar menjelaskan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Sesungguhnya Rasululläh S.A.W. telah mewajibkan zakat fithrah pada bulan Ramadhan atas orang-orang sebesar 1 shä’ kurma, atau 1 shä’ gandum, wajib atas orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, dari kaum muslimiyn.” (H.R. Muslim, Shahiyh Muslim, II: 678, No. hadits 984; Mӓlik, alMuwaththa, I: 284, No. hadits 626; anNasai, asSunan alKubra, II: 25, No. 2282; alHakim, alMustadrak ‘Alas Shahiyhayn, I: 569, No. hadits 1494; alBayhaqi, asSunan alKubra, IV: 161, No. hadits 7476, IV:166, No. hadits 7492; Ibnu Khuzaymah, Shahiyh Ibnu Khuzaymah, IV: 83, No. hadits 2399; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, VIII: 94, No. hadits 3301).

Hadits di atas diriwayatkan pula oleh alBukhӓriy (Shahiyh alBukhӓriy, II: 547, No. hadits 1433), Ahmad (Musnad Ahmad, II: 137, No. hadits 6214), Abu Dӓwud (Sunan Abu Dӓwud, II:112, No. hadits 1611), dan atTirmidzi (Sunan atTirmidzi, III: 61, No. hadits 676) dengan sedikit perbedaan redaksi.

  1. Tinjauan Etimologi & Terminologi

    1. Pengertian Zakat

Zakat berasal dari kata zakä yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh, atau berkembang. Kata itu mengacu pada kesucian diri yang diperoleh setelah pembayaran zakat dilaksanakan. Itulah kebaikan hati yang dimiliki seseorang manakala ia tidak bersifat kikir dan tidak mencintai harta kekayaannya semata-mata demi harta itu sendiri.

Sedangkan secara istilah para ‘ulama fiqh telah menjelaskan pengertian zakat sebagai berikut:

الزَّكَاةُ هِيَ إِعْطَاءُ جُزْءٍ مَخْصُوْصٍ مِنْ مَالٍ مَخْصُوْصٍ بِوَضْعٍ مَخْصُوْصٍ لِمُسْتَحِقِّهِ

Zakat adalah mengeluarkan bagian yang khusus dari harta yang khusus dengan ketentuan yang khusus bagi mustahiqnya.“.

Dengan perkataan lain, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allӓh S.W.T. untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Firman Allӓh S.W.T.:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allӓh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. AtTawbah: 103).

Maksud zakat membersihkan itu adalah membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda. Sedangkan maksud zakat menyucikan itu adalah menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan mengembangkan harta benda mereka.

  1. Pengertian Fithrah

Meski di dalam hadits-hadits Nabi S.A.W. penyebutan zakat ini lebih populer dengan istilah zakat fithri, namun terkadang digunakan pula istilah zakat fithrah, dan barangkali sebutan ini yang lebih populer di kalangan kita. Untuk mempertegas peristilahan itu barangkali penting pula untuk dianalisa latar belakang pembentukannya.

  1. Zakat Fithrah

Dalam alQur-an kata fithrah dalam berbagai bentuknya disebut sebanyak 28 kali, 14 di antaranya berhubungan dengan Bumi dan langit. Sisanya berhubungan dengan penciptaan manusia, baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allӓh, maupun dari segi uraian tentang fithrah manusia. Sehubungan dengan itu Allӓh berfirman pada surat arRum ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah dirimu dengan lurus kepada agama itu, yakni fithrah Alläh yang telah menciptakan manusia atas fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Alläh. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Pada ayat lain diterangkan kronologis peristiwanya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alläh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan).” (QS. Al-A’raf: 172).

Peristiwa ini memberikan gambaran bahwa sejak diciptakan manusia itu telah membawa potensi beragama yang lurus, yaitu bertauhid (mengesakan Allӓh). Keadaan inilah yang disebut alfithrah. Sehubungan dengan itu Nabi S.A.W. bersabda:

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak dilahirkan atas fithrahnya, maka kedua orang tuanya yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani, atau Majusi (H.R. AlBukhӓriy, Shahih AlBukhӓriy, I:465, No. hadits 1319).

Berdasarkan pemaknaan kata fithrah di atas, maka kita dapat memahami bahwa zakat ini disebut zakat fithrah karena zakat ini merupakan shadaqah (bukti kebenaran) dari badannya dan kefithrahan pada jasadnya. (Lihat, Syekh Athiyyah Muhammad Sälim, Syarh Bulugh Al-Maraam, juz 4, hlm. 135).

  1. Zakat Fithri

Kata fithr makna asalnya adalah robek atau terbelah, sebagaimana dalam ungkapan Fathara Näbul Ba’iyr, artinya terbelah tempat taringnya untuk tumbuh. Pemaknaan itu digunakan pula dalam firman Allӓh S.W.T.

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ

Apabila langit terbelah.” (QS. al-Infithar: 1)

Berdasarkan pemaknaan kata Fithri di atas, maka kita dapat memahami zakat ini disebut zakat fithri karena seakan-akan orang yang shawm “merobek atau membelah” masa shawmnya dengan makan.

Dengan demikian, zakat ini disebut zakat fithri karena yang menjadi sebab pensyari’atannya adalah berbuka dari shawm pada bulan Ramadhan, penisbatan zakat kepada kata fithri merupakan bentuk penyebutan akibat (Musabbab) dengan menggunakan kata sebab (Sabab). (Lihat, Tawdhiih Al-Ahkaam Syarh Bulugh Al-Maraam, III:371).

  1. Ketentuan Zakat Fithrah

Pada tahun ke-2 hijriah itu, selain menyebut istilah, Nabi S.A.W. pun menetapkan beberapa aturan zakat yang amat penting diperhatikan oleh kaum muslimiyn, sebagai berikut:

  1. Muzakki Zakat Fithrah yang Terkena Kewajiban

Zakat fithrah wajib dikeluarkan oleh setiap orang muslim. Bagi mereka yang berada dibawah tanggungan orang lain, maka zakatnya menjadi kewajiban penanggungnya, baik ia seorang pembantu rumah tangga, seorang dewasa, ataupun seorang kanak-kanak, bahkan bayi yang telah bernyawa, yang masih didalam rahim, semuanya wajib mengeluarkan zakat fithrahnya, baik dari hartanya sendiri, ataupun oleh penanggung yang bertanggung jawab atasnya.

Di dalam hadits diterangkan:

قَالَ ابْنُ عُمَرَ : فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى اْلعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَىْ وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاَمَرَ اَنْ تُؤَدَّي قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ اِلَى الصَّلاَةِ

Ibnu ‘Umar mengatakan, “Rasululläh S.A.W. mewajibkan zakat fithrah satu shä’ dari kurma, atau satu shä’ dari sya’iyr (gandum) atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimiyn. Dan beliau memerintahkan untuk ditunaikan sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalät ‘iyd. (H.R. AlBukhӓriy,Shahiyh AlBukhӓriy, II:547, No. hadits 1432).

Dalam riwayat lain diterangkan oleh alHasan alBishriy:

خَطَبَ ابْنُ عَبَّاسٍ فِي النَّاسَ آخِرِ رَمَضَانَ فَقَالَ يَا أَهْلَ الْبَصْرَةِ أَدُّوا زَكَاةَ صَوْمِكُمْ قَالَ فَجَعَلَ النَّاسُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ مَنْ هَاهُنَا مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قُومُوا فَعَلِّمُوا إِخْوَانَكُمْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ صَدَقَةَ رَمَضَانَ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى

Ibnu ‘Abbas berkhuthbah di hada[an orang-orang pada akhir bulan Ramadhan lalu Ia berkata, “Wahai penduduk Bashrah, keluarkanlah zakat shawm kalian (zakat fithrah). Ia (Humayd athThawil) berkata, “Maka orang-orang saling memandang satu dengan yang lainnya.” Ibnu ‘Abbas melanjutkan perkataannya, “Siapakah di sini yang berasal dari Madiynah? Bangunlah, ajarkanlah saudara-saudara kalian, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti bahwa Rasululläh S.A.W. mewajibkan zakat kepada setiap budak, orang merdeka, laki-laki, dan wanita pada bulan Ramadhan sebanuak setengah shä’ gandum atau satu shä’ tepung atau satu shä’ kurma.” (H.R. Ahmad, Musnad Ahmad, I:351, No. hadits 3291).

Pada riwayat yang lain dengan redaksi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَلَى الصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ وَالْحُرِّ وَالْعَبْدِ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى نِصْفَ صَاعٍ مِنْ بُرٍّ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ شَعِيرٍ”

Bahwa Rasululläh S.A.W. telah mewajibkan zakat fithri atas anak kecil dan orang dewasa, yang merdeka, dan hamba sahaya, lelaki dan prempuan, sebanyak setengah shä’ gandum atau satu shä’ kurma atau sya’iyr (jenis gandum).” (H.R. anNasä-i, Sunan anNasä-i, III: 190, No. hadits 1580, V: 52, No. hadits 2515, asSunan alKubra, II: 28, No. hadits 2292, adDaraquthni, II: 152, No. hadits 65).

Kata Ash-Shagiyr (anak kecil) mencakup di dalamnya bayi yang masih berada didalam kandungan ibunya apabila usia kandungan itu telah mencapai umur 120 hari atau empat bulan. Sehubungan dengan itu ‘Utsman bin ‘Afan membayar zakat fithrah bagi anak kecil, orang dewasa dan bayi dalam kandungan sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abu Syaybah.

أَنَّ عُثْمَانَ كَانَ يُعْطِيْ صَدَقَةَ الْفِطْرِ عَنِ الْحَبْلِ

“Sesungguhnya ‘Utsman bin ‘Afan memberikan zakat fithrah dari bayi yang dikandung.” (Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, II:432, No. 10.737)

Demikian pula dengan para shahabat lainnya, sebagaimana diterangkan oleh Abu Qiläbah.

عَنْ أَبِيْ قِلاَبَةَ قَالَ كَانَ يُعْجِبُهُمْ أَنْ يُعْطُوْا زَكَاةَ الْفِطْرِ عَنِ الصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ حَتَّى عَلَى الْحَبْلِ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

Dari Abu Qiläbah, ia berkata, “Adalah menjadi perhatian mereka (para shahäbat) untuk mengeluarkan/memberikan zakat fithrah dari anak kecil, dewasa, bahkan yang masih dalam kandungan. (H.R.Abdurrazaq, al-Mushannaf, III:319, No. hadits 5788)

  1. Mustahiq/Masharif (Sasaran) Zakat

Menurut alQur-an, sasaran zakat atau yang lebih populer dengan sebutan mustahiq (yang berhak menerima zakat) ada 8 ashnaf (golongan). Firman Allӓh Swt.:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنْ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Alläh dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Alläh, dan Alläh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Tawbah:60).

Bila ayat di atas kita perhatikan secara seksama, setidaknya ada dua hal yang perlu digaris bawahi; Pertama, kriteria ashnaf itu sendiri. Kedua, ushlub (gaya bahasa) alQur-an dalam mengungkap sasaran zakat.

  1. Kriteria Ashnaf

1. Fuqara (Fakir)

Orang yang tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan hidupannya (primer).

2. Masakin (Miskin)

Orang yang mempunyai harta dan tenaga, tapi tidak mencukupi keperluan hidupnya (primer).

3. ‘Ämiliyn

Orang yang bertugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.

4. Muallaf

a. Orang kafir yang ada harapan masuk Islam.

b. Orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.

5. Riqäb

Orang yang memerdekakan hamba sahaya.

6. Ghärimiyn

Orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan ma’siatan dan tidak sanggup membayarnya.

7. Sabiylilläh

Orang yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Islam (memelihara berlakunya kebenaran, kebaikan, dan keutamaan akhlak).

8. Ibnu Sabiyl

Orang yang kehabisan bekal di tengah perjalanan, walaupun ia orang kaya di negerinya.

  1. Ushlub (Gaya Bahasa) alQur-an

Dalam mengungkap sasaran zakat di atas alQur-an menggunakan ushlub (gaya bahasa) sastra yang tinggi nilainya, yaitu pada ayat di atas terdapat dua huruf yang masing-masing mengiringi empat ashnaf pertama dan empat ashnaf kedua, yakni läm/li dan fiy. Huruf läm mengiringi kalimat:

لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ

alfuqära, almasäkin, al’ämiliyn, dan almuallaf qulubuhum (empat ashnaf pertama). Sedangkan huruf fiy mengiringi kalimat:

وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاِبْنِ السَّبِيلِ

arriqäb, alghärimiyn, sabiylilläh, dan ibnus sabiyl (empat ashnaf kedua).

Penempatan kedua huruf tersebut tentunya bukan suatu kebetulan, tetapi pasti mengandung nuktah (rahasia halus) yang harus dikaji secara mendalam. Dan menurut hemat kami, penempatan kedua huruf tersebut mengandung arti bahwa empat ashnaf yang pertama adalah para pemilik dari zakat tersebut, dalam arti mereka berhak mendapat bagian untuk dirinya sendiri.

Sementara empat ashnaf yang kedua mereka berhak menerima zakat untuk kemaslahatan yang berkaitan erat dengan “acara” mereka. Seperti alghärimun (orang yang berhutang), mereka mendapat bagian dari zakat bukan untuk dimiliki secara pribadi, tetapi untuk diserahkan kepada orang yang menghutangkannya, sehingga mereka terbebas dari hutang itu. Demikian pula dengan fiy sabiylilläh, mereka mendapat bagian dari zakat bukan semata-mata kepentingan pribadinya melainkan tugas dan tanggung jawab dalam mengemban ‘amanah Islam, yaitu untuk memelihara berlakunya kebenaran (alhaq), kebaikan, dan kesempurnaan akhlak. Dengan perkataan lain, untuk menegakkan agama Islam.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa secara garis besar sasaran zakat itu ada dua bagian:

Bagian pertama ialah ashnaf yang terdiri dari mereka yang boleh menerima zakat untuk dirinya sendiri, yaitu alfuqära, almasäkin, al’ämiliyn, dan almuallaf qulubuhum. Sedangkan bagian kedua ialah ashnaf yang terdiri dari orang-orang yang berhak menerima zakat bukan semata-mata kepentingan pribadi melainkan untuk kemaslahatan “acara” mereka, yaitu arriqäb, alghärimiyn, sabiylilläh, dan ibnus sabiyl.

Lebih jauh Imam az Zamakhsyari berpandangan bahwa perpindahan dari “li” pada empat ashnaf pertama kepada “fiy” pada empat ashnaf kedua mengandung rahasia, yaitu untuk memberitahukan bahwa empat golongan kedua ini lebih layak untuk diprioritaskan daripada empat golongan pertama, sebab “fiy” merupakan wadah untuk menampung, yang dengan itu Allӓh mengingatkan bahwa mereka lebih berhak atasnya dan menjadikannya sebagai tempat harapan untuk mewujudkan kemaslahatan kaum muslimiyn secara umum.

Masalah sasaran zakat telah selesai kita bahas. Masih ada masalah yang mesti kita kaji, yaitu wajibkah ‘amil mendistribusikan zakat atau muzakki (wajib zakat) menyerahkan zakat kepada semua ashnaf yang delapan, dan menyamaratakan prosentase zakat yang dibagikan di antara mereka?

Hemat kami, semua harta zakat boleh diberikan kepada sebagian sasaran tertentu saja untuk mewujudkan kemaslahatan yang sesuai dengan syara’. Disamping itu tidak ada kewajiban untuk menyamaratakan pemberian tersebut kepada individu yang diberinya, tapi boleh melebihkan prosentase bagian yang satu dengan yang lainya sesuai dengan kebutuhan, karena kebutuhan itu berbeda antara yang satu dan yang lainya. Adapun landasan syari’atnya adalah sebagai berikut :

1. Dari Hudzayfah, ia berkata, “Apabila engkau memberikan zakat pada satu sasaran saja, maka hal itu cukup bagimu.” (Tafsir athThabari ,VI : 404).

2. Ibnu ‘Abbas berkata, “Apabila engkau memberikan zakat pada satu sasaran dari sasaran zakat, maka hal itu cukup bagimu. sedangkan Firman Allӓh : “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk para faqir……”, maksudnya agar zakat itu jangan diberikan kepada yang selain sasaran tersebut.”

3. Pendapat di atas juga menjadi pegangan ‘Umar bin Khaththab, Sa’iyd bin Jabir, ‘Atha, Abul ‘Aliyyah, dan Ibrähim an-Nakha’i (Tafsir athThabari, Ibid.,)

4. Abu Tsaur berkata, menurut pendapat kami, permasalahan pembagian zakat, tidaklah ada, kecuali berdasarkan ijtihad penguasa, maka mana diantara sasaran itu yang menurut penguasa lebih banyak jumlahnya dan lebih membutuhkan, itulah yang harus diutamakan. Dan mudah-mudahan dari tahun ke tahun zakat itu berpindah dari satu sasaran kepada sasaran lain. Sasaran yang lebih membutuhkan dan lebih banyak jumlahnya, senantiasa harus didahulukan dimanapun mereka berada.” (Fiqh azZakah, Dr. Yusuf alQardhawi, hlm. 667).

5. kebolehan memberikan zakat pada seorang mustahiq dari satu sasaran tidak ada bantahan dan tidak pula termasuk syubhat. Adapun kalimat tu’matan lil masakin yang berkaitan dengan zakat fithrah, atau turadduna ila fuqaraihim yang berkaitan dengan zakat mal, sebagaimana yang diungkapkan oleh hadits Rasul, maka hal itu bukanlah takhshish (pengkhususan), melainkan tanshish (penekanan/prioritas) yang bersifat kondisional.

6. Adapun tentang prosentase Ibnu Qudamah menjelaskan:

وَإِنْ اجْتَمَعَ فِي وَاحِدٍ أَسْبَابٌ تَقْتَضِي الْأَخْذَ بِهَا ، جَازَ أَنْ يُعْطَى بِهَا ، فَالْعَامِلُ الْفَقِيرُ لَهُ أَنْ يَأْخُذَ عِمَالَتَهُ ، فَإِنْ لَمْ تُغْنِهِ فَلَهُ أَنْ يَأْخُذَ مَا يَتِمُّ بِهِ غِنَاهُ ، فَإِنْ كَانَ غَازِيًا فَلَهُ أَخْذُ مَا يَكْفِيه لِغَزْوِهِ ، وَإِنْ كَانَ غَارِمًا أَخَذَ مَا يَقْضِي بِهِ غُرْمَهُ ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَسْبَابِ يَثْبُتُ حُكْمُهُ بِانْفِرَادِهِ ، فَوُجُودِ غَيْرِهِ لَا يَمْنَعُ ثُبُوتَ حُكْمِهِ

Dan jika pada salah satu terkumpul beberapa sebab yang menghendaki (melegitimasi) pengambilan zakat berdasarkan sebab itu, maka ia boleh diberi berdasarkan sebab itu. Misalkan amil yang faqir, ia punya hak mengambil bagian zakatnya. Jika tidak dapat menutupi kefakirannya, ia berhak mengambil pula untuk dapat memenuhi keperluannya itu (sebagai hak faqir). Maka jika dia sebagai prajurit (fiy sabiylillah), ia punya hak mengambil bagian zakat untuk keperluan perangnya. Dan jika dia seorang gharim ia punya hak mengambil bagian zakat untuk melunasi hutangnya. Karena tiap-tiap sebab itu ditetapkan hukumnya berdasarkan sebab masing-masing (bukan karena sama orangnya, tapi karena beda sebabnya). Adanya satu sebab tidak menghalangi tetapnya hukum atas sebab yang lain.” (Lihat, alMughni, V:223)

Adapun hadits yang menyatakan:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Rasulullӓh S.A.W. mewajibkan zakat fithrah sebagai pensuci bagi yang saum dari ucapan sia-sia dan kotor dan sebagai makanan bagi orang miskin.” (H.R. Abu Dӓwud, Sunan Abu Dӓwud, I:585, No. hadits 1609; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:585, No. hadits 1827; adDaraquthni, Sunan adDaraquthni, II:138, No. hadits 1).

Tidak tepat bila digunakan sebagai mukhashshis (dalil yang mengecualian) bahwa zakat fithrah itu dikhususkan bagi mustahiq miskin. Karena ungkapan Thu’matan lil masaakiin(sebagai makanan bagi orang miskin) dalam struktur kalimat di atas fungsinya bukan bayan lit takhsis (keterangan pengkhusus), melainkan bayan lit tanshish (keterangan penegas/prioritas) sesuai dengan situasi dan kondisi mustahiq di suatu daerah tertentu.

Sedangkan hadits yang menyatakan:

أَغْنُوهُمْ عَنْ الطَّوَافِ فِي هَذَا الْيَوْمِ

Cegahlah mereka agar tidak keliling (untuk minta-minta) pada hari ini.” (H.R. Ibnu ‘Addiy dan adDaraquthni)

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, statusnya dha’if. (Lihat, Bulugh Al-Maraam Min Jam’I Adillah Al-Ahkaam, hlm. 131) Karena pada pada sanadnya terdapat rawi Abu Ma’syar Najiih. Kata Imam alBukhariy, “Dia Munkar Al-Hadiits.” (Lihat, Nashb Ar-Raayah Fii Takhriij Ahaadits Al-Hidaayah, IV:364)

  1. Besaran Minimal yang Diwajibkan

Ukuran kewajiban zakat fithrah bagi tiap orang sebanyak shӓ’an (1 shӓ’), sebagaimana diterangkan dalam hadits sebagai berikut:

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ اَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيْرٍ عَلَى اْلعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَىْ وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Rasulullӓh S.A.W. mewajibkan zakat fithrah satu shӓ‘ dari kurma, atau satu haa’ dari sya’iyr (gandum) atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimiyn…” (H.R. alBukhariy, Shahih alBukhariy, II:547, No. hadits 1432)

Perlu diketahui bahwa shӓ’ itu adalah istilah dalam ukuran isi/volume, bukan ukuran berat, seperti halnya liter bukan kilogram. Dan ukuran isi tidak mengalami perubahan walaupun yang ditakarnya berbeda jenis. Misalnya, 1 liter beras Karawang sama isinya dengan 1 liter beras Cianjur. Tapi lain halnya ketika hendak ditetapkan berdasarkan Kg, karena akan mengalami perbedaan tergantung jenis benda yang ditakarnya.

Adapun shӓ’ yang dimaksud di dalam hadits di atas ialah shӓ’ nabawi, yaitu shӓ’ yang berlaku di zaman Nabi S.A.W. Bila dikonversi berdasarkan satuan isi, maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut: 1 shӓ’ = 4 mud = 2770,47 cc = + 3,1 liter. Berdasarkan satuan isi, maka beras apapun yang dikonsumsi oleh muzakki, maka ukuran yang dikeluarkannya akan sama.

Sedangkan bila dikonversi berdasarkan satuan berat jenis, maka hasilnya dapat beragam. Dalam konteks inilah kita dapat memahami apabila para ulama berbeda pendapat tentang ukuran satu shӓ’ sebagai berikut:

Menurut satu pendapat, satu shӓ’ nabawi sebanding dengan 480 mitsqӓl biji gandum yang bagus. Satu mitsqӓl sama dengan 4,25 gram. Sementara 480 mitsqӓl sebanding dengan 2040 gram. Berarti satu shӓ’ sebanding dengan 2040 gram atau 2,04 Kg. (Syarhul Mumti’, juz 6, hlm. 176)

Sedangkan menurut pendapat Syaikh Abdullah alBassam, satu shӓ’ nabawi adalah empat mud. Sementara satu mud setara dengan 625 gram, karena itu satu shӓ’ nabawi sama dengan 3000 gram atau 3 Kg. (Lihat, Tawdhih Al Ahkam Syarah Bulughul Maram, III:178)

Sementara menurut Dr. Wahbah azZuhayli, 1 mud itu sama dengan 675 gram, berarti 1 shӓ’ sama dengan 2751 gram atau 2,75 Kg. (atTafsirul Muniyr, juz 2, hlm. 141).

Berdasarkan ukuran yang telah disebutkan, maka kita bisa memperkirakan bahwa satu shӓ’ berkisar antara 2040 gram (2,04 Kg) hingga 3000 gram (3 Kg).

Berdasarkan satuan berat jenis, maka ukuran zakat yang dikeluarkan oleh muzakki pada hakikatnya tidak boleh sama tergantung jenis beras yang biasa dikonsumsi oleh masing-masing muzakki. Di sinilah terkadang “neraca menjadi miring”, ketika membayar hak orang lain digunakan beras “Raskin” sementara yang dikonsumsi sehari-hari beras “super”, misalnya.

Karena itu, bila ditetapkan 2,5 Kg maka ini menunjukkan berat jenis beras yang rata-rata dikonsumsi oleh mayoritas masyarakat di lingkungan kita.

Demikian pula, apabila dikonversi berdasarkan qiymah (satuan harga) maka disesuaikan dengan harga jenis beras yang bersangkutan. Karena itu, berdasarkan konversi qiymah, besaran zakat fithrah setiap tahun bisa jadi berubah sesuai dengan perubahan harga yang berlaku saat itu.

  1. Apakah Makanan Pokok Menjadi Syarat Sah Zakat Fithrah?

Di dalam hadits-hadits tentang zakat fithrah, kita akan mendapatkan bahwa zakat fithrah itu berupa tha’ӓm (makanan). Adapun hadits-hadits itu sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Ibnu ‘Umar mengatakan, “Rasululläh S.A.W. mewajibkan zakat fithrah satu shä’ dari kurma, atau satu shä’ dari sya’iyr (gandum).” (H.R. alBukhӓriy, Shahiyh alBukhӓriy, II:548, No. hadits 1439)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ عَلَى النَّاسِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasululläh S.A.W. mewajibkan zakat fithrah satu shä’ dari kurma, atau satu shä’ dari sya’iyr (gandum), atas hamba sahaya, orang yang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan dewasa dari kalangan muslimiyn. (H.R. alBukhӓriy, Shahiyh alBukhӓriy, II:548, No. hadits 1439)

Demikian pula praktik para shahabat atas ketentuan itu, sebagaimana dijelaskan oleh Abu Sa’iyd alKhudriy berikut:

كُناَّ نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ

Kami (para shahabat) mengeluarkan zakat firtah di zaman Rasululläh S.A.W. pada (waktu) hari raya fithri (berupa) satu shä’ dari makanan.” (H.R. AlBukhӓriy, Shahih AlBukhӓriy, II:548, No. hadits 1439)

Apabila hadits-hadits di atas dibaca secara mantuq (makna tersurat) dan konsisten tidak akan menerima mafhum (makna tersirat), maka zakat fithrah yang wajib dikeluarkan terbatas jenisnya, yakni kurma dan gandum. Adapun kata At-Tha’aam pada hadits Abu Sa’iyd alKhudriy tidak dapat dimaknai makanan secara umum karena sudah ada bayaan tafshiyl(keterangan terperinci) pada hadits-hadits sebelumnya. Berdasarkan pendekatan mantuqhadits-hadits itu, maka zakat fithrah dengan beras atau jagung tidak sesuai dengan mantuq-nya, kedudukannya sama dengan mengeluarkan dalam bentuk qiymah (harga atau nilai barang).

Namun, benarkah demikian pesan utama Nabi S.A.W., yaitu bahwa zakat fithrah wajib dikeluarkan hanya dalam bentuk kurma dan gandum?

Hemat kami, kalimat min tamrin atau min sya’iyr dalam struktur kalimat di atas fungsinya bukan bayaan lit takhsiysh (keterangan pengkhusus), melainkan bayaan lit tanshiysh (keterangan penegas/prioritas) sesuai dengan situasi dan kondisi mustahiq di suatu daerah tertentu. Hal itu didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ

Dari Ibnu Abas, ia berkata, “Rasululläh S.A.W. mewajibkan zakat fithrah sebagai pensuci bagi yang saum dari ucapan sia-sia dan kotor dan sebagai makanan bagi orang miskin.” (H.R. Abu Dӓwud, Sunan Abu Dӓwud, I:585, No. Hadits 1609; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:585, No. Hadits 1827; adDaraquthni, Sunan adDaraquthni, II:138, No. Hadits 1)

Dari hadits di atas kita dapat memahami bahwa bahwa Rasulullӓh S.A.W. menetapkan zakat fithrah dengan dua jenis makanan (kurma & gandum) karena dua sebab:

Pertama, dilihat dari sisi mustahiq, kedua jenis makanan itu lebih bermanfaat untuk orang miskin waktu itu sebagai thu’matan (makanan mudah saji).

Kedua, dilihat dari sisi muzakki, kedua jenis makanan itu waktu itu lebih mudah didapat atau biasa dimiliki secara umum.

Hal ini tampak semakin jelas didukung oleh data faktual yang menunjukkan bahwa pada praktiknya para shahabat memperluas jenis makanan dari yang disebut oleh Rasul. Ibnu ‘Umar menjelaskan:

كَانَ النَّاسُ يُخْرِجُونَ عَنْ صَدَقَةِ الْفِطْرِ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ تَمْرٍ أَوْ سُلْتٍ أَوْ زَبِيبٍ

Dahulu orang-orang mengeluarkan zakat fithrah di zaman Nabi S.A.W. sebesar satu shä’ sya’iyr (gandum), tamr (kurma), atau sult (sejenis gandum yang berwarna putih tak berkulit) atau zabiyb (anggur kering). (H.R. anNasai, Sunan anNasai, V:53, No. hadits 2516; asSunan alKubra, II:28, No. hadits 2295)

Abu Sa’iyd alKhudriy menjelaskan:

كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ

Kami mengeluarkan zakat fithrah 1 sha makanan atau 1 sha sya’ir (gandum), atau tamr (kurma), atau aqith (susu kering/keju), atau Zabiyb (kismis/anggur kering).” (H.R. alBukhӓriy,Shahiyh alBukhӓriy, II:548, No. hadits 1439)

Dalam redaksi lain

كُنَّا نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ لَا نُخْرِجُ غَيْرَهُ

Kami pernah mengeluarkan zakat fithrah di masa Rasululläh S.A.W. sebesar satu shä’ kurma, satu shä’ gandum atau satu shä’ susu kering. Kami tidak mengeluarkan yang lain.” (H.R. anNasä-i, Sunan anNasä-i, V: 53, No. hadits 2518).

كُنَّا نُخْرِجُ صَدَقَةَ الْفِطْرِ إِذْ كَانَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ فَلَمْ نَزَلْ كَذَلِكَ حَتَّى قَدِمَ مُعَاوِيَةُ مِنْ الشَّامِ وَكَانَ فِيمَا عَلَّمَ النَّاسَ أَنَّهُ قَالَ مَا أَرَى مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ إِلَّا تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ هَذَا قَالَ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ

Kami mengeluarkan zakat fithrah ketika Rasululläh S.A.W. masih ada di antara kami sebesar satu shä’ makanan, satu shä’ gandum atau satu shä’ susu kering. Kami terus melaksanakan seperti itu hingga Mu’awiyyah datang dari Syam. Dan di antara yang ia ajarkan ke[ada orang-orang adalah Ia berkata, ‘Kami tidak melihat dua mud gandum Syam kecuali setara dengan satu shä’ dari ini’.” (H.R. anNasä-i, Sunan anNasä-i, V:51, No. hadits 2513; asSunan alKubra, II:27, No. hadits 2292).

Mengapa jenis makanannya diperluas? Kata Abu Sa’yd:

كَانَ طَعَامَنَا الشَّعِيرُ وَالزَّبِيبُ وَالْأَقِطُ وَالتَّمْرُ

Sya’iyr (gandum), Zabiyb (kismis/anggur kering), aqith (susu beku/keju), dan tamr (kurma) adalah makanan kami.” (H.R. alBukhӓriy, Shahiyh alBukhӓriy, II:548, No. hadits 1439)

Keterangan Abu Sa’yd di atas menunjukkan bahwa:

(1) para shahabat memahami hadits Nabi tentang zakat fithrah itu tidak secara mantuq (makna tersurat), namun secara mafhum (makna tersirat),

(2) yakni para shahabat memahami hadits itu bukan sebagai takhsis (pengkhususan), hal itu terbukti dengan diperluas jenis makanannya,

(3) Secara ekonomi, jenis pangan yang dimiliki oleh publik zaman shahabat sudah lebih berkembang daripada zaman Nabi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang menjadi pokok kewajiban zakat fithrah itu bukan “barangnya” melainkan “nilainya”, yaitu 1 shӓ’ atau yang senilai shӓ’ dalam ukuran isi (liter), berat (Kg), dan harga (Rp atau mata uang lainnya). Konversi nilai itu pernah dilakukakan oleh Mu’awiyah sebagaimana diterangkan dalam hadits sebagai berikut:

قَالَ إِنِّي أَرَى أَنَّ مُدَّيْنِ مِنْ سَمْرَاءِ الشَّامِ تَعْدِلُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ فَأَخَذَ النَّاسُ بِذَلِكَ

Ia berkata, “Saya memandang bahwa 2 mud gandum Syam senilai dengan 1 shä’ kurma.” Maka orang-orang mengambil konversi itu. (H.R. Muslim, Shahiyh Muslim, II:678, No. hadits 985; Abu Dӓwud, Sunan Abu Dӓwud, II:113, No. hadits 1616; alBayhaqiy, asSunan alKubra, IV:165, No. hadits 7490)

Karena itu, para tabi’in sebagai murid shahabat Nabi S.A.W., seperti ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziyz, alHasan alBishri, dan Atha’ telah menetapkan zakat fithrah oleh harga/uang (dirham). Waktu itu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziyz menetapkan nilai 1 shӓ’ = ½ dirham. (lihat, Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, II:398)

  1. Waktu Membagikan Zakat Fithrah

Zakat fithrah adalah ibadah yang muqayyad dan mudhayyaq, yaitu terikat waktu dan juga terbatas waktunya. Karena itu membagikan zakat fithrah harus tepat pada waktunya. Kapan waktu yang tertentu dan terbatas itu? Abu Sa’yd alKhudriy berkata:

كُناَّ نُخْرِجُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ

Kami (para shahabat) mengeluarkan zakat fithrah di zaman Rasululläh S.A.W. pada (waktu) hari raya fithri (berupa) satu shä’ dari makanan.” (H.R. alBukhӓriy, Shahiyh alBukhӓriy, II:548, No. hadits 1439).

Keterangan Abu Sa’yd di atas menjadi petunjuk bahwa para shahabat Rasulullӓh S.A.W. membagikan zakat fithrah kepada para mustahiq di zaman Rasulullӓh adalah pada yawmal fithri (siang hari raya fithri), bukan pada malam hari.

Perbuatan para shahabat di atas merupakan pengamalan terhadap instruksi Rasulullӓh, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu ‘Umar :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِزَكَاةِ الفِطْرِ قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلىَ الصَّلاَةِ

Rasululläh S.A.W. memerintahkan agar mengeluarkan zakat fithrah sebelum orang keluar (pergi) ke shalät (hari raya).” (H.R. alBukhӓriy, Shahiyh alBukhӓriy, II:679, No. hadits 1438)

Hadits ini menunjukkan bahwa ketentuan waktu membagikan zakat fithrah kepada para mustahiq adalah pada yawmal fithri (siang hari raya fithri), bukan pada malam hari

Dalam riwayat lainnya dengan redaksi:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

Bahwa Rasulullӓh S.A.W. memerintahkan agar membayar zakat fithrah sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalät ‘iyd.” (H.R. Muslim, Shahiyh Muslim, II: 679, No. hadits 986; Ahmad, Musnad Ahmad, II:67, No. hadits 5345; II: 154, No. hadits 6429; anNasä-i, asSunan alKubra, II:30, No. hadits 2300; Abu Dӓwud, Sunan Abu Dӓwud, II:111, No. 1610; Ibnu Khuzaymah, Shahiyh Ibnu Khuzaymah, IV: 91, No. 2422; alBayhaqiy, asSunan alKubra, IV: 174, No. hadits 7526; Abd bin Humayd, Musnad Abd bin Humayd, I:249, No. 780; Ibnul Jarud, alMuntaqä, I:98, No. hadits 359)

Dalam riwayat lain dengan menggunakan kalimat:

أَمَرَ بِإِخْرَاجِ زَكَاةِ الْفِطْرِ

memerintahkan agar mengeluarkan zakat fithrah” (H.R. Ibnu Khuzaymah, Shahih Ibnu Khuzaymah, IV: 90, No. 2421; Ad-Daraquthni, Sunan Ad-Daraquthni, II:152, No. hadits 66)

Selain itu, menggunakan pula kalimat shadaqah al-Fithri:

أَمَرَ بِصَدَقَةِ الْفِطْرِ

Memerintahkan agar mengeluarkan shadaqah fithri” (H.R. anNasä-i, Sunan anNasä-i, V:54, No. 2521; Ibnu Khuzaymah, Shahiyh Ibnu Khuzaymah, IV:91, No. hadits 2423)

Sedangkan dalam riwayat Ad-Daraquthni dengan kalimat amara bihaa (Sunan Ad-Daraquthni, II:153, No. hadits 69)

Sedangkan di dalam riwayat atTirmidzi digunakan redaksi sebagai berikut :

كَانَ يَأْمُرُ بِإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ قَبْلَ الْغُدُوِّ لِلصَّلَاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ

Sesungguhnya Rasulullӓh S.A.W. memerintah untuk mengeluarkan zakat (fithrah) pada hari fithri sebelum pergi shalät (hari raya)“. (H.R. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:62, No. hadits 677)

Keterangan Ibnu ‘Umar diatas—dengan berbagai bentuk redaksi—menunjukkan dengan jelas makna yawmal fithri yang dimaksud, yakni bukan malam hari dan bukan pula sepanjang hari raya, tapi sebagiannya saja, yaitu sejak terbit fajar hingga selesai shalӓt hari raya (‘iyd) setempat.

Sehubungan dengan itu, Ibnu Tin menyatakan sebagai berikut :

قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلىَ الصَّلاَةِ أَيْ قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى صَلاَةِ الْعِيْدِ وَبَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ

(maksud) sebelum orang keluar (pergi) ke shalät (hari raya) ialah sebelum orang keluar untuk shalät ‘Iydul Fithri dan setelah shalät shubuh.” (Lihat, Fathul Bari’, III : 439)

Kemudian Ikrimah menegaskan pula, “Seseorang mendahulukan zakatnya pada “hari raya fithri” di hadapan shalӓtnya, karena Allӓh telah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Sungguh beruntung orang yang membersihkan (berzakat) dan mengingat Tuhannya, kemudian ia shalät.” (Lihat, Fathul Bari, III : 439)

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, maka ketentuan waktu untuk menyampaikan zakat fithrah kepada para mustahiq itu adalah dimulai sejak fajar hari raya fithri sampai selesai shalӓt ‘iyd setempat. Hal itu bukan hanya di contohkan saja, melainkan diperintahkan, yang kemudian senantiasa dipraktekkan oleh para shahabat, baik pada zaman Rasulullӓh maupun sesudahnya. Ketentuan ini berlaku, baik bagi perorangan ataupun kelembagaan (jami’ zakat).

Ada sementara pihak yang berpendapat bahwa mengeluarkan zakat fithrah boleh dilakukan pada malam hari setelah maghrib sebelum shubuh di hari fithri, bahkan sehari atau dua hari sebelum hari raya. Pendapat itu didasarkan riwayat sebagai berikut:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

“Dan Ibnu ‘Umar menyerahkan zakat fithrah kepada mereka yang menerimannya, dan mereka menyerahkannya sehari atau dua hari sebelum hari raya.” (H.R. alBukhӓriy, Shahih alBukhӓriy, II: 549, No. hadits 1440)

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُؤَدِّيهَا قَبْلَ ذَلِكَ بِالْيَوْمِ وَالْيَوْمَيْنِ

Ibnu ‘Umar menunaikannya sehari atau dua hari sebelum itu.” (H.R. Abu Dӓwud, Sunan Abu Dӓwud, II: 11, No. 1610).

وَأَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يُؤَدِّي قَبْلَ ذَلِكَ بِيَوْمٍ وَيَوْمَيْنِ

Dan bahwa Abdullah bin ‘Umar menunaikannya sehari atau dua hari sebelum itu.” (H.R. Ibnu Khuzaymah, Shahyih Ibnu Khuzaymah, IV: 90, No. 2421)

وَأَنَّ عَبْدَ اللَّهِ كَانَ يُؤَدِّيهَا قَبْلَ ذَلِكَ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Dan bahwa Abdullah menunaikannya sehari atau dua hari sebelum itu.” (H.R. alBayhaqiy, asSunan alKubra, IV: 174, No. 7527; Ibnu Hibban, Shahiyh Ibnu Hibban, VIII: 94, No. hadits 3299)

Hemat kami, riwayat ini tidak dapat dijadikan dalil tentang kebolehan mengeluarkan zakat fithrah pada malam hari setelah maghrib sebelum shubuh di hari fithri, apalagi sehari atau dua hari sebelum hari raya, dengan pertimbangan: riwayat ini belum menerangkan secara jelas, kepada siapa zakat itu diserahkan, apakah membagikan langsung kepada mustahiq atau menitipkannya kepada ‘amil?

Berdasarkan riwayat-riwayat lain, maka dapat dipastikan bahwa Ibnu ‘Umar menyerahkan zakat sehari atau dua hari sebelum hari raya itu bukan membagikannya kepada mustahiq, namun menitipkannya kepada ‘amil. Adapun riwayat itu sebagai berikut :

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَبْعَثُ بِزَكَاةِ الْفِطْرِ إِلَى الَّذِي تُجْمَعُ عِنْدَهُ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ

Dari Nӓfi’, sesungguhnya Ibnu ‘Umar mengirimkan zakat fithrahnya kepada orang yang mengumpulkan zakat (jami’ zakat) dua hari atau tiga hari sebelum ‘iydul fithri. (H.R. Mӓlik, alMuwatha’, I:285; No. 629; asySyӓfi’i, Musnad asySyӓfi’I, I:230; alBayhaqiy, asSunan alKubra, IV: 112, No. 7161)

Bahkan lebih di tegaskan lagi di dalam riwayat Ibnu Khuzaymah, melalui jalan Abu Harits, dari Ayyub, ia berkata:

قُلْتُ : مَتَى كَانَ ابْنُ عُمَرَ يُعْطِي الصَّاعَ ؟ قَالَ : إِذَا قَعَدَ الْعَامِلُ ، قُلْتُ : مَتَى كَانَ الْعَامِلُ يَقْعُدُ ؟ قَالَ : قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ

Aku bertanya (kepada Nafi), ‘Kapan Ibnu ‘Umar menyerahkan zakat fithrah sebesar 1 shӓ‘?’ Ia (Nafi) menjawab, ‘Apabila amil zakat telah ada (dibentuk).’ Aku bertanya lagi, ‘Kapan amil itu di bentuk?’ Ia menjawab, ‘Satu hari atau dua hari lagi menjelang idul fithri’.” (H.R. Ibnu Khuzaymah, Shahiyh Ibnu Khuzaymah, IV:82, No. hadits 2397)

Oleh karena itu, Abu Abdullah (Imam AlBukhӓriy) menegaskan dalam naskah asShaghani bahwa “mereka memberikan zakat fithrah (sebelum hari raya) lil jam’i (untuk dikumpulkan) lӓ lil fuqaaraa` (bukan kepada fakir-miskin).” (Fathul Bari, III : 440-441)

Berdasarkan keterangan diatas, maka sehari, dua hari, atau tiga hari sebelum hari raya itu bukan waktu untuk membagikan kepada para mustahiq, tapi kepada jami zakat sebagai amanat untuk di bagikan kepada para mustahiq, nanti pada waktunya. Hal ini sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Abu Sa’iyd beserta para shahabat lainnya.

Dengan demikian, maka dapat kita simpulkan bahwa ketentuan waktu mengeluarkan zakat fithrah – setelah shalӓt subuh hingga selesai shalӓt ‘iyd setempat – adalah ketentuan yang berlaku secara umum, tidak dibatasi oleh sebab keadaan situasi dan kondisi suatu daerah tertentu.

Renungan: Ketentuan Waktu Tidak Membatasi Teknis Operasional

Timbul permasalahan, apakah ketetapan ini berkaitan dengan suatu ‘illah (alasan, sebab) tertentu? Sehubungan dengan itu Syekh alQardhawi menyatakan, “hadits yang menerangkan waktu pembagian zakat fithrah itu bersifat temporer atau situasional, artinya ketentuan tersebut hanya berlaku bagi anggota masyarakat di masa itu, mengingat sedikitnya jumlah anggota masyarakat di masa itu, sementara mereka saling mengenal satu sama lain, dan karena itu pula dengan mudah dapat mengetahui siapa-siapa yang memerlukan zakat fithrah tersebut. Jadi, tidak ada problem apapun yang berkaitan dengan sempitnya waktu untuk itu.” (lihat, Bagaimana Memahami Hadits Nabi, 1993 : 144)

Dalam hal ini, kami tidak sependapat dengan pemikiran Syekh alQardhawi di atas mengingat tidak adanya dalil dari seorang shahabat pun, setelah Rasulullӓh S.A.W. wafat, yang menetapkan perubahan waktu tersebut (setelah shubuh), sekalipun situasi dan kondisinya telah berubah. Karena kita memaklumi bahwa di masa shahabat, lingkup masyarakat kian meluas, tempat-tempat kediaman makin berjauhan dengan penghuni yang makin banyak. Situasi dan kondisi masyarakat yang seperti ini tidak di jadikan sebab atau alasan oleh mereka untuk mengubah ketentuan waktu mengeluarkan zakat fithrah yang telah di gariskan oleh Rasulullӓh S.A.W., tapi justru keadaan ini menjadi pendorong bagi mereka untuk mengatur langkah serta menyusun strategi yang sedemikian rupa sehingga zakat fithrah yang diamanatkan itu dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan pengetahuan mendalam para shahabat akan hikmah ajaran agama, maka instruksi Rasulullӓh dalam masalah ini tidak hanya dipahami sebagai syarat maqbul (diterima) dan tidaknya zakat tersebut, tapi lebih jauh dari itu mereka pun menangkap isyarat dari perintah tersebut tentang teknis pelaksanaan agar diperhatikan dan dipikirkan secara matang, sehingga dalam waktu yang sudah ditentukan zakat fithrah tersebut dapat ditunaikan.

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para shahabat di zaman Ibnu ‘Umar berdasarkan riwayat di atas, mereka (para amil) dibentuk atau mulai melaksanakan tugasnya adalah dua atau tiga hari sebelum hari raya. Berarti waktu sebanyak itu dianggap cukup atau memungkinkan bagi mereka untuk bekerja, yaitu mengurus, menagih, dan membagikan zakat kepada para mustahiq sesuai dengan lingkup teritorial ketika itu.

Berdasarkan petunjuk diatas, maka jelaslah bagi kita bahwa para shahabat tidak mengkondisikan hukum syara’ (ketentuan waktu) sesuai dengan keadaan ruang lingkup masyarakat, tetapi mereka lebih menitik-beratkan perhatiannya pada pengefektifan fungsi serta tugas ‘amilin agar zakat fithrah tersebut dapat diterima oleh para mustahiq dalam lingkup masyarakat yang kian meluas, sesuai dengan ketentuan waktu yang telah digariskan oleh Rasulullӓh S.A.W. Wallähu A’lam.

Amin Saefullah Muchtar

Materi ini bisa didownload di sini dengan format pdf.

DIARI POSISI MATAHARI & BULAN, RAMADHAN 1435 H

Latar Belakang Perbedaan Pelaksanaan Waktu Shawm di Indonesia

Zaid Nasrullah rbiruni@gmail.com

و القمر قدرنه منازل حتى عاد كالعرجون القديم

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi Bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. {Q.S. Yäsîn (36): 39}.

    Pajagalan, menjadi tempat observer untuk menganalisa posisi ketiga makhluk kosmos – khususnya Bulan dalam menentukan kapan Bulan baru atau yang disebut dengan hiläl bisa diamati atau tidaknya yang kemudian menjadi dasar hukum kapan shawm dimulai. Mathla’ ini lebih tepatnya berada di komplek Pesantren Persatuan Islam 1 & 2 Bandung berkoordinat longitude 107o 36′ 1,47″ BT sementara latitude 06o 55′ 23,16″ LS dengan elevasi 703 m di atas permukaan air laut. Secara resmi, ada lebih dari 20 Pos Observasi Bulan (POB) titik pengamatan yang tersebar di Indonesia yang bekerja sama dengan KOMINFO sehingga bisa diakses secara streaming di antaranya; Obs. Bosscha, Pangandaran, Bangkalan, Padang, Anyer, Pameungpeuk, Mataram, Manado, Surakarta, Jepara, Bagansiapiapi, Medan, Denpasar, Rembang, Yogyakarta, Ambon, Pelabuhan Ratu, Lhoknga, Kupang, Lampung, Pontianak, Makassar.


Sunnatulläh yang menjadi dasar penetapan kapan dimulai awal penanggalan adalah konjungsi atau ijtima’ yang berimbas pada hiläl itu sendiri – secara geosentrik (pengamat diandaikan di pusat Bumi) terjadi pada Jum’at, 27 Juni 2014 pukul 15:08:26 WIB saat ketinggian Bulan di permukaan Bumi sebesar 34o 28′ 20″ di atas ufuq dengan nilai azimuth 298o 37′ 30″ artinya posisi Bulan berada di serong kanan dari titik Barat sedangkan Matahari berada di atas ufuq 33o 25′ 46″ dengan azimuth 303o 54′ 40″ sehingga selisih ketinggian dan azimuthnya sebesar 1o 2′ 34″ dan 5o 17′ 10″, hal ini bisa dicoba meru-yat sore hari dengan catatan kondisi cuaca sangat cerah disertai kelembaban yang sangat rendah seperti di Nusa Tenggara Timur. Supaya lebih presisi, maka harus diubah ke toposentrik (pengamat berada di permukaan Bumi) maka waktu peristiwa ijtima’ pun berubah menjadi 17:02:44 WIB posisi Bulan berada diketinggian 9o 16′ 13 dengan azimuth 290o 18′ 21″ sedangkan Matahari berada pada 8o 34′ 49″ di atas ufuq dan 294o 55′ 43″ yang dihitung 0o di arah Utara sejati sehingga selisihnya 0o 41′ 24″ dan 4o 37′ 22″, tentu akan sangat sulit untuk memotret citra hiläl karena awan yang berkumpul di ufuq.

Terlepas dari ru-yat di siang hari, Rasululläh memerintahkan para shahabat meru-yat walaupun secara pribadi belum menemukan dalil yang secara tegas pada waktu maghrib sesaat setelah Matahari terbenam, akan tetapi sunnah fi’liyah para shahabat Nabi dilakukan pada saat setelah Matahari terbenam tentu mendapatkan persetujuan Nabi sendiri di samping kalimat hiläl memiliki pengertian yang disepakati oleh ahli bahasa.

  • Secara etimologi

Penyebutan Hilal dalam bahasa Arab memiliki arti asal yaitu;

هلّ و أهلّ الهلال

Tampak, terlihat. (Kamus al-Munawwir: 1514).

(الهلال و هو فى الأصل البياض (الفائق فى غريب الحديث و الأثر ١:٤٩١

Hilal itu makna asalnya adalah putih. (al-Fӓiq 1: 491).

(الهلال البياض الذي يظهر فى أصول الأظفار (لسان الأرب ١١: ۷۰١

Hilal adalah warna putih yang tampak pada pangkal kuku. (Lisӓnul Arab 11: 701)

(الهلال غرة القمر حين يهله الناس فى غرة الشهر (لسان الأرب ١١: ۷۰١

Hilal adalah cahaya Bulan ketika orang-orang meneriakinya pada waktu awal bulan. (Lisӓnul Arab 11: 701)

  • Secara Terminologi

Berdasarkan istilah para ahli, Hilal didefinisikan sebagai;

{قال الراغب: الهلال القمر فى أول ليلة و الثانية {المفردات فى غريب القرآن ١٨٩

Ar-Räghib berkata, “Hilal adalah Bulan pada permulaan malam dan malam ke dua.

عند أهل الهيئة: ما يرى من القمر أول ليلة

Para ahli yang lain mengatakan, “Apa yang dilihat dari Bulan pada awal malam.

{قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين: القمر حين يبدو أول الشهر إلى ثلاث ليال {الألمام ببعض أيات الأحكام ٢٩

Syaikh al-‘Utsaymiyn berpendapat, “Ketika Bulan muncul pada awal bulan sampai tiga malam.

Artinya, hiläl yang dipotret sebelum Matahari terbenam bukan hiläl yang bisa dijadikan dasar hukum sekalipun dipotret setelah konjungsi menurut pengertian dari para ahli bahasa.

Umur hiläl dari mulai ijtima’ hingga Matahari terbenam berusia 2 jam 39 menit 51 detik berdasarkan konjungsi geosentrik sedangkan 45 menit 33 detik jika dihitung secara toposentrik saat piringan Matahari benar-benar hilang yang meninggalkan hamburan cahaya senja pada pukul 17:48:17 WIB. Altitude atau ketinggian hiläl sebesar 0o 41′ 43″ dengan selisih azimuth 4o 39′ 01″ di mana hiläl berada di sebelah kiri Matahari dengan sudut elongasi sebesar 4o 42′ sehingga jeda waktu kesempatan meru-yat hiläl pun sangat singkat – sesingkat 2 menit 59 detik sehingga tidak mungkin untuk diamati karena kurang dari kriteria secara astronomis sebagaimana garis penanggalan yang dikenalkan oleh Odeh dengan mengusungkan kriteria yang lebih tinggi dari pemerintah yang dikenal kriteria LAPAN dengan bentuk persamaan: aD ≥ 0,14 aL2 – 1,83 aL + 9,11 (secara toposentrik dan airless di mana kondisi atmosfer diasumsikan tidak ada), artinya posisi Matahari dan Bulan tidak melebihi batas bawah kriteria aD > 4o sedangkan aL > 6,8o untuk bisa diamati oleh “mata”.

Keesokkan hari saat Matahari terbenam pada Sabtu, 28 Juni 2014 pukul 17:48:31 WIB posisi hiläl tentu menjadi lebih tinggi dengan altitude 11o 46′ 16″ dan selisih azimuth 4o 13′ 05″ sehingga sudut elongasinya adalah 12o 29′ 53″ hingga hiläl benar-benar terbenam pada pukul 18:39:56 WIB sehingga kesempatan untuk meru-yat cukup lama selama 51 menit 25 detik (Moon Lag Time), adapun waktu terbaik untuk meru-yat pada pukul 18:11:22 WIB {Best Time = Sunset + 4/9 (Moon Lag Time)}. Jika kita totalkan umur hiläl dari sejak konjungsi berumur 24 jam 45 menit 47 detik berimbas pada illuminasi Bulan sebesar 1,19% seperti pada gambar di samping dengan lebar tanduk hiläl mencapai 21 detik busur dengan skala kecerahan (magnitude semu) -5,23 di mana nilai minus menandakan semakin terang pada skala magnitude semu seperti Matahari memiliki nilai -26,73.

Berdasarkan pemetaan pada garis penanggalan internasional mengalami perubahan khususnya di Bandung yang diarsir berwarna hijau, artinya bisa dilihat dengan mudah menggunakan mata telanjang.

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, ijtima’ terjadi pada hari jum’at sebelum Matahari terbenam sehingga Muhammadiyyah melaksanakan ‘ibadah shawm pada hari Sabtu, 28 Juni 2014 karena sudah wujud (ada). Sedangkan NU, Pemerintah RI, dan PERSIS akan melaksanakan ‘ibadah shawm pada Ahad, 29 Juni 2014 karena atas pertimbangan gumma (terhalang) sehingga digenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari karena tidak mungkin bisa diamati pada saat ijtima’ sesaat setelah Matahari terbenam, baru bisa diamati pada tanggal 28 Juni saat hiläl istikmal. Di sisi lain, kemungkinan Tarekat Naqshabandiyyah akan melaksanakan ‘ibadah shawm pada tanggal 26 Juni, sementara Jama’ah anNadzir diperkirakan pada tanggal 27 Juni.

Kami dari komunitas astronomi yang tergabung dari tim MATHLA Astro Club dan AstroFun Club 107o 37′ in syã-alläh berencana melakukan pengamatan di Yayasan Lajnah Falakiyyah alHusiniyah Cakung, Jakarta Timur dengan salah satu anggotanya adalah penulis sendiri yang merangkap dan aktif di dua komunitas tersebut bersama Usman Burhanuddin, Agus Saliem, Markaz, Hendi Santika, Munadi, dan Andri dari MATHLA Astro Club yang selama setahun ini kami sudah meru-yat di Pelabuhanratu (POB Cibeas) dan Ciemas serta puncak Darma.

والله أعلم

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

Uchuu Kyoudai

<p style=”text-align: center;”><span style=”font-family: DecoType Naskh Swashes;”><span style=”font-size: 14pt;”>بسم الله الرحمن الرحيم</span></span></p>
<a href=”https://zaidnasrullah.files.wordpress.com/2013/12/download.jpg”><img class=”size-full wp-image-730 alignright” alt=”Uchuu Kyoudai” src=”https://zaidnasrullah.files.wordpress.com/2013/12/download.jpg&#8221; width=”183″ height=”275″ /></a>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: Times New Roman;”>Siapa yang tidak mengalami kesulitan coba mencari anime berbau astro?!</span></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: Times New Roman;”>Hmmm…</span></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: Times New Roman;”>Sulit rasanya mencari anime yang satu ini, dari sekian anime yang bertebaran di dunia maya tapi setelah berselancar ke sana ke mari akhirnya ketemu juga animenya, baru anime ini yang berhubungan erat dengan pengenalan atau edukasi pelatihan untuk jadi seorang antariksawan atau orang Rusia bilang Kosmonot dengan kata lain Amerika menyebutnya Astronot yang notabenenya kita sebagai warga masyarakat biasa yang ingin tau pelatihan maupun kehidupan di NASA bagaimana seperti saya.</span></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: Times New Roman;”> #Kepo sedikit tidak apa-apa…
</span></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: Times New Roman;”>Hhe
:-3</span></p>
<p style=”text-align: center;”><a href=”https://zaidnasrullah.files.wordpress.com/2013/08/uchuu-kyoudai.jpg”><img class=”size-medium wp-image-727 aligncenter” alt=”Uchuu Kyoudai” src=”https://zaidnasrullah.files.wordpress.com/2013/08/uchuu-kyoudai.jpg?w=300&#8243; width=”300″ height=”168″ /></a></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: Times New Roman;”>Anime kali ini menceritakan dua orang bersaudara yang bercita-cita ingin pergi ke luar angkasa menjadi seorang astronot. Motivasi ini timbul sesaat ke dua bersaudara ini melihat UFO yang kemudian menghilang ke Bulan. Maka timbul rasa ingin pergi ke luar angkasa yang di mulai oleh Nanba Hibito sang adik berkata ingin ke Bulan kemudian sang kakaknya tidak mau kalah dari adiknya “Aku akan pergi ke Mars” cetusnya ke luar dari mulut Nanba Mutta.
Tanpa basa-basi lagi langsung diunduh saja…
</span></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ‘Times New Roman’;”><!–moreBaca Selengkapnya–></span></p>
<p style=”text-align: justify;”><span style=”font-family: ‘Times New Roman’; color: #ff0000; font-weight: bold;”>Cara mendownloadnya, klik link “Episode 01” dst di sebelah kanan ada tulisan “DOWNLOAD” dan di bawahnya hilangkan dulu ceklisnya baru di klik “DOWNLOAD”nya.</span></p>

<ol>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/d7b5j8pd7h7x&#8221; target=”_blank”>Episode 01</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/0fnijjged63z&#8221; target=”_blank”>Episode 02</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/har2fk2ib9nh&#8221; target=”_blank”>Episode 03</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/mj3zijkvw9om&#8221; target=”_blank”>Episode 04</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/wx50sb1e0lwh&#8221; target=”_blank”>Episode 05</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/49m9rxkzdo70&#8243; target=”_blank”>Episode 06</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/wf02xn4udi9r&#8221; target=”_blank”>Episode 07</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/87rj9hiox0ia&#8221; target=”_blank”>Episode 08</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/9txtgl9pfcr3&#8243; target=”_blank”>Episode 09</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/hr1eqtriltwd&#8221; target=”_blank”>Episode 10</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/5ehn9lh2syg1&#8243; target=”_blank”>Episode 11</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/o8syvvi3ruo4&#8243; target=”_blank”>Episode 12</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/dz58ytkhoxii&#8221; target=”_blank”>Episode 13</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/ueha5tg2z9zp&#8221; target=”_blank”>Episode 14</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/4xv04crz8hd9&#8243; target=”_blank”>Episode 15</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/b1py1eagmkzz&#8221; target=”_blank”>Episode 16</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/wxokogoepkzx&#8221; target=”_blank”>Episode 17</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/mncyg8dhj8rp&#8221; target=”_blank”>Episode 18</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/chdbfrimyocb&#8221; target=”_blank”>Episode 19</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/cstrp49u9irm&#8221; target=”_blank”>Episode 20</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/rymg5n89psjw&#8221; target=”_blank”>Episode 21</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/etcandp7pjor&#8221; target=”_blank”>Episode 22</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/ybu9mtg0s2z5&#8243; target=”_blank”>Episode 23</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/d0h56cvrfsv1&#8243; target=”_blank”>Episode 24</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/thtwbgptif56&#8243; target=”_blank”>Episode 25</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/2ljnxnnpp7a7&#8243; target=”_blank”>Episode 26</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/dsxywj0jaj7y&#8221; target=”_blank”>Episode 27</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/omna4ym5qeil&#8221; target=”_blank”>Episode 28</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/2br8g3y9ajp5&#8243; target=”_blank”>Episode 29</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/htr6ggbhr8ev&#8221; target=”_blank”>Episode 30</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/x08tpd16ayeq&#8221; target=”_blank”>Episode 31</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/frmghtz2r7c3&#8243; target=”_blank”>Episode 32</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/wxph4y18ckt8&#8243; target=”_blank”>Episode 33</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/5tb6esd88rcx&#8221; target=”_blank”>Episode 34</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/3mz4x3jlamgd&#8221; target=”_blank”>Episode 35</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/9a2gkwgaim9r&#8221; target=”_blank”>Episode 36</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/k1d9nljuamxe&#8221; target=”_blank”>Episode 37</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/x9yh9nt0coar&#8221; target=”_blank”>Episode 38</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/kt2x17k2yx4t&#8221; target=”_blank”>Episode 39</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/9hg6kz4l0qo2&#8243; target=”_blank”>Episode 40</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/8tn842e161ru&#8221; target=”_blank”>Episode 41</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/ydrzb189kp00&#8243; target=”_blank”>Episode 42</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/vy7kbntssnii&#8221; target=”_blank”>Episode 43</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/12z5wmbcappx&#8221; target=”_blank”>Episode 44</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/yxo0do6hw53w&#8221; target=”_blank”>Episode 45</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/3xyxeiythlki&#8221; target=”_blank”>Episode 46</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/yhpjtqv3jsi5&#8243; target=”_blank”>Episode 47</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/53tugpgker17&#8243; target=”_blank”>Episode 48</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/zkipiwcoy71f&#8221; target=”_blank”>Episode 49</a> Anime Kompi</li>
<li><a title=”Download” href=”http://www.sharebeast.com/j4rg6b9e5mxq&#8221; target=”_blank”>Episode 50</a> Anime Kompi</li>
<li>Episode 51 Anime Kompi</li>
<li>Episode 52 Anime Kompi</li>
<li>Episode 53 Anime Kompi</li>
<li>Episode 54 Anime Kompi</li>
<li>Episode 55 Anime Kompi</li>
<li>Episode 56 Anime Kompi</li>
<li>Episode 57 Anime Kompi</li>
<li>Episode 58 Anime Kompi</li>
<li>Episode 59 Anime Kompi</li>
<li>Episode 60 Anime Kompi</li>
<li>Episode 61 Anime Kompi</li>
<li>Episode 62 Anime Kompi</li>
<li>Episode 63 Anime Kompi</li>
<li>Episode 64 Anime Kompi</li>
<li>Episode 65 Anime Kompi</li>
<li>Episode 66 Anime Kompi</li>
<li>Episode 67 Anime Kompi</li>
<li>Episode 68 Anime Kompi</li>
<li>Episode 69 Anime Kompi</li>
<li>Episode 70 Anime Kompi</li>
<li>Episode 71 Anime Kompi</li>
<li>Episode 72 Anime Kompi</li>
<li>Episode 73 Anime Kompi</li>
<li>Episode 74 Anime Kompi</li>
<li>Episode 75 Anime Kompi</li>
<li>Episode 76 Anime Kompi</li>
<li>Episode 77 Anime Kompi</li>
<li>Episode 78 Anime Kompi</li>
<li>Episode 79 Anime Kompi</li>
<li>Episode 80 Anime Kompi</li>
<li>Episode 81 Anime Kompi</li>
<li>Episode 82 Anime Kompi</li>
<li>Episode 83 Anime Kompi</li>
<li>Episode 84 Anime Kompi</li>
<li>Episode 85 Anime Kompi</li>
<li>Episode 86 Anime Kompi</li>
<li>Episode 87 Anime Kompi</li>
<li>Episode 88 Anime Kompi</li>
<li>Episode 89 Anime Kompi</li>
<li>Episode 90 Anime Kompi</li>
</ol>

Diari Posisi Bulan & Matahari, Syawwal 1434 H

Latar Belakang Berhari Raya Fithri Sama

بسم الله الرحمن الرحيم

و القمر قدرنـــه منازل حتى عاد كالعرجون القديم. لاالشمس ينبغي لهآ أن تدرك القمر ولاالليل سابق النهار وكل فى فلك يسبحون.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaranyang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (39) tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.{Q.S. Yasin: 39-40}.

Tentu, mathla’ atau observer tempat pengamatan sudah menjadi suatu inputan data yang sangat penting saat akan menghitung posisi Matahari dan Bulan. Sebenarnya ada lebih dari 20 pos titik pengamatan yang tersebar di Indonesia, di antaranya; Obs. Bosscha, Pangandaran, Bangkalan, Padang, Anyer, Pameungpeuk, Mataram, Manado, Surakarta, Jepara, Bagansiapiapi, Medan, Denpasar, Rembang, Yogyakarta, Ambon, Pelabuhan Ratu, Lhoknga, Kupang, Lampung, Pontianak, Makassar. Dari 20 lebih tempat pos pengamatan – Pajagalan, Bandung menjadi titik pengamatan tambahan yang berada di komplek Pesantren Persatuan Islam 1-2 memiliki koordinat longitude
107o 36′ 1,47″ T sementara latitude 06o 55′ 23,16″ S dengan elevasi 703 m berada di atas permukaan air laut.

Ijtima’ atau peristiwa konjungsi geosentrik ketika Matahari, Bulan, dan Bumi sejajar terjadi pada Rabu, 7 Agustus 2013 pukul 04:50:41 WIB jika diandaikan pengamat berada di pusat Bumi – akan tetapi ketika berada 703 m di atas permukaan air laut, ijtima’ ini terjadi pada pukul 03:21:40 WIB dini hari yang disebut dengan toposentris saat Bulan mulai meninggalkan titik terjauhnya berjarak 401.041,7 km sementara jarak Bumi – Matahari 151.720.089 km.

Gambar 1. Cahaya Hilal tampak terlihat walaupun cukup tipis saat posisi Matahari dan Bulan jika diamati di Bandung ketika terbenam. Kredit Stellarium.

Sejak ijtima’ sampai Matahari terbenam di ufuq Barat yang menyerong ke arah Utara dengan sudut 16o 12′ 50″ pada pukul 17:54:31 WIB – usia Hilal mencapai 14J 32m 51d ketika piringan Bulan terbenam secara sempurna pada pukul 18:12:18 WIB sehingga memiliki kesempatan untuk melihat Hilal cukup lama yaitu 17m 47d, sedangkan waktu terbaik untuk mengamati Hilal saat kontras cahaya latar belakang hasil pembiasan atmosfer atau lembayung (syafaq) mulai meredup sementara citra Hilal mulai lebih terang pada pukul 18:02:25,22 WIB yang bermagnitude semu – 04,68 dengan luas sabit Bulan relatif terhadap seluruh bundar Bulan atau secara astronomi disebut illuminasi 0,48% dan lebar tanduk Bulan 0o 0′ 7″.


Sekalipun illuminasi < 1% yang menandakan batas bawah hilal tidak bisa diamati, akan tetapi berdasarkan posisi Matahari dan Bulan sejatinya ada dua faktor yang mengindikasikan bahwa hilal bisa diamati atau tidak karena adanya beda tinggi atau irtifa’ relatif (aD) antara Matahari dan Bulan sebesar 4o 13′ 31″ dan elongasi (aL) merupakan jarak sudut yang didapat dari tinggi relatif dan beda azimuth relatif sebesar 5o 57′ 56″ dari sudut Azimuth Matahari 286o 12′ 50″ serta Azimuth Bulan 280o 14′ 53″

sehingga elongasinya sebesar 7o 18′ 33″ yang melewati batas bawah dari kriteria LAPAN yang digunakan Pemerintah dan PERSIS dengan bentuk persamaan: aD ≥ 0,14 aL2 – 1,83 aL + 9,11 (secara toposentrik dan airless di mana kondisi atmosfer diasumsikan tidak ada), artinya posisi Matahari dan Bulan sudah melebihi batas bawah kriteria aD > 4o sedangkan aL > 6,8o untuk bisa diamati.

Gambaran umum mengenai garis batas penanggalan hijriyah yang terjadi di seluruh dunia seperti pada peta ICOP menggunakan kriteria Odeh dengan dua parameter yang berbeda dari kriteria LAPAN, yaitu tinggi Matahari – Bulan dengan batas minimal 6,4o serta lebar tanduk hilal dengan bentuk persamaan: V = aD – (– 0,1018 W3 + 0,7319 W2 – 6,3226 W + 7,1651) dan tentu saja hal ini lebih tinggi dibandingkan LAPAN sebagaimana pada peta garis batas penanggalan di bawah.

Gambar 2. Garis batas penanggalan di Indonesia pada daerah tanpa warna yang artinya tidak bisa diamati pada kriteria Odeh. Kredit Accurate Times.

Gambar 2. Garis batas penanggalan di Indonesia pada daerah tanpa warna yang artinya tidak bisa diamati pada kriteria Odeh. Kredit Accurate Times.

Berdasarkan garis arsiran pada peta di atas pada saat ghurub 7 Agustus 2013 hilal tidak bisa diamati di Indonesia karena menggunakan kriteria Odeh yang lebih tinggi daripada LAPAN. Tentu saja ceritanya akan berbeda jika menggunakan kriteria LAPAN. Garis penanggalan yang diarsir warna biru akan bergeser ke wilayah Indonesia khususnya Pajagalan, Bandung sehingga hilal memungkinkan bisa diamati.

Lantas, mengapa pada bulan Syawwal tahun ini tidak mengalami perbedaan seperti pada bulan Ramadhan saat Muhammadiyah memutuskan shawm pada tanggal 9 Juli 2013 sementara Pemerintah menetapkan tanggal 10 Juli 2013?

Sebagaimana kita ketahui dari awal pembahasan, ijtima’ terjadi pada waktu Shubuh yang terjadi sebelum Matahari terbenam yang merupakan tonggak perubahan atau penggantian hari ataupun kalender di dalam Islam. Di samping itu, tonggak atau syarat lainnya adalah Bulan atau Hilal terbenam setelah Matahari (hilal berada di atas ufuq saat ghurub), Hilal terbenam pada pukul 18:12:18 WIB sementara Matahari pukul 17:54:31 WIB sehingga ormas Muhammadiyyah menganut Wujudul Hilal memutuskan lebaran ‘Iydul Fithri jatuh pada tanggal 1 Syawwal 1434 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 2013.

Sementara Pemerintah dan ormas PERSIS menganut Imkanur Ru-yat atau Visibilitas Hilal yang memiliki arti kenampakan Hilal ini didasarkan pada pemaknaan Hilal itu sendiri.

  • Secara etimologi

Penyebutan Hilal dalam bahasa Arab memiliki arti asal yaitu;

هلّ و أهلّ الهلال

Tampak, terlihat. (Kamus al-Munawwir: 1514).

الهلال و هو فى الأصل البياض (الفائق فى غريب الحديث و الأثر ١:٤٩١)

Hilal itu makna asalnya adalah putih. (al-Fӓiq 1: 491).

الهلال البياض الذي يظهر فى أصول الأظفار (لسان الأرب ١١: ۷۰١)

Hilal adalah warna putih yang tampak pada pangkal kuku. (Lisӓnul Arab 11: 701)

الهلال غرة القمر حين يهله الناس فى غرة الشهر (لسان الأرب ١١: ۷۰١)

Hilal adalah cahaya Bulan ketika orang-orang meneriakinya pada waktu awal bulan. (Lisӓnul Arab 11: 701(

  • Secara Terminologi

Berdasarkan istilah para ahli, Hilal didefinisikan sebagai;

قال الراغب: الهلال القمر فى أول ليلة و الثانية {المفردات فى غريب القرآن ١٨٩}

Ar-Räghib berkata, “Hilal adalah Bulan pada permulaan malam dan malam ke dua.

عند أهل الهيئة: ما يرى من القمر أول ليلة

Para ahli yang lain mengatakan, “Apa yang dilihat dari Bulan pada awal malam.

قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين: القمر حين يبدو أول الشهر إلى ثلاث ليال {الألمام ببعض أيات الأحكام ٢٩}

Syaikh al-‘Utsaymiyn berpendapat, “Ketika Bulan muncul pada awal bulan sampai tiga malam.

Adapun secara astronomis Hilal (Crescent) merupakan penampakan Bulan yang paling kecil atau muda (tampak seperti garis lengkung) menghadap ke Bumi yang terjadi beberapa saat setelah ijtima’.

Penamaan hilal dari definisi uraian para ahli bahasa Arab berbeda pendapat – mulai dari hari pertama saja, malam kedua dan ketiga pun berpendapat masih disebut dengan Hilal. Akan tetapi para ahli sependapat penamaan hilal dimulai pada malam pertama. Selanjutnya pertimbangan dari banyak ayat yang menjelaskan tentang gerak Matahari dan Bulan serta hadits Nabi SAW. tentang shawm salah satunya.

حَدَّثَنَا آدَمُ ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ، أَوْ قَالَ : قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ ﴿ رواه البخاري ﴾

Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad, ia mengatakan, “Saya mendengar Abu Hurayrah r.a. mengatakan Nabi S.A.W. bersabda atau Ia berkata, Abul Qasim S.A.W. bersabda ‘Shaumlah karena melihatnya (Hilal)dan berbukalah (‘Iyd) karena melihatnya. Apabila terhalang atas kalian, sempurnakanlah bilangan (bulan)Sya’ban menjadi tiga puluh.'” {Shahih al-Bukhari (Kitab Shawm): 479}.

Struktur kalimat pada hadits Abu Hurayrah r.a. atau mempunyai makna yang sama, perintah shawm selalu dibarengi dengan kalimat . Sementara memiliki dua arti; Melihat dengan mata dan pengertian kedua mengetahui atau yakin. Arti yang pertama seperti pada hadits dari Abu Hurayrah di mana muta’addinya kepada satu maf’ul saja pada kalimat رأى sedangkan jika dua maf’ul maka memiliki arti yang kedua artinya berdasarkan ilmu.

الرؤية بالعين تتعدى إلى مفعول واحد، وبمعنى العلم تتعدى إلى مفعولين (لسان الأرب ١٤ : ٢٩١)

Kata Ra-a artinya melihat dengan mata apabila muta’addi kepada satu maf’ul, sedangkan arti mengetahui apabila muta’addi kepada dua maf’ul (Lisӓnul Arab 14: 291)

Contoh terdiri dari dua maf’ul Sebagaimana hadits Nabi tentang shalat صلوا كما رأيتمواني أصلي kalau diperhatikan pada matan tersebut ada dua maf’ul yaitu رأيتمواني dan أصلي. Perintah Nabi pada hadits tersebut tentu dengan ilmu, kalau ada satu maf’ul maka kita harus melihatnya langsung sebagaimana Nabi shalat – tentu hal ini kita mendapatkan kesulitan untuk mengamalkannya karena terpaut sangat jauh 14 abad.

Sehingga kita bisa mengambil istinbath hukum berdasarkan dalil di atas di mana hilal harus bisa diamati sebagai patokan penentu awal penanggalan pada bulan hijriyah. Kesimpulan pun bisa ditarik pada analisis data dengan pedoman al-Qur’an dan as-Sunnah saat hilal bisa diamati. Sedangkan kondisi hilal pada saat terbenam 7 Agustus 2013memungkinkan untuk diamati, maka lebaran ‘Iydul Fithri jatuh pada 8 Agustus 2013 yang secara kebetulan sama dengan Muhammadiyyah karena sudah memenuhi kriteria masing-masing. Sementara NU harus menunggu hasil sidang itsbat yang akan diselenggarakan seusai ru-yat.

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

Sora No Manimani

بسم الله الرحمن الرحيم

sora-no-manimani

Sulit rasanya mencari anime yang satu ini, dari sekian anime yang bertebaran di dunia maya baru anime ini yang berhubungan dengan pengenalan atau edukasi tentang astronomi yang notabenenya newbie alias pemula.

Cerita ini berawal dari seorang anak yang punya ketertarikan atau hobi terhadap astronomi bernama Mihoshi Akeno kemudian dia mengajak teman laki-lakinya bernama Saku Ooyagi yang lebih senang membaca buku di kamarnya yang diterangi cahaya buatan. Pada akhirnya Mihoshi mengajak Baca Selengkapnya

بسم الله الرحمن الرحيم

يسئلونك عن الأهلةۖقل هي مواقيت للناس والحج…

Mereka bertanya kepadamu tentang Hilal, katakanlah, “Hilal itu adalah penentu waktu bagi manusia dan (bagi penentuan waktu ibadah) haji.
{Q.S. al-Baqarah (2): 189}.

Mathla’ tempat titik pos pengamatan berada di komplek Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung berkoordinat longitude 107o 36′ 1,47″ T sementara latitude 06o 55′ 23,16″ S dengan elevasi 703 m berada di atas permukaan laut.

Konjungsi geosentrik atau konjungsi secara astronomis atau ijtima’ dalam istilah Ilmu Falak adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi terjadi pada pukul 14:14 WIB dengan jarak Matahari – Bumi 152.094.283 km dan Bumi – Bulan 405.923,0 km yang sudah melewati titik terjauhnya masing-masing pada Ahad, 7 Juli 2013 mendatang yang disebut dengan aphelion dan apogee.

Gambar 1. Posisi Matahari dan Bulan jika diamati di Bandung saat Matahari terbenam sementara Hilal ada di atas Matahari. Kredit Stellarium.

Posisi dua benda langit ketika Matahari terbenam, ketinggian Matahari -01o 44′ 28″ di bawah ufuq atau horizon sedangkan Bulan -01o 00′ 43″ dengan selisih ketinggiannya mencapai 0o 43′ 45″. Sudut azimuth Matahari 292o 22′ 47″ sedangkan Bulan 287o 51′ 36″ dengan selisih 4o 31′ 11″ yang dimulai dari titik Utara sebagai acuan searah jarum jam dengan elongasi (sudut pisah) antara Matahari – Bulan 4o 48′ 09″ jika diamati dipermukaan Bumi dengan ketinggian 703 m di atas permukaan air laut.

Gambar 2. Daerah luasan arsiran Hilal di seluruh dunia pada Senin, 8 Juli 2013. Kredit Accurate Times.

Luas arsiran ditinjau dari seluruh dunia – wilayah Indonesia yang tidak ada warna arsiran yang artinya tidak mungkin bisa dilihat atau diru’yat meskipun dengan bantuan peralatan optik karena kecerahan Hilal tidak cukup seperti di Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian wilayah Kalimantan Selatan serta Sulawesi Selatan. Sebagian wilayah Amerika Latin diarsir warna biru artinya membutuhkan peralatan optik semisal teleskop untuk bisa diamati sedangkan untuk daerah arsiran berwarna merah mengindikasikan bahwa Bulan terbenam terlebih dahulu daripada Matahari.

Keesokan harinya – Selasa, 09 Juli 2013 saat Matahari terbenam di ufuq yang condong ke Barat Laut di waktu maghrib mengalami perbedaan daerah arsiran – warna hijau tampak mendominasi di seluruh dunia yang artinya bisa dilihat dengan mudah menggunakan mata telanjang diikuti arsiran berwarna magenta, biru, tidak berwarna, serta merah yang bergeser ke arah Utara lintang tinggi lebih dari 40o yang dimulai dari Alaska sampai ke Rusia.

Gambar 3. Perubahan warna hijau mendominasi di seluruh dunia beberapa daerah yang berwarna magenta, biru, tidak berwarna dan merah. Kredit Accurate Times.

Bulan terbenam pada pukul 18:41 WIB dengan Usia Bulan mencapai 27Jam 37menit yang dihitung sejak ijtima’ pada Senin, 8 Juli 2013 kemarin hingga Matahari terbenam pukul 17:51 WIB.

Ketinggian Hilal mencapai 09o 54′ 22″ sedangkan tinggi relatif terhadap Matahari 11o 38′ 50″ ketika posisi Matahari berada di bawah ufuq -01o 44′ 28″ dengan elongasi 12o 42′ 38″ – lebih dari kriteria yang diusung Pemerintah dan Dewan Hisab Rukyat PP. PERSIS tinggi Bulan > 4o dan elongasi > 6,4o. Iluminasi Bulan mencapai 01,39% bermagnitude -05,33 sedangkan lebar sabit Hilal 25″.

Sehingga beberapa wilayah Indonesia diarsir berwarna hijau yang artinya bisa dilihat dengan mudah oleh kasat mata sekalipun sementara di daerah lain masih mengandalkan bantuan alat optik yang dilalui arsiran bwerwarna magenta.

Indonesia sendiri menganut sistem wilayatul hukmi yaitu suatu sistem keterikatan dalam satu satuan wilayah jika salah satu titik pos pengamatan bisa melihat Hilal maka satu wilayah Indonesia harus mengikuti pos yang bisa dilihat.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan, Ramadhan 1434 H mengalami perbedaan karena adanya perbedaan pada tiga kriteria terbesar yang dianut oleh ormas Islam di Indonesia yaitu Wujudul Hilal, Ru-yat, dan Imkanur Ru-yat. Wujudul Hilal dianut oleh kalangan Muhammadiyah yang menitik beratkan pada wujud artinya “ada” dalam bahasa Indonesia. Hal ini bisa dianalogikan dengan wujud pada sifat Allah – bukan berarti abstrak. Allah sebagaimana kita yakini ada akan tetapi tidak bisa dilihat oleh panca indera karena keterbatasan kita, begitu pula dengan adanya Hilal akan tetapi tidak bisa dilihat. Akan tetapi kriteria Wujudul Hilal mengesampingkan sunnah Nabi SAW. yang berkaitan dengan kalimat “غمّ” dkk yang artinya terhalang oleh apa pun itu sehingga shaum pun jatuh pada Selasa, 9 Juli 2013. Sedangkan kriteria Ru-yat didominasi oleh kalangan NU (Nahdhatul Ulama) dimana pengambilan keputusan finalnya saat observasi atau ru-yat sehingga berhasil mendapatkan citra Hilal baik itu menggunakan mata telanjang ataupun bantuan alat optik semacam teleskop ataupun binokuler sehingga shaum pun kemungkinan bertepatan pada hari Rabu, 10 Juli 2013 walaupun sebenarnya untuk menentukkan posisi diari Bulan dan Matahari pada awalnya menggunakan perhitungan alias hisab. Ada pun Imkanur Ru-yat merupakan kriteria yang digunakan oleh ormas Islam bernama PERSIS (Persatuan Islam) yang shaum bertepatan pada hari Rabu, 10 Juli 2013 saat Hilal memungkinkan untuk diru’yat ketika maghrib pada hari Selasa, 9 Juli 2013.

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

Makalah ini disampaikan pada Kamis, 6 Juni 2013 acara halaqah Pemuda PERSIS cab. Cimahi Selatan di masjid al-Hidayah, Melong Cikendal.

STATUS HADIS TENTANG KEUTAMAAN BULAN RAJAB

بسم الله الرحمن الرحيم

A. Doa ketika melihat bulan sabit Rajab

Beberapa orang di antara jama’ah pengajian bertanya kepada kami tentang do’a ketika melihat Bulan Sabit Rajab, sehubungan mereka menemukan penjelasan pada salah satu web internet sebagai berikut:

Anas bin Malik berkata bahwa ketika memasuki bulan Rajab Rasulullah SAW berdo’a, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”

Hadits ini bersumber: Al-Faqih Abu Muhammad Isma’il bin Al-Husein Al-Bukhari dari Al-Imam Abu A’la’, tahun 399 H, dari Isma’il bin Ishaq, dari Muhammad bin Abu Bakar, dari Zaidah bin Abi Raqad dari Ziyadah An-Numairi dari Anas bin Malik. (Fadhail Syahr Rajab: 494).

Sumber: http://www.syamsuri149.wordpress.com

Tanggapan:

Sepanjang pengetahuan kami, hadits tentang do’a ketika memasuki bulan Rajab diriwayatkan oleh beberapa mukharrij (pencatat hadits) sebagai berikut:

  1. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal melalui rawi Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ غَرَّاءُ وَيَوْمُهَا أَزْهَرُ

Nabi SAW apabila memasuki bulan Rajab beliau berdo’a, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Dan beliau bersabda, “Malam Jumat adalah (malam) bagus (terang bulan) dan harinya indah (cerah bersinar).” (Al-Musnad, IV:180, No. hadis 2346).

  1. Al-Bazzaar melalui rawi Ahmad bin Malik Al-Qusyairiy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ وَ كَانَ إِذَا كَانَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ قَالَ : هذِهِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ وَ يَوْمٌ أَزْهَرُ

Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” Dan apabila malam Jumat, beliau bersabda, “Ini adalah malam yang bagus (terang bulan) dan hari yang indah (cerah bersinar).” (Musnad Al-Bazzaar, II:290, No. hadis 6494)

  1. At-Thabrani melalui dua jalur periwayatan:

    Pertama: Ali bin Sa’id Ar-Razi, dari Abdus Salaam bin Umar Al-Junniy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Rasulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (Al-Mu’jamul Ausath, IV:189, No. hadis 3939)

Kedua: Yusuf Al-Qaadhiy, dari Muhammad bin Abu Bakar Al-Muqaddamiy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (Ad-Du’aa, I:284, No. hadis 911)

  1. Al-Baihaqi melalui dua jalur periwayatan:

    Pertama: Abu Abdullah Al-Hafizh (Imam Al-Hakim), dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Mu’ammil, dari Al-Fadhl bin Muhammad Asy-Sya’raaniy, dari Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ أوْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمٌ أَزْهَرُ

Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Dan beliau bersabda, “Malam Jumat adalah malam yang bagus(terang bulan) atau hari Jumat adalah hari yang indah (cerah bersinar).” (Syu’aabul Iimaan, III:375, No. hadits 3815)

Kedua: Abu Zakariya bin Abu Ishaq, dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Mu’ammil bin Al-Hasan bin Isa, dari Al-Fadhl bin Muhammad, dari Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ. قال وَكَانَ يَقُولُ : لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ وَيَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمٌ أَزْهَرُ

Rasulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Kata Anas, “Dan beliau bersabda, ‘Malam Jumat adalah malam yang bagus (terang bulan) atau hari Jumat adalah hari yang indah (cerah bersinar)’.” (Ad-Da’waatul Kabiir, II:142, No. hadis 529)

  1. Ibnu Asaakir melalui rawi Al-Hasan bin Muhammad Abu Muhammad Al-Baghawiy Al-Bahsyatiy, dari Umar bin Ahmad bin Muhammad bin Al-Khaliil Al-Baghawiy, dari Abul Faqiih Abu Hamid Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Al-Khaliil, dari Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain bin Hamzah Al-Marwaziy Al-Uthaar, dari Abu Thaahir Ath-Thayyib bin Muhammad bin Ahmad Al-Harawiy, dari Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah bin Usman Al-Baghdadiy, dari Abu Ali Al-Hasan bin Muhmiy Al-Bazzaaz, dari Ubaidullah bin Umar, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

Rasulullah saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.” (Mu’jam Ibnu Asaakir, I:161, No. hadis 309).

  1. Ibnu Sunniy melalui rawi Ibnu Manii’, dari Ubaidullah bin Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ إن لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ أوْ يَوْمَها يَوْمٌ أَزْهَرُ

Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” Dan beliau bersabda, “Malam Jumat adalah malam yang bagus(terang bulan) atau hari Jumat adalah hari yang indah (cerah bersinar).” (‘Amalul Yaumi wal Lailah, III:265, No. hadis 658).

  1. Al-Hasan bin Abu Thaalib Al-Khalaal melalui rawi Abu Bakar Muhammad bin Ismail bin Al-Abbas Al-Waraaq dan Abu Hafsh Umar bin Ahmad (popular dengan sebutan Ibnu Syaahiin). Keduanya menerima dari Abdullah bin Muhammad Al-Baghawi, dari Abdullah bin Umar Al-Qawaariiriy, dari Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik, dengan redaksi:

كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ رَجَبٌ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا فِي رَمَضَانَ وَكَانَ يَقُولُ إن لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ لَيْلَةٌ غَرَّاءُ أوْ يَوْمَها يَوْمٌ أَزْهَرُ

Nabi saw. apabila memasuki bulan Rajab beliau berdoa, “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan berkahi kami bulan Ramadhan.” (Fadhaa’il Syahri Rajab: 3, No. hadis 1).

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa hadis tentang doa ketika memasuki bulan Rajab meski diriwayatkan oleh beberapa mukharrij namun seluruh jalur periwayatannya melalui Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, dari Ziyad An-Numairy, dari Anas bin Malik. Jalur periwayatan seperti ini dikategorikan sebagaighariib mutlaq (tunggal).

http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/status-hadis-tentang-keutamaan-bulan-rajab-1/429660737065310

B. Penjelasan para ulama tentang status hadis

(1) Imam Al-Baihaqi, setelah mencantumkan jalur periwayatan (sanad) beserta matan (teks hadis), beliau berkata:

تَفَرَّدَ بِهِ زِيَادٌ النُّمَيْرِيُّ وَعَنْهُ زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ قَالَ الْبُخَارِيُّ : زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ عَنْ زِيَادٍ النُّمَيْرِيِّ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ

“Ziyad An-Numairiy meriwayatkan hadis itu sendirian (tanpa diperkuat oleh rawi lainnya). Hadis itu diterima darinya oleh Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad. Kata Imam Al-Bukhari, ‘Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad menerima dari Ziyad An-Numairiy, dia (Zaidah) munkarul hadits‘.” (Syu’aabul Iimaan, III:375).

(2) Imam An-Nawawi berkata:

وَرَوَيْنَا فِي حِلْيَةِ الأَوْلِيَاءِ بِإِسْنَادٍ فِيْهِ ضَعْفٌ

“Kami telah meriwayatkan hadis itu dalam kitab Hilyatul Awliyaa dengan sanad yang di dalamnya terdapat kedaifan.” (Al-Adzkaar:274).

(3) Imam Adz-Dzahabi, pada biografi rawi Zaidah, beliau menyebutkan hadis tersebut, dan beliau berkata, “Dia (Zaidah) dha’if.” (Mizanul I’tidaal, III:96).

(4) Ibnu Hajar Al-Asqalani, setelah mengemukakan hadis tersebut riwayat Al-Bazzaar, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Yusuf Al-Qaadhi, beliau berkata:

<span style=”font-family:Traditional Arabic;font-size:14pt;”زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ رَوَى عَنْهُ جَمَاعَةٌ وَقَالَ فِيْهِ أَبُوْ حَاتِمٍ يُحَدِّثُ عَنْ زِيَادٍ النُّمَيْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ أَحَادِيْثَ مَرْفُوْعَةً مُنْكَرَةً فَلاَ يُدْرَى مِنْهُ أَوْ مِنْ زِيَادٍ وَلاَ أَعْلَمُ رَوَى عَنْ غَيْرِ زِيَادٍ فَكُنَّا نَعْتَبِرُ بِحَدِيْثِهِ وَقَالَ الْبُخَارِيُّ : مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ

وَقَالَ النَّسَائِيُّ: بَعْدَ أَنْ أَخْرَجَ لَهُ حَدِيْثًا فِي السُّنَنِ: لاَ أَدْرِيْ مَنْ هُوَ وَقَالَ فِي الضُّعَفَاءِ: مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ وَ فِي الْكُنَي: لَيْسَ بِثِقَةٍ وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ لاَ يُحْتَجُّ بِخَبَرِهِ

“Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad, hadisnya telah diriwayatkan oleh sekelompok rawi. Abu Hatim berkata tentang dirinya, “Dia meriwayatkan hadis-hadis marfu yang mungkar dari Ziyad An-Numairiy, dari Anas. Maka tidak diketahui apakah hadis itu bersumber darinya (Zaidah) ataukah dari Ziyad? Dan saya tidak mengetahui dia meriwayatkan hadis itu dari rawi lain selain Ziyad. Maka kami mengi’tibar (mencari pembanding dengan rawi lain) untuk hadisnya.” Kata Imam Al-Bukhari, “Dia (Zaidah) munkarul hadits.” An-Nasai, setelah meriwayatkan satu hadis dari Zaidah dalam kitabnya As-Sunan, ia berkata, “Saya tidak tahu siapa dia?” Namun dalam kitabnya Ad-Dhu’aafaa wal Matruukiin, dia berkata, “Dia (Zaidah) munkarul hadits.” Sementara dalam kitabnya Al-Kunaa, dia berkata, “Dia tidak tsiqah (tidak kredibel).” Ibnu Hibban berkata, “Hadisnya tidak dapat dipakai hujjah.” (Tabyiinul ‘Ajab Bimaa Warada Fi Syahri Rajab: 5-6).

(5) Kata Imam Al-Haitsami:

رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَفِيْهِ زَائِدَةُ بْنُ أَبِي الرُّقَادِ قَالَ الْبُخَارِيُّ مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ وَجَهَّلَهُ جَمَاعَةٌ

“Hadis itu diriwayatkan oleh Al-Bazzaar, dan pada sanadnya terdapat rawi Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad. Kata Imam Al-Bukhari, ‘Dia (Zaidah) munkarul hadits.’ Dan sekelompok ulama menilai bahwa dia majhuul (tidak dikenal).” (Majma’uz Zawaa’id wa Manba’ul Fawaa’id, II:165).

(6) Ahmad Syakir berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ

“Sanadnya dha’if.” (Al-Musnad, IV:100-101, komentar terhadap hadis no. 2346)

(7) Syekh Syu’aib Al-Arnauth berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ

“Sanadnya dha’if.” (Al-Musnad, IV:180, komentar terhadap hadis no. 2346)

(8) DR. ‘Aamir Hasan Shabrii berkata:

إِسْنَادُهُ ضَعِيْفٌ

“Sanadnya dha’if.” (Zawaa’id Abdullah bin Ahmad bin Hanbal fil Musnad: 198)

Kesimpulan:

  1. Hadis tentang doa ketika memasuki bulan Rajab statusnya dha’if, karena kedha’ifan dua orang rawi: Ziyad An-Numairiy dan Zaidah bin Abu Ar-Ruqaad.
  2. Hadis tersebut tidak dapat dijadikan landasan syariat doa ketika memasuki bulan Rajab.

http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/status-hadis-tentang-keutamaan-bulan-rajab-2/429704210394296

Rasulullah Saw. bersabda:

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَ شَعْبَان شَهْرِيْ وَ رَمَضَانُ شَهْر أُمَّتِيْ…وَمَا مِنْ أَحَدٍ يَصُوْمُ يَوْمَ الْخَمِيْسِ أَوَّلَ خَمِيْسٍ فِيْ رَجَبٍ ثُمَّ يُصَلِّي فِيْمَا بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعَتَمَةِ يَعْنِيْ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ ثِنْتَيْ عَشَرَةَ وَكْعَةً يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ مَرَّةً و (إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) ثَلا َثَ مَرَّاتٍ وَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ مَرَّةً يُفْصَلُ بَيْنَ كَلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِمَتَيْنِ فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ صَلِّ عَلَيَّ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَقُوْلُ اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيْ الأمِيْ وً عًلًى آلِهِ ثُمَّ يَسْجُدُ فَيَقُوْلُ فِيْ سُجُدِهِ سُبُوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئكَةِ وَ الرُّوْحِ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيَقُوْلُ رَيِّ اغْفِرْلِيْ وارْحَمْ وَ تَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الأَعْظَمُ سَبْعِيْنَ مَرَّةً ثُمَّ يَسْجُدُ الثَّانِيَةَ فَيَقُوْلُ مِثْلَ مَا قَالَ فِيْ السَجْدَةِ الأُولَى ثُمَّ يَسْأَلُ اللهَ حَاجَتَهُ فَإِنَّهَا تُقْضَى قَالَ رَسُوْل الله : وَالَّذِيْ تَفْسِيْ بيَدِهِ مَا مِنْ عَبْدٍ وَلا َ لأ أَمَةٍ صَلَّى هَذِهِ الصَلاَةَ إِلاَّ غَفَرَ الله لَهُ جَمِيْعَ ذُنُوْبِهِ وَ إنْ كَانَ مِثْلَ زَيَدِ الْبَحْرِ وَ عَدَدَ وَرَقِ الأَشْجَارِ و شَفَعَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيْ سَبْعِمِائَةِ مِنْ أَهْلَ بَيْتِهِ . فَإِذَا كَانَ فِيْ أَوَّلِ لَيْلَةٍ فِيْ قَبْرِهِ جَاءَ ثَوَّابُ هَذِهِ الصَّلاَةِ فَيُجِيْبُهُ بِوَجْهٍ طَلِقٍ وَلِسَانٍ ذَلِقٍ فَيَقُوْلُ لَهُ حَبِيْبِيْ أَبْشِرْ فَقَدْ نَجَوْتَ مِنْ كُلِّ شِدَّةٍ فَيَقُوْلُ مَنْ أَنْتَ فَوَ اللهِ مَا رَأَيْتُ وَجْهًا أَحْسَنَ مِنْ وَجْهِكَ وَلاَ سَمِعْتُ كَلاَمًا أَحْلَى مِنْ كَلاَمِكَ وَلاَ شَمَمْتُ رَائِحَةُ أَطْيَبُ مِنْ رَائِحَتِكَفَيَقُوْلُ لَهُ يَا حَبِيْبِيْ أَنَا ثَوَابُ الصَلاَةِ الَّتِيْ صَلَّيْتَهَا فِيْ لَيْلَةِ كَذَا فِيْ شَهْرِ كَذَا جِئْتُ الليْلَة َ لأَ قْضِيْ حَقَّكَ وَ أُوْنِسَ وَحْدَتَكَ وَ أَرْفَعَ عَنْكَ وَحْشَتَكَ فَإِذَا نُفِخَ فِيْ الصُوْرِ أَظْلَلْتُ فِيْ عَرَصَةِ الْقِيَامَةِ عَلَى رَأْسِكَ وَ أَبْشِرْ فَلَنْ تَعْدَمَ الْخَيْرَ مِنْ مَوْلاَكَ أَبَدًا

“Rajab bulan Allah dan Sya’ban bulanku serta Ramadhan bulan umatku…(hadisnya panjang, setelah itu Nabi Saw. bersabda) Tidak ada seorang berpuasa pada hari Kamis, yaitu awal Kamis dalam bulan Rajab, kemudian shalat diantara Maghrib dan ‘Atamah (Isya) -yaitu malam Jum’at- (sebanyak) dua belas raka’at. Pada setiap raka’at membaca surat Al Fatihah sekali dan surat Al Qadr tiga kali, serta surat Al Ikhlas dua belas kali. Shalat ini dipisah-pisah setiap dua raka’at dengan salam. Jika telah selesai dari shalat tersebut, maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan “Allahhumma shalli ‘ala Muhammadin Nabiyil umiyi wa alihi, kemudian sujud, lalu menyatakan dalam sujudnya “Subuhun qudusun Rabbul malaikati wa ar ruh” tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan “Rabbighfirli warham wa tajaawaz amma ta’lam, inaka antal ‘Azizul a’zham” tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama. Lalu memohon kepada Allah hajatnya, maka hajatnya akan dikabulkan.” Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang hamba laki-laki atau perempuan yang melakukan shalat ini, kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya, walaupun seperti buih lautan dan sejumlah daun pepohonan, serta bisa memberi syafa’at pada hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Jika berada pada malam pertama, di kuburnya akan datang pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan besar’. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu, dan tidak pernah mendengar perkataan seindah perkataanmu, serta tidak pernah mencium bau wewangian, sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai, kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan pada malam itu, pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu perasaan asing. Jika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah, karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maulamu (Allah) selama-lamanya.”

Hadits di atas diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi melalui dua jalur periwayatan

Pertama: Ali bin Ubaidullah bin Az-Zaaguuniy, dari Abu Zaid Abdullah bin Abdul Malik Al-Ashfahani, dari Abul Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ishaq bin Mandah.

Kedua: Muhammad bin Nashir Al-Hafizh, dari Abul Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ishaq bin Mandah.

Selanjutnya, Abul Qasim bin Mandah menerima dari Abul Hushain Ali bin Abdullah bin Juhaim As-Shuufiy, dari Ali bin Muhammad bin Sa’id Al-Bishri, dari Khalaf bin Abdullah As-Shaghaniy, dari Humaid At-Thawiil, dari Anas bin Malik.

Kata Imam Ibnu Al Jauziy, “Hadits ini palsu diantasnamakan Rasulullah Saw.. Para ulama hadis menuduh bahwa hadis itu diciptakan oleh Ibnu Juhaim (Ali bin Abdullah bin Juhaim As-Shuufiy), dia seorang pemalsu hadis.” (Lihat, Al Maudhuu’at, juz 2, hlm. 124-125)

Demikian pula menurut para ulama lainnya, bahwa hadis ini palsu, di antaranya Imam Ibnu Taimiyah, Asy-Syaukani, Al-Fairuzabadi, Al-Maqdisi, Al-Iraqi dan Abu Syamah. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa, jilid 23, hlm 133-134; Al-Bida’ Al-Hauliyah, hlm. 241)

http://www.facebook.com/notes/amin-saefullah-muchtar/status-hadis-tentang-keutamaan-bulan-rajab-3-tamat/430074010357316

و الله أعلم

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للإسلام و المسلمين

oleh Amin Saefullah Muchtar

بسم الله الرحمن الرحيم

Tidak cukup hanya 26 April lalu Allah menghendaki terjadinya gerhana, 10 Mei nanti merupakan akhir dari bulan Jumadil Akhir yang bertepatan dengan peristiwa Gerhana Matahari Cincin (GMC). Pasalnya, ijtima’ atau konjungsi akhir Jumadil Akhir 1434 H bertepatan dengan hari Jum’at pukul 07:28 WIB saat Semidiameter Matahari (SDM) mencapai maksimum sebesar 15’ 50,4” sedangkan Bulan hanya 14’ 53,8” atau 94% lebih kecil dari SDM (hal inilah alasan gerhana ini masuk kategori GMC) karena jarak Matahari – Bumi 151.058.191 km dan Bumi – Bulan 401.068,1 km masing-masing saling menjauh menuju titik aphelionnya (titik terjauh) dengan kedudukan Matahari di ekliptika berada dekat dengan titik simpul (titik potong) orbit Bulan terhadap ekliptika maka iluminasi bulan benar-benar 0% karena tidak adanya cahaya yang diteruskan Matahari ke Bulan (bagian wajah Bulan mengalami penggelapan) menghadap Bumi dengan konfigurasi Matahari – Bulan – Bumi yang menyebabkan terjadinya musim gerhana pertama yang diawali GBS kemudian GMC dan diakhiri GBPenumbra (25 Mei).

Jalur GMC tersebut melewati Australia dan sebagian besar berada di Samudera Pasifik. Adapun di luar jalur GMC tersebut akan terlihat sebagai gerhana Matahari sebagian (GMS) sebagai contoh di Bandung akan terlihat sebagai GMS bukan GMC.

Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian Sumatera – area penggelapan di Matahari sekitar 30%-40% sedangkan di Indonesia bagian Timur dari 40%-60% artinya mengalami gerhana sebagai GMS. GMC ini bisa diamati saat Matahari terbit di ufuk Timur yang condong ke arah Timur Laut sehingga setiap kota memiliki waktu terbit dan berakhirnya GMC berbeda-beda walaupun kenyataannya sebelum Matahari terbit gerhana sedang berlangsung. Di dalam tabel, saat mulai gerhana disebutkan sampai orde detik berarti GMC ini terjadi saat Matahari sudah terbit – sementara sampai orde menit artinya gerhana berlangsung sebelum matahari terbit sehingga saat terbit Matahari sedang mengalami penggerhanaan. Format waktu di dalam tabel menggunakan WIB sehingga harus diubah ke zona masing-masing tempat (WITA & WIT) dengan menambahkan 1 atau 2 jam.

 

Kota

Mulai Gerhana

Akhir Gerhana

Bandung

Jakarta

Serang

Yogyakarta

Semarang

Surabaya

Pekan Baru

Tanjung Pinang

Jambi

Bengkulu

Palembang

Bandar Lampung

Pangkal Pinang

Pontianak

Palangkaraya

Banjarmasin

Samarinda

Manado

Gorontalo

Palu

Mamuju

Makassar

Kendari

Ternate

Ambon

Sorong

Jayapura

Kupang

Mataram

Denpasar

05:53

05:55

05:58

05:43

05:42

05:33

06:08

05:58

06:02

06:11

06:00

06:01

05:53

05:37

05:22

05:22

05:07

04:50:48

04:49:42

04:56

05:03

05:04

04:49

04:49:51

04:38:29

04:42:22

04:37:14

04:54

05:21

05:25

06:26:48

06:25:22

06:24:51

06:30:01

06:29:05

06:31:26

06:09:37

06:15:21

06:16:03

06:19:03

06:19:13

06:23:22

06:18:58

06:18:24

06:27:02

06:28:54

06:28:54

06:39:43

06:37:21

06:33:30

06:34:06

06:37:12

06:40:54

06:44:48

06:50:54

06:55:42

07:21:19

06:46:13

06:35:59

06:35:04

 

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari istri Nabi bernama ‘Aisyah r.a. Apabila anda melihat gerhana maka berdo’a, bertakbir, shalat, dan bershadaqah. Jika mendapatkan kesempatan melihat gerhana walaupun satu menit seperti yang akan dialami kota Pekan Baru, cukup hanya berdo’a, bertakbir, dan bershadaqah karena keterbatasan waktu penggerhanaan.

 

و الله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

SYARIAT TAKBIR IYDUL ‘ADHA

بسم الله الرحمن الرحيم

Sebagaimana dimaklumi bahwa Rasulullah SAW mensunnahkan takbir pada Iydul Fithri, sejak keluar dari rumah untuk menuju tempat shalat. Di dalam hadis-hadis diterangkan sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم كَانَ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ وَالتَّهْلِيْلِ حَالَ خُرُوْجِهِ إِلَى الْعِيْدِ  يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى

Dari Ibnu Umar sesungguhnya Nabi SAW bertakbir dan bertahlil (menyebut laa ilaaha illallaah) dengan suara keras dari mulai keluar hendak pergi shalat Iydul Fithri hingga sampai ke lapang. (HR. Al-Baihaqi, Nailul Authar III:355).

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  صلى الله عليه وسلم كَانَ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ  فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى

“Sesungguhnya Rasulullah SAW keluar pada hari Iydul Fithri dengan bertakbir hingga sampai di lapang” (HR. Ibnu Abu Syibah, al-Mushannaf, I:487).

كَانَ يَغْدُوْ إِلَى المُصَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِىَ المُصَلَّى ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالمُصَلَّى حَتَّى إِذَاجَلَسَ الإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ. – رواه الشافعي –

Ibnu Umar berangkat pagi-pagi menuju mushala (tanah lapang) pada hari Iydul Fithri apabila terbit matahari, maka beliau bertakbir sehingga mendatangi mushala dan terus beliau bertakbir di mushala itu, sehingga apabila imam telah duduk beliau meninggalkan takbir. (HR. As-Syafi’I, Musnad As-Syafi’I, I: 73).

وَقَالَ الحَاكِمُ : وَهَذِهِ سُنَّةٌ تُدَاوِلُهَا أَئِمَّةُ اَهْلِ الحَدِيْثِ وَصَحَّتْ بِهِ الرِّوَايَةُ عَنْ  عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِ مِنَ الصَّحَابَةِ.

Dan Al-Hakim Mengatakan, “Ini adalah sunnah yang digunakan oleh para ahli hadits, dan shahih tentang ini riwayat dari Abdullah bin Umar dan lain-lain dari kalangan shahabat.” (Al-Mustadrak ala As-Shahihain, I : 298).

Sedangkan bertakbir pada iedul adha, Nabi saw. mencontohkannya sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga ashar 13 dzulhijjah, sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَلِيٍّ وَعَمَّارِ أَنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم… وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ بَعْدَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ

Dari Ali dan Ammar sesungguhnya Nabi SAW… dan beliau bertakbir sejak hari ‘Arafah setelah shalat shubuh dan menghentikannya pada shalat ‘Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah). (HR. Al-Hakim, Al-Mustadrak, I:439; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, III:312).

Adapun teknis pelaksanaanya tidak mesti dengan cara membacanya secara terus menerus, melainkan memanfaatkan  kesempatan yang ada, baik ketika berkumpul di masjid atau di rumah masing-masing atau berbagai kesempatan lainnya, sebagaimana diamalkan oleh Ibnu Umar:

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ  يُكَبِّرُ بِمِنىً  تِلْكَ اْ لأَ يَّامَ وَخَلْفَ الصَّلَوَاتِ وَ عَلَى  فِرَاشِهِ وَ فِيْ فُسْطَاطِهِ وَ مَجْلِسِهِ وَ مَمْشَاهُ  تِلْكَ اْلأَيَّامَ جَمِيْعًا

Ibnu Umar pernah bertakbir di Minna pada hari-hari itu (Tasyriq) setelah shalat (lima waktu), di tempat tidurnya, di kemah, di majelis dan di tempat berjalannya pada hari-hari itu seluruhnya.”  (HR. Al-Bukhari).

Dengan demikian waktu untuk bertakbir – sejak hari ‘Arafah hingga ‘Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) – itu tidak terikat, artinya tidak ada batasan dan ketentuan, pada  pokoknya bertakbir baik  sendirian, bersama-sama atau saling bergantian, kesemua itu tidak lepas dari pelaksanaan membaca takbir. Jadi, semua cara telah memenuhi perintah atau anjuran bertakbir.

Redaksi Takbir

Pada dasarnya tidak ada perbedaan tentang redaksi takbir antara Iydul ‘Adha dan Iydul Fithri. Ibnu Hajar menjelaskan:

وَأَمَّا صِيْغَةُ التَّكْبِيْرِ فَأَصَحُّ مَا وَرَدَ فِيْهِ مَا أَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ بِسَنَدٍ صَحِيْحٍ عَنْ سَلْمَانَ قَالَ‏:‏كَبِّرُوْا اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا‏…‏

Adapun shighah (bentuk) takbir, maka yang paling shahih adalah hadis yang ditakhrij oleh Abdur Razaq dengan sanad shahih dari Salman, ia berkata, “Takbirlah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, kabiira. (Lihat, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari , II: 536).

Selanjutnya Ibnu Hajar juga menjelaskan

وَقِيْلَ يُكَبِّرُ ثِنْتَيْنِ بَعْدَهُمَا لا إله إلا اللَّه و اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وللَّهِ الْحَمْدُ جَاءَ ذلِكَ عَنْ عُمَرَ وَابْنُ مَسْعُوْدٍ

“Dan dikatakan ia bertakbir dua kali (Allahu Akbar, Allahu Akbar), setelah itu Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd. Keterangan itu bersumber dari Umar dan Ibnu Mas’ud. (Lihat, Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, II: 536).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa lafal takbir (sesuai dengan amal shahabat) hanya 2 macam:

  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiran.
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.

    sedangkan yang memakai redaksi tambahan lain selain keterangan di atas, di dalam Fath Al-Bariditerangkan: Laa asla lahu (tidak mempunyai sumber sama sekali), yaitu:

  • redaksi Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabiira dengan tambahan wa lillaahilhamdu
  • redaksi Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariikalah
  • Redaksi panjang sebagai berikut

    اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

    و الله أعلم

    الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

    oleh Amin Saefullah Muchtar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.