Perjuangan umat Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dalam memberantas kejahiliyahan dan ketakhayulan dari segi aqidah, moral, dan IPTEK pada saat itu.
Allah berfirman dalam Al-qur’an surah al-isra’: 36
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak ada padamu ilmu”.
Disini Allah menerangkan kepada manusia khususnya orang yang beriman supaya tidak taklid (mengikuti tanpa ada dasar) bahkan Allah menurunkan al-qur’an yang pertama yaitu surah al-’alaq ayat yang pertama ‘‘iqra‘ (bacalah) dengan ini lengkap sudah perintah Allah mengenai keradikalan dalam berpikir terutama menyangkut ayat-ayat kauniyah yang bertebaran di dalam Al-qur’an seperti surat Ali Imran dan ayat ini pula sebagai penyemangat maupun rujukan dalam melakukan study para Ilmuwan Muslim.
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “(Q.S. Ali Imran :190-19).

Kalau kita menengok ke masa lampau banyak penduduk Mekkah percaya kepada yang namanya takhayul seperti bahwa di ujung dunia ini ada gunung-gunung yang menyangga langit yang penuh dengan bintang-kemintang, terjadinya gempa bumi dan tsunami itu disebabkan oleh makhluk gaib yang marah karena tidak diberi sesajian, peristiwa gerhana bulan maupun matahari itu karena dimakan oleh Batarakala (Indonesia), dsb. Padahal kalau kita bandingkan ke zaman kita sungguh itu adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi orang yang berpikir terutama para ilmuwan.
Awal mula suatu peradaban yang sangat maju dalam sektor pengelolaan ilmu adalah pada massa
1. Mesir kuno
Mesir kuno adalah suatu peradaban kuno di bagian timur laut Afrika Peradaban ini terpusat sepanjang pertengahan hingga hilir Sungai Nil yang mencapai kejayaannya pada sekitar abad kee-2 SM, pada masa yang disebut sebagai periode Kerajaan Baru. Daerahnya mencakup wilayah Delta Nil di utara, hingga Jebel Barkal di Katarak keempat NIL. Pada beberapa zaman tertentu, peradaban Mesir meluas hingga bagian selatan levant, Gurun Timur, pesisir pantai Laut Merah, semenanjung Sinai, serta Gurun Barat(terpusat pada beberapa oasis).
Peradaban Mesir Kuno berkembang selama kurang lebih tiga setengah abad. Dimulai dengan unifikasi awal kelompok-kelompok yang ada di Lembah Nil sekitar 3150 SM, peradaban ini secara tradisional dianggap berakhir pada sekitar 31 SM, sewaktu Kekaisaran Romawi awal menaklukkan dan menyerap wilayah Mesir Ptolemi sebagai bagian provinsi Romawi. Walaupun hal ini bukanlah pendudukan asing pertama terhadap Mesir, periode kekuasaan Romawi menimbulkan suatu perubahan politik dan agama secara bertahap di Lembah Nil, yang secara efektif menandai berakhirnya perkembangan peradaban independen Mesir.
2. Mesopotamia
Keistimewaan Mesopotamia untuk peradaban dunia sudah disinggung beberapa saat lalu, karena itu tidak perlu diulangi lagi. Saya ingin melihatnya dari sudut kebudayaan dan religius meski ini pun sudah pernah disinggung sedikit.
Menurut keyakinan Kristen dan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham (yang lalu disebut “Bapa Orang Beriman” dan diakui oleh tiga agama monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi) dengan Mesopotamia. Dalam kitab Kejadian 11,31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur- Kasdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Palestina sekarang).
Tidak mudah untuk menentukan lokasi Ur-Kasdim secara tepat. Biasanya yang ditunjuk sebagai lokasi daerah ini adalah Tell el-Muqayyar, situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Tapi, banyak ahli masih meragukan usulan ini. Sedangkan Haran terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Eufrat.
Beberapa catatan lain bisa dikemukakan untuk menunjukkan hubungan antara Abraham dengan Mesopotamia. Dalam kitab Ulangan 26,3; Nabi Musa mengajak umat untuk berdoa kepada Tuhan saat mempersembahkan panen pertama dengan mengawalinya, Bapaku adalah seorang Aram, seorang pengembara.
Di tempat lain dikatakan, Ishak, anak Abraham, diperintah Abraham untuk mencari istri dari daerah Aram-Mesopotamia (aram-naharayim) (Kejadian 24,2.10). Demikian juga dengan Yakub, cucu Abraham, dia disuruh pergi ke Padan-Aram untuk mendapatkan istri di sana (Kejadian 28,2). Dalam terjemahan Yunani Septuaginta, kedua nama terakhir ini disebut Mesopotamia.
Begitulah, melalui beberapa teks itu kelihatan, Abraham, Bapa Orang Beriman, tampaknya mempunyai hubungan dengan Mesopotamia.
SELAIN petunjuk yang secara eksplisit ada dalam Alkitab, masih bisa ditemukan informasi lain yang menunjukkan pengaruh Mesopotamia yang cukup kuat. Kini sudah lazim diterima bahwa kisah Penciptaan dan kisah Air Bah yang terkenal itu, yang dikisahkan pada bagian awal kitab Kejadian, sebenarnya kuat dipengaruhi sastra Mesopotamia. Biasanya ada tiga karya sastra Mesopotamia yang ditunjuk, yaitu Enuma Elish (dari abad 17 SM), Epic Gilgamesh (abad 20 SM), dan Athrahasis (abad 18-17 SM). Teks-teks itu cukup terkenal dan tersebar luas karena ditemukan dalam berbagai versi dan bahasa, seperti versi Akkadia, Sumeria, Hittit, dan Asyur.
Kemiripan antara sastra Mesopotamia dengan teks-teks Alkitab begitu mencolok sehingga orang mau tidak mau menyimpulkan, ada ketergantungan di antara mereka. Karena teks-teks Mesopotamia berasal dari periode yang jauh lebih tua dari teks-teks Alkitab, maka tidak mengherankan jika bisa disimpulkan, teks Alkitab bergantung pada sastra Mesopotamia itu. Para penulis Israel tampaknya mengambil dan memanfaatkan teks-teks Mesopotamia itu untuk mengungkap keyakinan mereka, sekaligus menyesuaikannya dengan keyakinan itu, terutama di bidang monoteisme: segala yang berbau politeisme dibuang jauh-jauh!
Namun, bila kitab Kejadian disusun oleh para penulis Israel pada awal masa kerajaan, kira-kira abad 10 SM, sementara sampai saat itu tidak ada kontak langsung antara Israel dengan Mesopotamia, lalu dari mana datangnya pengaruh Mesopotamia itu?
Salah satu kemungkinan adalah bahwa kisah-kisah Mesopotamia dibawa ke Palestina-lalu menyebar-saat terjadi perpindahan penduduk besar-besaran dari Mesopotamia yang disebabkan situasi yang agak kacau sekitar abad 19 SM. Kiranya ini juga yang menjadi konteks berpindahnya keluarga Abraham dari Ur ke Haran, lalu ke Kanaan.
Berbagai kebiasaan dan peraturan yang dilakukan para Bapa Bangsa yang tercermin dalam kitab Kejadian ternyata juga menemukan banyak kesamaan dengan kebiasaan dan peraturan yang hidup di daerah Mesopotamia. Sebagai contoh, kekhawatiran Abraham karena dia tidak mendapat keturunan, karena itu harus mewariskan segala miliknya kepada abdinya yang setia, Eliezer (Kejadian 15,1-4), ternyata sejajar dengan praktik yang dilakukan masyarakat Nuzi yang mendiami sebelah timur Sungai Tigris. Hal ini bisa diketahui melalui analisis teks-teks hukum yang berlaku di Nuzi, yang berasal dari abad 15 SM.
Kisah tentang Abraham yang datang ke negeri asing lalu mengaku istrinya sebagai saudarinya (Kejadian 12,10-20) sering membingungkan orang. Tetapi, kini, dengan ditemukannya teks-teks yang berasal dari bangsa Hori di sebelah utara Mesopotamia, berdekatan dengan Haran, hal itu bisa dipahami dengan lebih baik.
Dalam masyarakat Hori, ikatan perkawinan yang paling kuat adalah jika seorang istri sekaligus mendapat status saudari secara hukum. Karena itu, sering terjadi, sesudah perkawinan diadakan upacara lain untuk mengadopsi sang istri menjadi saudari. Hal ini disahkan dengan dua dokumen. Pertama, dokumen tentang perkawinan. Kedua, berkait dengan pengangkatannya sebagai saudari.
SALAH satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan arkeolog Perancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash, dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan.
Perbandingan dengan kumpulan hukum yang ada dalam kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya merupakan sesuatu yang amat masuk akal.
Codex Hammurabi, yang terdiri dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.
Kini, pada milenium ketiga, tanah yang sudah memberi banyak sumbangan bagi umat manusia ternyata masih mengalami penganiayaan, entah sampai kapan. Mungkin Hammurabi sendiri akan menangis melihat kenyataan yang bertentangan dengan apa yang pernah ditulisnya dalam Epilog codex-nya yang menggambarkan tujuannya menuliskan hukum:
Di dadaku kubawa rakyat Sumeria dan Akkadia; mereka berkembang di bawah perlindunganku; aku selalu memerintah mereka dalam kedamaian; aku menaungi mereka dengan kebijaksanaanku.
Agar yang kuat tidak menindas yang lemah; agar para yatim piatu dan para janda mendapatkan keadilan; di Babilonia, kota di mana Anum dan Elil menengadahkan kepalanya; di Esagila, kuil yang dasarnya kokoh kuat seperti langit dan bumi; aku menulis kata-kataku yang berharga ini pada monumenku; dan di hadapan patungku, sebagai raja keadilan, aku menetapkannya untuk mengatur hukum di negeri ini; untuk menentukan peraturan bagi negeri ini; untuk memberi keadilan bagi yang tertindas. Sayang sekali.
3. Yunani
Yunani memiliki kesinambungan sejarah lebih dari 5,000 tahun. Bangsanya, disebut Hellenes, setelah mendiami sebagian besar dari daerah Laut Hitam (Efxinos Pontos) dan Laut Tengah menjelajah daerah sekitarnya, menyusun negara bagiannya, membuat perjanjian-perjanjian komersil, dan menjelajah dunia luar, mulai dari Caucasus sampai Atlantic dan dari Skandinavia samapi ke Ethiopia. Sebuah expedisi terkenal dari gabungan daerah-daerah maritim Yunani ( Danaë atau penduduk laut ) mengepung Troy seperti dinarasikan didalam sebuah karya sastra Eropa besar pertama, Homer’s Iliad. Bermacam-macam penduduk Yunani ditemukan sepanjang Laut Tengah, Asia Kecil, Laut Adriatik, Laut Hitam dan pantai Afrika Utara akibat dari penjelajahan untuk mencari tempat dan daerah komersil baru.
Selama periode Kalsik (Abad ke 5 S.M.), Yunani terdiri dari daerah-daerah bagian kecil dan besar dalam bermacam-macam bentuk internasional (sederhana, federasi, federal, konfederasi) dan bentuk-bentuk internal (kekerajaan, tirani, oligarkhi, demokrasi konstitusional, dan lain-lain) yang paling terkenal ialah Athena, diikuti oleh Sparta dan Thebes. Sebuah semangat kebebasan dan kasih yang membara membuat bangsa Yunani dapat mengalahkan bangsa Persia, adikuasa pada saat itu, didalam peperangan yang terkenal dalam sejarah kemanusiaan- Marathon, Termopylae, Salamis dan Plataea.
Pada paruh kedua abad ke 4 S.M., banyak daerah-daerah bagian di Yunani membentuk sebuah Aliansi (Cœnon of Corinth) yang dipimpin oleh Alexander Agung sebagai Presiden dan Panglima (Kaisar) dari Aliansi, Raja dari Macedonia (“Yunani takabara” dalam bahasa persia kuno) menyatakan perang dengan Persia, membebaskan saudara-saudara mereka yang terjajah, Ionian, dan menguasai daerah-daerah yang diketahui selanjutnya. Menghasilkan sebuah masyarakat yang berkebudayaan Yunani mulai dari India Utara sampai Laut Tengah barat dan dari Rusia Selatan sampai Sudan.
Pada tahun 146 S.M., Aliansi diatas jatuh ke bangsa Romawi. Pada tahun 330, ibukota negara bagian Romawi berdiri didaerah baru, Roma Baru atau Konstantinopel, sebuah bentuk popular, sebuah nama untuk memperingati Kaisar Romawi, pada saat itu, Konstantin Khloros (Konstantin Agung). Para ahli sejarah sejak abad ke 19 lebih memilih, untuk alasan referensi, menamakan periode terakhir sebagai Bizantium dengan tujuan untuk membedakan 2203 tahun wilayah Romawi menjadi dua periode. Selama periode kedua dunia budaya Yunani klasik dari Yunani Kuno berubah menjadi dunia modern masyarakat barat dan kristen. Kata Bizantium diambil dari wilayah yang sudah ada sebelumnya (Bizantium, dengan Megara sebagai Metropolis) dimana ibukota baru berada, Konstantinopel.
Setelah ibukota dan wilayah jatuh ketangan Turki pada tahun 1453, bangsa Yunani berada dibawah kekuasaan Ottoman hampir selama 400 tahun. Selama masa ini bahasa mereka, agama mereka dan rasa identitas diri tetap kuat, yang menghasilkan banyak revolusi untuk kemerdekaan meskipun gagal.
Pada tanggal 25 Maret 1821, bangsa Yunani memberontak kembali, kali ini berhasil, dan pada tahun 1828, mereka mendapatkan kemerdekaannya. Sebagai sebuah negara baru yang hanya terdiri dari sebagian kecil dari negara modern mereka, perjuangan untuk membebaskan seluruh daerah yang dihuni oleh bangsa Yunani berlanjut. Pada tahun 1864, kepulauan Ionian disatukan dengan Yunani; tahun 1881 sebagian dari Epirus dan Thessaly. Crete, Kepulauan Aegean Timur dan Macedonian ditambahkan pada tahun 1913 dan Thrace Barat tahun 1919. Setelah Perang Dunia II kepulauan Dodecanese juga dikembalikan ke Yunani.
4. Islam
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pingasaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS al-Baqarah [2]: 164)
Siapakah yang mendominasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini? Siapakah yang menguasai perekonomian dan perdagangan dunia? Siapakah yang menjadi negara adikuasa di dunia ini? Jawabannya, bukan negara berpenduduk Muslim mayoritas, tapi negara Barat. Negara-negara Barat saat ini menjadi pelopor ilmu pengetahuan dan teknologi serta perdagangan. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi baru selalu berasal dari negara Barat, bukan negara-negara Muslim. Negara-negara Muslim hanya menjadi konsumen (pemakai) dari produk teknologi, bukan pencipta.
Kehidupan negara-negara berpenduduk Muslim mayoritas juga dihimpit kemiskinan. Kecuali Saudi Arabia, Kuwait, dan Malaysia, negara-negara Muslim, berdasarkan data yang dikeluarkan Bank Dunia dan IMF, dikategorikan sebagai negara miskin. Dua realitas ini, yaitu kemiskinan dan kebodohan, selalu mengakrabi kehidupan umat Islam.
Kehidupan umat Islam saat ini jika dibandingkan dengan kehidupan umat Islam di abad ke-10 sungguh sangat kontras sekali. Umat Islam di abad ke-10 mampu menjadi umat yang terbaik (khairu ummah) pada masanya. Saat itu umat Islam mampu menjadi pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan dan menjadi “sumbu” peradaban dunia serta juga mempunyai kekuasaan politik yang terbentang luas.
Di masa yang disebut sebagai masa keemasan Islam ini lahir pemikir-pemikir Muslim yang sampai saat ini namanya masih harum, misalnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd serta Ibnu Khaldun. Ibnu Sina adalah pelopor dalam bidang ilmu kedokteran yang konon buku karangannya fi ‘ilmi at-Thib (tentang ilmu kedokteran) sampai saat ini menjadi rujukan ilmu kedokteran. Ibnu Rusyd disebut masyarakat Barat sebagai “al-Muallim ats-Tsani” (the second teacher), pelanjut filsafat Aristoteles. Sedangkan Ibnu Khaldun adalah pelopor ilmu sosiologi. Buku karangannya yang berjudul al-Muqaddimah disebut sebagai buku sosiologi yang pertama ada di dunia.
Mengapa Umat Islam Mundur
Kemegahan peradaban Islam mulai surut dengan jatuhnya Baghdad di tangan pasukan Mongol. Pasukan Mongol saat meruntuhkan kekuasaan Baghdad membakar habis buku-buku hasil penalaran otak kaum muslim. Menurut A.J. Toynbee, pembakaran buku-buku di perpustakaan Baghdad membuat umat Islam mundur dua abad ke belakang.
Tapi menurut intelektual asal Pakistan Fazlur Rahman, penyebab fundamental kemunduran umat Islam adalah perubahan pola pikir. Setelah masa ini, menurut Fazlur Rahman, umat Islam hanya mengabadikan hasil pemikiran umat Islam masa lalu dan tidak berusaha menggali serta mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga perkembangan pemikiran umat Islam mengalami stagnasi (jumud).
Perubahan lain yang terjadi di tubuh umat Islam setelah kejatuhan Baghdad adalah pandangan terhadap Alquran. Kalau umat Islam di abad ke-10 membaca Alquran dilanjutkan dengan penelitian atas fenomena alam yang ditunjuk Alquran, umat Islam setelahnya membaca Alquran tidak diikuti dengan penelahan atas fenomena alam yang dibicarakan Alquran, tapi sebatas mengimaninya saja. Pembacaan terhadap Alquran hanya ditujukan untuk mendapatkan pahala, tidak lebih.
Inilah penyebab kenapa umat Islam mengalami kemunduran dalam bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan kemiskinan menjalar ditubuh umat Islam karena paham yang menyatakan bahwa baik-buruknya nasib umat Islam adalah suratan takdir Ilahi. Kemiskinan dianggap sebagai takdir Ilahi yang tidak bisa diubah. Padahal dalam sebuah ayat dinyatakan perubahan akan terjadi jika umat Islam mau berusaha merubahnya (QS ar-Ra’d [13]: 11).
Kembali ke masalah ilmu pengetahuan, sebenarnya Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir dan merenungi fenomena alam. Kita bisa melihat dari banyak ayat-ayat Alquran yang memerintahkan umat Islam untuk selalu berpikir, meneliti dan merenungi fenomena alam. Dari olah pikir dan renungan fenomena alam inilah umat Islam akan menemukan sebuah ilmu pengetahuan yang baru yang bisa membangkitkan peradaban. Tapi ironis, ternyata yang melaksanakan perintah berpikir dan merenungi kekuasaan Allah yang “terjelma” di jagad raya adalah non muslim.
Saat ini umat Islam hanya membaca Alquran tidak disertai pemahaman dan penelahaan atas makna kandungannya. Sikap ini sangat dikecam oleh Rasullulah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Hibban Rasulullah bersabda, “Telah diturunkan kepadaku satu ayat tadi malam. Celakalah bagi orang yang membacanya, tetapi tidak mau memikirkan (maksudnya)-nya, celaka baginya.” (HR Muslim & Ibnu Hibban).
Integrasi Imu
Keadaan ini semakin diperparah dengan pola pikir sebagian besar umat Islam yang mendikotomikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum, termasuk sains dan teknologi. Umat Islam menomorduakan sains dan teknologi. Umat Islam menganggap hanya mempelajari ilmu agama yang mendapatkan pahala, sedangkan belajar ilmu pengetahuan umum tidak mendapatkan pahala. Padahal segala usaha yang diniatkan tulus untuk mencapai keridhaan Allah dinilai pahala di sisi-Nya.
Perubahan pola pikir ini atau mengintegrasikan Islam dan ilmu pengetahuan adalah solusi mengeluarkan umat Islam dari keterpurukan dan mengejar ketertinggalannya dari masyarakat Barat. Penghilangan dikotomi antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan Ilmu Agama sebenarnya bisa dilakukan dengan menelaah dan mempelajari kembali ayat-ayat Alquran yang menyeru kaum Muslim untuk mempelajari apa yang ada di langit dan di bumi. Sedangkan mengangkat keterpurukan umat Islam dalam bidang ekonomi bisa dilakukan dengan melaksanakan perintah Alquran kepada umat Islam untuk senantiasa memanfaatkan alam. Berikut ayat yang memerintahkan dua hal tersebut:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS Ali Imran [3]: 190)
“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (QS Yunus [10]: 101)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya),” (QS al-Hijr [15]: 16)
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang mengetahui,” (QS al-An’am [6]: 97)
“Dan kami telah ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” (QS al-Hadid [57]: 25)
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang bersampingan, dan kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain, tentang rasa (dan bentuknya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”. (QS ar-Ra’d [13]: 4)
“Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia! kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itulah keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat yang menyembuhkan bagi bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan,’” (QS an-Nahl [16]: 68-69)
Perintah dari ayat di atas itulah yang diabaikan umat Islam dan dipraktikkan oleh masyarakat Barat sehingga umat Islam mengalami kemunduran dan Barat mencapai kemajuan. Untuk menghibur diri, umat Islam menyatakan kemajuan yang dicapai Barat saat ini tidak lepas dari bantuan umat Islam masa lalu. Hal ini memang benar, tapi realitas umat Islam saat ini seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa romatisme masa lalu tidak akan merubah keadaan. Umat Islam saat ini akan bangkit jika giat melakukan mempelajari ilmu pengetahuan dan memanfaatkan sumber daya alam. Mustahil umat Islam maju tanpa melakukan dua hal ini.
Di abad ke-10 umat Islam maju karena memperlajari ilmu pengetahuan Yunani untuk kemudian mengembangkan dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam. Begitu juga umat Islam saat ini, mereka harus belajar dari Barat karena di sanalah sumber Ilmu pengetahuan sebagaimana Yunani dulu menjadi sumber ilmu pengetahuan.
Umat Islam jangan menganggap segala yang datang dari Barat sebagai hal yang berbahaya bagi agama Islam dan umatnya. Yang diperlukan adalah sikap selektif; membuang yang buruk dan mengambil yang baik. Kemajuan yang dicapai Barat haruslah dipelajari, bukan dimusuhi. Sikap memusuhi apa yang datang dari Barat akan kontraproduktif bagi kemajuan umat Islam.
Wallahu a’lamu bis shawab.
Diantara Ilmuwan Muslim yang berkontribusi dibidang IPTEK:
-
Father of Chemistry: Jabir Ibn Haiyan
-
ABU ABDULLAH AL-BATTANI (Astronomy)
-
Great Optician: ABU ALI HASAN IBN AL-HAITHAM
-
ABU AL-NASR AL-FARABI( Logic, sociology, philosophy)
-
Master Physician: ABU MARWAN IBN ZUHR (Averroes)
-
Doctor of Doctors: Ibn Sina (Avicenna)
-
ALI IBN RABBAN AL-TABARI (Physician , mathematician, sociology)
-
Greatest Botanist and Pharmacist of the Middle Ages: IBN AL-BAITAR
-
AL-FARGHANI (astronomer)
-
Ibn Battuta – The Incredible Traveler
-
ABUL HASAN ALI AL-MASU’DI (Traveler)
-
Father of Surgery: ABU AL-QASIM AL-ZAHRAVI (Abulcasis)
-
ALI IBN RABBAN AL-TABARI (Physician)
-
Discoverer of Pulmonary Circulation : IBN AL-NAFIS
-
IBN RUSHD (Philosophy ,Logic)
-
MOHAMMAD IBN ZAKARIYA AL-RAZI (Chemist, Philosopher)
-
One of the Greatest Mathematicians: MOHAMMAD BIN MUSA AL-KHAWARIZMI
-
NASIR AL-DIN AL-TUSI ( philosopher, mathematician, astronomer, theologian and physician)
-
Thabit Ibn Qurra (mathmatician)
-
OMAR AL-KHAYYAM (mathematician, astronomer, philosopher, physician)
-
YAQUB IBN ISHAQ AL-KINDI (philosopher, mathematician, physicist, astronomer, physician)
-
AL-IDRIS(Botony)
-
ABUL WAFA MUHAMMAD AL-BUZJANI (Mathematician)

Abu RaihaAl-Biruni Ibnu Al-Baitar
Referensi: http://www.dakwatuna.com
http://www.wikipedia.org
http://www.unisosdem.org
http://www.greekembassy.or.id
http://www.cmm.or.id
Nama: Zaid Nasrullah
Kelas: XII IPA ( 3A Mln)
Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung

-6.912430
107.606903