Tag Archive: Ilmu Falak


Ta’rif Ilmu Falak

بسم الله الرحمن الرحيم

A.     Tinjauan Etimologi

            Ilmu Falak merupakan warisan salah satu disiplin ilmu pengetahuan tertua sejak manusia pertama kali membangun sebuah peradaban di muka Bumi dan sampai saat ini terus dipelajari dan dikembangkan dengan memadukan teknologi yang berkembang. Ilmu dan Falak merupakan musytaq[1] dari wazan (عَلِمَ – يَعْلَمُ- عِلْمًا) yang berarti ketahui dan ((فَلَكَ – يَفْلُكُ – فَلْكًا yang artinya bulat – sedangkan orang yang menekuninya disebut الفلكيّ (Falakiy/Astronom). Di dalam Bahasa Arab, kata الفلك sepadan dengan المدار yang artinya orbit[2].

            Ilmu Falak merupakan bentuk tarkib idhafi (frase) yang telah menjadi nama bagi suatu disiplin Ilmu Pengetahuan. Menurut etimologi terdiri dari mudhaf (علم) dan mudhaf ilayh (الفلك) sehingga kita harus memahami pengertian lafadl “علم” dan lafadl “الفلك” terlebih dahulu yang mempunyai arti:

العلم هو الاعتقاد الجازم الثابت المطابق للواقع {تاج العروس ۱: ۷۸۲۵}

Ilmu adalah keyakinan yang kuat dan sesuai dengan realitas sebenarnya.[3]

العلم مص. إدراك الشيئ بحقيقته. اليقين و المعرفة {المنجد}

Ilmu itu penghisapan. Hasil pencapaian sesuatu dengan hakikatnya. Yakin dan ma’rifat (pengetahuan yang pasti).[4]

 العلم هو إدراك الشيئ بحقيقته، ضربان: أحدهما إدراك ذات الشيئ. و الثانى الحكم على الشيئ بوجود شيئ هو موجود له أو نفي شيئ هو نفي عنه {مفردات فى غريب القرآن}

Ilmu ialah memahami satu hal dengan hakikatnya. Ada dua jenis persepsi: Pertama, untuk memahami suatu dzat dan yang kedua, untuk menilai kepada sesuatu dengan suatu wujud, yaitu bahwa tidak ada baginya atau menolak sesuatu untuk menolak.[5]

الفلك هو مجرى الكواكب و تسميته بذلك لكونه كالفلك {مفردات فى غريب القرآن}

Al-Falak adalah tempat beredarnya (berjalannya) benda-benda langit. Dinamai demikian karena bentuknya seperti falak (lingkaran).[6]

الفلك من البحر: موجه المستدير المتردد {المنجد}

Al-Falak : gelombang yang bulat secara berulang-ulang.[7]

            Singkatnya, Ilmu Falak dapat didefinisikan sebagai pengetahuan tentang hakikat lintasan benda-benda langit, yang berarti orbit.[8] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata orbit berarti jalan yang dilalui oleh benda langit digaris peredarannya mengelilingi benda langit lain.

B.    Tinjauan Terminologi

            Seorang ahli falak Persatuan Islam, al-Ustadz A. Ghazali mendefinisikan Ilmu Falak sebagai berikut: “Ilmu Falak ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, Bintang-bintang, dan benda-benda langit lainnya. Dalam Bahasa Inggris disebut PRACTICAL ASTRONOMI.”[9] Uum Jumsa menambahkan: “untuk diketahui suatu benda langit terhadap benda langit lainnya agar diketahui pengaruhnya terhadap perubahan waktu di Bumi.”[10]

            Definisi-definisi di atas mengarahkan ke alam semesta yang beredar menurut garis peredaran yang telah ditentukan oleh yang Mahapengatur. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata beredar adalah berjalan berkeliling (hingga sampai ke tempat permulaan).[11] Sebagaimana dijelaskan di dalam al-Qur’an surat al-Anbiya’ (21): 33 dan Yasin (36): 40.

هو الذى خلق الليل و النهار و الشمس و القمر كل فى فلك يسبحون ﴿الأنبياء (۲۱):۳۳ ﴾

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, Matahari dan Bulan mereka bertasbih pada falak (garis edarnya). (al-Anbiya’: 33)

لاالشمس ينبغى لها أن تدرك القمر و لاالليل سابق النهار و كل فى فلك يسبحون ﴿يس (٣٦): ٤٠﴾

Tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang, masing-masing bertasbih pada falak (beredar pada garis edarnya). (Yasin: 40)

Dari dua ayat inilah kalimat atau kata Falak diambil untuk menamai disiplin ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu perbintangan.

C.     Ruang Lingkup

            Dilihat dari definisi di atas, Ilmu Falak mengisyaratkan betapa luas dan kompleknya kajian yang dikaji – seluas jagat raya yang menghimpun mahkluk-makhluk Allah yang ada di luar angkasa yang saat ini belum bisa mengungkapkan batas alam semesta yang kita tinggali.

            Namun, salah satu ilmu pengetahuan yang paling berpengaruh di dalam Islam ini mulai terkikis karena adanya stagnasi ataupun dikotomi ilmu pengetahuan yang hanya berputar (produk daur ulang) dikalangan kaum muslimin tanpa adanya pengembangan dan penyelidikan lebih lanjut – sehingga Ilmu Falak dipersempit ruang lingkupnya hanya yang berkaitan dengan ibadah saja setelah perkembangan yang begitu menggairahkan di kalangan para Ilmuwan Islam dalam penyelidikan dan pengamatan. Dilihat dari garis besarnya, Ilmu Falak dibagi menjadi dua macam yaitu ilmu Falak ‘Ilmiy, dan ilmu Falak ‘Amaliy. Ilmu Falak ‘Ilmiy disebut juga Theoritical Astronomy.[12] Ilmu Falak ‘Amaliy disebut juga Practical Astronomy. Ilmu Falak ‘Amaliy inilah yang oleh masyarakat disebut sebagai Ilmu Falak atau Ilmu Hisab, sedangkan di bidang Astronomi mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dari ranah teori maupun teknologi.[13]

Bahasan Ilmu Falak yang dipelajari dalam Islam adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah, sehingga pada umumnya ilmu Falak ini mempelajari 4 bidang, yakni:

  1. Arah Kiblat dan Bayangannya (Rashdul Qiblat).
  2. Waktu-waktu Shalat.
  3. Penentuan Awal Bulan dan Akhir Bulan (shaum Ramadhan, Iydul Fithri pada bulan Syawal, dan Iydul Adha pada bulan Dzulhijjah).
  4. Penentuan Gerhana, baik Matahari maupun Bulan.

D.    Cabang-Cabang Ilmu dalam Perbintangan

Hisab at-Taisir

Pengetahuan tentang benda-benda langit dan peredarannya, perhitungan atas perjalanan Matahari dan Bulan, serta penentuan waktu dengannya, seperti waktu terbit Matahari, waktu Matahari berada di tengah, waktu tenggelamnya, waktu ijtima’ (konjungsi) Matahari – Bulan dan waktu terpisahnya, serta waktu gerhana Matahari dan gerhana Bulan.[14]

Ilmu Hisab (علم الحساب)

            Ilmu Hisab ialah ilmu yang mempelajari perhitungan posisi benda-benda langit yang diturunkan melalui perhitungan matematis dan astronomis khususnya untuk keperluan Ibadah.

Ilmu Rashd (علم الرصد)

Ilmu Rashd merupakan bagian dari Ilmu Falak, terkadang Ilmu Falak sendiri disebut Ilmu Rashd karena ilmu ini memerlukan pengamatan – rashd sendiri berarti pengamatan.

Ilmu Miqat (علم الميقات)

            Cabang lain dari Ilmu Falak adalah Ilmu Miqat,  karena ilmu ini berkaitan dengan batas-batas waktu shalat yang tidak terlepas dari batas-batas waktu pengamatan posisi Matahari. Arti dari Miqat sendiri adalah batas-batas waktu, seperti dijelaskan dalam kitab Shahih al-Bukhariy ada bab khusus (مواقت الصلاة و فصلها) yang menjelaskan tentang waktu-waktu shalat disertai dengan deskripsinya.

Ilmu Hai’at (علم الهيئة)

Hai’at, dulu ilmu ini disebut Ilmu Azyaj sebagai cabang dari Ilmu Hai’at. Dan juga populer digunakan untuk ilmu hitung atau aritmatika (al-Jabar), yakni ilmu yang membahas seluk-beluk aritmatika.[15]

Astronomi

Astronomi, secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari astro (άστρο) yang berarti bintang dan nomos (νόμος) yang berarti peraturan/hukum. Secara terminologi ialah ilmu yang mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik, dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit (dan di luar bumi) – juga proses yang melibatkan mereka. Singkatnya, mempelajari hukum-hukum perbintangan baik berupa gerakan dan kondisi fisik benda-benda langit. Tidak seperti astrologi yang memiliki pemahaman bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib kehidupan manusia di Bumi.

Astrofisika

            Penerapan Ilmu Fisika pada alam semesta secara keseluruhan, bukan hanya pada bintang. Selain bintang, ruang lingkup Astrofisika mencakup materi antar bintang, galaksi, quasar, dan kosmologi.

Kosmogoni

            Ilmu yang mempelajari tentang asal-usul alam semesta didasari filsafat dan kepercayaan (agama), bahkan ada ratusan dongeng yang isinya tidak ada yang serupa. Kemudian ilmu ini diperluas tidak hanya mempelajari tentang asal-usul alam semesta dan evolusinya tetapi diperluas meliputi alam semesta dan organisasinya yang mengarah pada teori dan pengamatan sehingga disebut Kosmologi yang berasal dari bahasa Yunani, Cosmos (alam semesta/ruang) dan Logos (bahasa). Singkatnya, kosmologi secara ilmu itu harus berdasarkan perhitungan dan observasi. Sama halnya perkembangan yang terjadi abad ke-18 yang mulai menyelidiki asal-usul tata surya kita Zonnestelsel dalam bahasa Belanda berarti Solar System dalam bahasa Inggris, seperti yang digagas oleh Kant-Laplace dengan “Teori Kabut”.

Kosmografi

            Ilmu yang mempelajari tentang pendataan berkaitan dengan jagat raya. Cosmos berarti alam semesta sedangkan Graphein berarti (menulis). Kosmografi merupakan bagian dari ilmu bintang yang mempelajari sifat-sifat langit perbintangan dengan benda-benda langitnya: Matahari, Bulan, Bintang-bintang, Planet-planet dan sebagainya tetapi benda-benda langit ini dipandang sebagai objek-objek yang amat kecil terhadap Jagat Raya yang sangat luas[16]. Ilmu ini biasa diberikan untuk ikhtisar umum astronomi atau biasa disebut Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa.

Astrobiologi

            Astrobiologi (kadang disebut juga eksobiologi, eksopaleontologi, bioastronomi, dan xenobiologi) adalah kajian tentang asal, evolusi, penyebaran, dan masa depan kehidupan di alam semesta. Bidang ilmu antardisiplin ini meliputi pencarian lingkungan laik huni baik di dalam maupun di luar Tata Surya (eksoplanet), pencarian bukti kimia prebiotik, kehidupan di Mars dan benda lain di Tata Surya, penelitian laboratorium dan lapangan perihal asal dan evolusi awal kehidupan di Bumi, serta kajian potensi makhluk hidup untuk beradaptasi di Bumi dan di luar angkasa.[17]

Arkeoastronomi

            Ilmu yang mempelajari mitos, legenda, kepercayaan, dan pandangan kehidupan-kehidupan kuno atau prasejarah di dunia dalam kaitannya dengan astronomi.


[1] Suatu bentuk kata yang mempunyai akar kata (asal-usul/kata dasar). Dalam Bahasa Arab, kalimat disebut kata dalam Bahasa Indonesia.

[2] Al-Munawir, A. Warson. Kamus al-munawir. Lihat juga kamus al-‘Ashriy.

[3] Maktabah Syamilah

[4] Yasu’i, Abalweis Ma’luf. al-Munjid fil lughat. 1908. Beirut: Muthabi’atul Katsuulikiyyat. hal. 551

[5] Al-Asfahaniy, Raghib. Mufradat fiy Ghariybil Qur’an. hal. 348

[6]  Ibid. hal. 393

[7] al-Munjid fil lughat. Op. cit.

[8] Dalam bahasa Inggris (astronomi populer) Falak disebut dengan orbit.

[9] Ghozaly, Ali. Diktat Ilmu Hisab seri Mabadi. Cianjur: PPI 4. hal. 4

[10] Jumsa, Uum. Ilmu Falak, Panduan Praktis Menentukan Hilal. 2006. Bandung: Humaniora. hal. 1

[11] Pada satu waktu yang sangat panjang mengarungi alam semesta yang berjarak ratusan milyar tahun cahaya (1 detik cahaya = 3 x 105 km/detik), benda langit ini akan kembali pada titik semula.

[12]    Program studi Astronomi sendiri terdiri atas tiga bidang keahlian yaitu Tata Surya, Fisika Bintang, serta Galaksi dan Kosmologi. Pada proses perkuliahannya  akan mendapatkan banyak ilmu yang menarik seperti pada kuliah Lintasan Satelit yang lebih mengarah pada Astronautika, Pengantar Instrumentasi Astronomi yang memperkenalkan kemajuan teknologi instrumentasi dalam Astronomi, dan Sistem Kalender yang nantinya dapat digunakan juga untuk penentuan hilal, yaitu penentuan awal bulan pada sistem penanggalan Islam.

Pada bidang Tata Surya, teman-teman akan mempelajari sistem tata surya beserta ”anggota keluarga” nya. Termasuk juga diantaranya adalah planet, asteroid, planet kerdil, dan lain-lain. Dari pengetahuan tentang planet dapat diturunkan lagi ilmu-ilmu lain, diantaranya komposisi atmosfer planet dan satelit-satelitnya, hingga pencarian planet-planet di luar tata surya yang bisa dihuni.

Pada bidang Fisika Bintang kita mempelajari evolusi bintang, bagaimana bintang terbentuk dari lahir hingga mati, serta bagaimana spektrum bintang. Galaksi dan Kosmologi mencakup komposisi dan bentuk galaksi, materi antar bintang, quark hingga pengembangan alam semesta.

[13] http://id.wikipedia.org/wiki/Falak

[14] Hai’ah Kibaril ‘Ulama. Ilmu ini juga disebut dengan Astronomi.

[15] Izzuddin, Ahmad. Fiqih Hisab Rukyah, Menyatukan NU dan Muhammadiyah dalam Penentuan Awal Ramadhan , Idul Fitri, dan Idul adha. 2007. Jakarta: Erlannga hal. 25

[16] Marsito. Azas-azas Kosmografi (Ilmu Falak). 1959. Jakarta: P.T. Pembangunan. hal. 9

[17] http://id.wikipedia.org/wiki/Astrobiologi

بسم الله الرحمن الرحيم

هو الذي جعل الشمس ضيآء و القمر نورا و قدره منازل لتعلموا عدد السنين و الحساب.

Dialah yang menjadikan Matahari bersinar dan Bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.{Q.S. Yunus: 5}

و القمر قدرنـــه منازل حتى عاد كالعرجون القديم. لاالشمس ينبغي لهآ أن تدرك القمر ولاالليل سابق النهار وكل فى فلك يسبحون.

Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaranyang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (39) tidaklah mungkin bagi Matahari mengejar Bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.{Q.S. Yasin: 39-40}.

Q.S. al-Baqarah: 189, Q.S. al-Isra’: 12, Q.S. al-An’am: 96, Q.S. ar-Rahman: 5, Q.S. ar- Ra’d: 2, Q.S. al-Anbiya:33, Q.S. at-Taubah:36 dsb.

عن محمد بن زياد قال سمعت أباهريرة رضي الله عنه يقول قال النبي صلى الله عليه وسلم أو قال أبو القاسم صلى الله عليه و سلم صوموا لرؤيته و أفطروا لرؤيته فإن غبي عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين {صحيح البخارى (كتاب الصوم): ٤٧٩}

            Dari Muhammad bin Ziyad, ia mengatakan, “Saya mendengar Abu Hurayrah r.a. mengatakan Nabi S.A.W. bersabda atau Ia berkata, Abul Qasim S.A.W. bersabda ‘Shaumlah karena melihatnya (Hilal)dan berbukalah (Iyd) karena melihatnya. Apabila terhalang atas kalian, sempurnakanlah bilangan (bulan)Sya’ban menjadi tiga puluh.’” {Shahih al-Bukhari (Kitab Shaum): 479}[1].

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال إنا أمة أمية لانكتب و لانحسب الشهر هكذا و هكذا يعنى مرة تسعة و عسرين و مرة ثلاثين {صحيح البخارى (كتاب الصوم): ٤٧٩}

Dari Ibnu Umar r.a. dari Nabi S.A.W. sesungguhnya Beliau bersabda: “Sesungguhnya kami adalah umat yang Ummi, kami tidak pandai menulis dan berhitung. Sebulan itu begini dan begini. Maksudnya, kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari. {Shahih al-Bukhari (Kitab Shaum): 479}[2].

Pengertian berbagai metode Hisab yang populer di Indonesia:

Hisab Urfi                            : dalam bahasa arab, “Urfi” berarti kebiasaan atau kelaziman. Sistem perhitungan kalender yang didasarkan pada rata-rata Bulan mengelilingi Bumi dan ditetapkan secara konvensional[3].

Hisab Taqribi                        : dalam bahasa arab, “Taqrabu” berarti pendekatan. Sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis, namun menggunakan rumus-rumus yang sederhana sehingga hasilnya kurang teliti[4]. Kitab Hisab Taqribi: Sulamun Nayirayn, Fathur Rauful Manan, al-Qawaidul Falakiyah.

Hisab Hakiki                        : “Haqiqi” berarti realitas atau yang sebenarnya. Sistem hisab hakiki ini sudah mulai menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematis serta rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian standar[5]. Kitab Hisab Hakiki: Hisab haqiqi, Tadzkiroh Al-ihwan Badi’ah Al-mitsal dan Menara Qudus An-nahij Al-hamidiyah Al-khuasial Wafiyah dsb.

Hisab Hakiki Tahkiki           : Sistem hisab ini memakai metode perhitungan berdasarkan teori-teori astronomi modern dan ilmu ukur segitiga bola serta berdasarkan pengamatan baru[6]. Kitab Hisab Hakiki Tahkiki: al-falakiyah Nurul Anwar.

Hisab Hakiki Kontemporer  : Hisab yang berdasarkan astronomi modern, matematika kontemporer, dan menggunakan alat-alat elektronika modern (software) koreksi-koreksi posisi Bulan dan Matahari lebih kompleks dan lebih teliti[7]. Kitab Hisab Hakiki Kontemporer: Jean Meeus, New Comb, Astronomical Almanac, Mawaqit Ascrip.

Faktor yang dominan dalam penampakan Hilal[8] adalah jarak sudut Bulan-Matahari dan tinggi Hilal saat Matahari terbenam. Orang-orang Babilonia kuno sudah memiliki kriteria sendiri untuk hal ini, bahwa Hilal dapat dilihat saat Hilal mencapai usia lebih dari 24 jam setelah konjungsi. Fotheringham, dengan menggunakan hasil pengamatan orang-orang Yunani, menurunkan kriteria visibilitas Hilal berdasarkan beda azimut Bulan-Matahari dan tinggi Hilal dari ufuk. Telaah Fotheringham ini kemudian dikembangkan oleh Maunder yang selanjutnya disempurnakan lagi dalam Indian Astronomical Ephemeris. Dari ketiga kriteria ini, untuk beda azimut yang membesar, tinggi Hilal dari ufuk yang diperlukan agar Hilal dapat teramati makin berkurang. Jadi tinggi Hilal untuk beda azimut 10 derajat, lebih rendah daripada tinggi hilal bila beda azimutnya 5 derajat.

Seorang berkebangsaan Prancis, A. Danjon, pada tahun 1932 mengadakan telaah atas pengurangan efek tanduk bulan sabit dan hasil penelitiannya menunjukkan bahwa jarak sudut Bulan-Matahari sebesar 7o merupakan batas bawah Hilal dapat teramati oleh mata bugil. Meskipun hasil di atas disempurnakan oleh M. Ilyas, peneliti berkebangsaan Malaysia, pada tahun 1988 yang menghasilkan angka 10,5 derajat untuk jarak sudut Bulan-Matahari pada beda azimut 0o agar Hilal dapat dilihat, keduanya sepakat untuk satu hal, bahwa hilal harus berada pada suatu ketinggian yang cukup untuk dapat dirukyat (diamati) oleh semua orang yang secara geografis berada dalam wilayah (regional) yang sama.

Kaidah penampakan Hilal dalam langit senja di ufuq Barat secara umum adalah: (1) Langit cerah atau cukup cerah berawan tipis (2) Waktu pengamatan telah melewati waktu konjungsi/ijtima’ (3) Waktu penampakan Hilal dalam senja nautika (jarak Zenith Matahari sekitar 95o atau 96o) (4) Pada saat Matahari terbenam dan bahkan Matahari mencapai jarak zenith sekitar 95 atau 96 derajat posisi Bulan masih harus di atas ufuq. Penampakan Hilal umumnya dalam langit senja nautika ketika kedudukan Matahari mencapai 5 atau 6 derajat di bawah ufuq atau di bawah horizon barat. Senja nautika di antara senja sipil dan senja astronomi (5)

Ukuran luas sabit Bulan sedemikian rupa sehingga bisa cukup terang dan mudah dideteksi oleh mata bugil manusia[9].

Pengamatan Pierce: Hilal termuda mempunyai usia 15 jam 33 menit pada tanggal 25 Februari 1990, pertama terlihat jam 23:55 UT[10]. Akan tetapi, umur Hilal termuda yang pernah atau berhasil dirukyat saat umur Hilal 13 jam 24 menit pada tanggal 5 Mei 1989 (6 Mei UT) di Houston, Texas, AS. oleh M. Iqbal Badat (beserta keluarganya) & Saleh al-Thani[11].

Berbagai pandangan mengenai kriteria dan prinsip Penentuan Awal Ramadhan dan Syawal:

Kriteria Hisab:

  1. Ijtima’ Qabla Fajr
  2. Ijtima’ Qabla Ghurub.
  3. Wujudul Hilal 4. Imkanur Rukyat / Visibilitas Hilal: Kriteria Danjon, Istambul, Ilyas, termasuk LAPAN[12]:

- Beda tinggi Bulan – Matahari (Irtifa’)  > 4o

- Jarak sudut Bulan – Matahari (Elongasi) > 6,4o

 

Prinsip:

  1. Rukyat Global
  2. Wihdatul Mathali
  3. Wilayatul Hukmi

[1] Jumsa, Uum. 2006. Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Bandung: Humaniora. hal: 1

[2] http://mutiary.wordpress.com/2009/02/12/perbandingan-metode-hisab-dengan-meode-rukyat-dalam-menentukan-awal-bulan-hijriyah/

[3] Ibid.

[4] Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Loc. cit. hal: 5

[5] Ibid.

[6] Hilal adalah pantulan sinar Bulan ke Bumi yang berbentuk lengkungan yang sangat tipis pada hari pertama dan ke dua penanggalan bulan Hijriyah

[7] Raharto, Moedji. 2009. Ramadhan 1430 H 29 atau 30 Hari?. Bandung. Bosscha. Makalah ini disampaikan pada hari kamis 20 Agustus 2009 saat observasi Hilal di Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung

[8] Ibid.

[9] Djamaluddin, Thomas. 2006. Menjelajah Keluasan Langit  Menembus Kedalaman al-Qur’an. Bandung: Khazanah Intelektual.

[10] http://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/13/hilal-syari-vs-hilal-astronomis-awal-ramadhan-1431/


[1] al-Bukhariy, Muhammad bin Isma’il. 2003. Shahih al-Bukhariy Kitab Shaum. Kairo: Maktabah Shorouq ad-Dauliyah hal. 479

[2] Ibid. Hal: 479

Gerhana (Kusuf)

بسم الله الرحمن الرحيم

Salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah yang sering kita lihat adalah terjadinya Gerhana. Hampir setiap tahun diseluruh dunia gerhana kerap terjadi dan sesuatu yang lumrah bagi masyarakat.  Di dalam Kitab Nailul Authar dan Sarah Bulughul Maram (Subulus Salam) dapat mendefinisikan kejadian gerhana secara ilmiah yaitu tertutupnya oleh bayangan. Dalam bahasa Arab, gerhana Matahari disebut Kusuf sedangkan gerhana Bulan disebut Khusuf, bandingkan dengan kepercayaan lain selain Islam pada zamannya.

الكسوف لغة : التغير إلى السواد ومنه كسف فى وجهه وكسفت الشمس أسودة وذهب شعاعها {نيل الأوطار:14,4}

الكسوف لغة : التغير إلى السواد. والخسوف : النقصان {سبل السلام (صلاة الكسوف) :73,2}

Kusuf menurut bahasa adalah “Perubahan ke bentuk warna hitam dan perubahannya itu menutup permukaan bagian depan (wajah)sampai hilangnya bayangan.”{Nailul Authar (4):14}. Sedangkan Khusuf adalah Penurunan {Subulus Salam (Shalat Kusuf) Juz: 2, 73}

Gerhana disebabkan karena adanya bidang lintasan Bulan dengan Matahari (bidang Ekliptika) membentuk sudut 5.1o. Bidang Ekliptika dengan bidang Elips lintasan Bumi membuat sudut 0o – jadi berimpit. Perpotongan bidang itu pada bola langit disebut simpul. Bumi dan Bulan menerima sinar dari Matahari, kedua benda langit ini mempunyai bayang-bayang yang seperti kerucut. Bayang-bayang kerucut Bumi kira-kira empat kali bayang-bayang Bulan itu diakibatkan ukuran Bumi yang lebih besar dan jarak yang cukup jauh dari Bulan.

Terjadinya gerhana apabila Bulan bertepatan berada pada salah satu simpulan perpotongan antara orbit Bulan dan orbit Matahari sehingga Matahari – Bulan – Bumi atau Matahari – Bumi – Bulan terletak pada suatu garis lurus. Gerhana Matahari terjadi pada akhir bulan Qamariyah (fase mati) sedangkan gerhana Bulan terjadi ketika Bulan pada fase Purnama yaitu pertengahan Bulan Qamariyah (13, 14, 15). Gerhana Matahari yang sempurna paling lama 7 menit sementara gerhana Bulan 100 menit dikarenakan bayangannya sangat panjang.

Di dalam Ilmu Falak (Astronomi) gerhana terbagi kepada 6 bagian yaitu gerhana Matahari total, gerhana Matahari cincin (Annular), gerhana Matahari sebagian (Parsial), gerhana Bulan total, gerhana Bulan sebagian, dan gerhana Bulan Penumbra.

Alhamdulillah Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui gerhana baik Matahari maupun Bulan, dalam setahun ini (2009) insya Allah akan terjadi 6 kali gerhana di seluruh dunia salah satunya tanggal 26 januari 2009 akan terjadi gerhana Matahari cincin atau disebut juga Annular dimana sudut Bulan tidak menutupi seluruh cahaya Matahari ke arah Bumi kita sehingga akan berbentuk cincin. Namun tanggal 22 juli 2009 terjadi gerhana Matahari total sehingga mutiara-mutiara langit pun akan terlihat karena saking gelapnya. Sepanjang tahun 2010 insya Allah akan terjadi 4 gerhana yang dapat kita nikmati di seluruh dunia sementara tahun 2011 ada 6. Kejadian gerhana di bawah ini mengacu pada waktu di Greenwich atau UT (Universal Time)

Gerhana Matahari Total akan terlihat pada tanggal 22 juli 2009 di seluruh dunia tapi di Indonesia akan terlihat sebagian di wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, sedangkan di Irian Jaya bisa teramati. Gerhana matahari total ini terjadi karena cahaya matahari tertutup oleh bulan seluruhnya. Insya Allah gerhana ini akan terlihat lagi pada tanggal 11 Juli 2010, 13 November 2012 dan 9 Maret 2016.

Gerahana Matahari Cincin sebagai mana kita ketahui dan kita saksikan pada tanggal 26 januari 2009 hampir seluruh indonesia bisa melihat secara langsung walaupun di beberapa wilayah Indonesia berawan sehingga tidak dapat menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah akan tetapi masih bisa melaksanakan shalat kusuf . Gerhana ini terjadi akibat cahaya Matahari terhalang oleh Bulan tetapi karena jaraknya yang terlampau dekat atau jauh sehingga menyisakan cahaya Matahari yang menyerupai cincin karena bagian bola Matahari yang tampak dari Bumi layaknya piringan itu tidak seluruhnya tertutup oleh bayang-bayang Bulan. Bagian yang terlihat oleh kita yang di Bumi hanya sebagian kecil seperti layaknya sabit Bulan tapi ini Matahari, ya seperti sabit Matahari. Inilah Cincin dari sebagian cahaya Matahari. Sketsa terjadinya Gerhana Matahari kurang lebih sebagai berikut:

sketsa_gerhana_pakarfisika

Sehingga nanti kita melihat Matahari Sabit, kalau tiap bulan itu yang kita lihat adalah Bulan Sabit. Bukan sekedar Gerhana Matah

ari, tetapi juga Gerhana Bumi – kalau kita melihat matahari lalu tertutup oleh rembul

an, kita jadi melihat gerhana matahari. Maka kalau kita mau melihat Bumi lalu juga tertutup oleh rembulan, jadinya yaa gerhana Bumi. Insya Allah gerhana ini akan terjadi kembali pada tanggal 15 Januari 2010, 20 Mei 2012, 10 Mei 2013, 29 April 2014 dan 1 September 2016.

Gerhana Matahari Sebagian merupakan fenomena gerhana yang hanya menyisakan cahaya Matahari pada garis ekliptika tetapi tidak sempurna. Gerhana ini dapat diamati lagi pada 4 Januari, 1 Juni, 1 Juli, dan 25 November 2011, 23 Oktober 2014, dan 13 September 2015.

Gerhana Bulan Total sebagaimana kita saksikan beberapa tahun yang lalu sempat berwarna merah dan bahkan masyarakat ada yang menyebut Bulan itu berdarah. Gerhana ini terjadi akibat bayangan bagian umbra Bumi menutup cahaya Bulan sehingga menjadi gelap total serta pembiasan atmosfir. Gerhana Bulan Total insya Allah dapat diamati kembali pada tanggal 21 Desember 2010 dan 15 Juni, dan 10 Desember 2011, 15 April dan 8 Oktober 2014, 4 April dan 28 September 2015.

Gerhana Bulan Sebagian sebagaimana yang insya Allah akan kita saksikan pada tanggal 1 Januari 2009. Gerhana ini terjadi akibat bayangan bagian umbra Bumi sebagian menutup cahaya pantulan Bulan dan sisanya menyentuh bagian bayangan Penumbra (bayangan yang lebih terang) sehingga kita dapat melihat sebagian Bulan. Gerhana ini akan teramati kembali pada tanggal 26 Juni 2010 dan 4 Juni 2012, dan 25 April 2013.

Gerhana Penumbra terjadi karena menyentuh daerah penumbra sebagai mana sudah kita saksikan khususnya penulis beserta kawan-kawan dari AstroFun Club 107˚ 37′bersama Hendro Setyanto M. Si. & Judhistira Aria Utama M. Si. pada tanggal 9 Februari 2009. Gerhana ini tidak seperti gerhana pada umumnya yaitu cahaya Bulan ditutupi oleh bayangan Bumi yang lebih terang (penumbra) sehingga dapat dilihat dengan jelas seolah-olah tidak terjadi gerhana tetapi dapat diketahui melalui suatu alat pendektesi gerhana penumbra. Insya Allah akan terjadi kembali pada tanggal 7 Juli, 6 Agustus 2009, 28 November 2012, 25 Mei dan 18 Oktober 2013, 23 Maret dan 16 September 2016.

Namun pada hakikatnya kita selaku hamba Allah yang sangat lemah akan segalanya kita hanya bisa kembali berserah diri kepada-Nya sehingga dengan Rahman dan Rahim-Nya Allah telah memerintahkan untuk melaksanakan tuntunan ibadah sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW pada hari senin tanggal 27 Januari 632 Masehi yang kemudian dikenal shalat kusuf atau khusuf. Adapun tata caranya silahkan klik link Tata Cara Shalat Kusuf/Khusuf.
Pada kesempatan kali ini penulis mencoba memberikan gambaran bagaimana cara menghitung gerhana – baik Matahari maupun Bulan.

Cara mencari kemungkinan Kusuf atau Khusuf, misalnya tahun 1431 H apakah ada Kusuf.

1. Tulis data tahun 1431 H        = 3340 17’01”

2. Tulis data akhir Muharam      =  300 40’14” +

Jumlah            = 3640 57’15”

3. Cari angka 364 pada data Kusuf! Bila ada insya Allah terjadi Kusuf

Sedangkan perhitungan gerhana bulan sama dengan perhitungan pada gerhana matahari.

Tabel untuk mencari kemungkina terjadi Kusuf/Khusuf.

Kusuf

Kusuf

Khusuf

Khusuf

159

160

161

162

163

164

165

166

167

168

169

170

171

172

173

174

175

176

177

178

179

180

181

182

183

184

185

186

187

188

189

190

348 

349

350

351

352

353

354

355

356

357

358

359

360

001

002

003

004

005

006

007

008

009

010

011

012

013

014

015

016

017

018

019

020

165 

166

167

168

169

170

171

172

173

174

175

176

177

178

179

180

181

182

183

184

185

186

187

188

189

190

191

192

193

194

345 

346

347

348

349

350

351

352

353

354

355

356

357

358

359

360

001

002

003

004

005

006

007

008

009

010

011

012

013

014

1427    3020 05’49”     Kusuf = Gerhana Matahari

1428    3100 08’37”     Akhir Muharam              300 40’14”

1429    3180 11’25”     Akhir Safar                          610 20’28”

1430    3260 14’13”     Akhir Rabiul Awwal        920 00’42”

1431    3340 17’01”     Akhir Rabiul Akhir        1220 40’56”

1432    3420 19’49”     Akhir Jumadil Awwal    1530 21’10”

1433    3500 22’37”     Akhir Jumadil Akhir    1840 01’24”

1434    3580 25’25”     Akhir Rajab                       2140 41’38”

1435        60 28’13”     Akhir Sya’ban                   2450 21’52”

1436      140 31’01”     Akhir Ramadhan            2760 02’06”

1437      220 33’49”     Akhir Syawal                   3060 42’20”

1438      300 36’37”     Akhir Dzulqa’dah           3370 22’34”

1439      380 39’25”     Akhir Dzulhijjah                   80 02’48”

1440      460 42’13”

1441      540 45’01”

1442      620 47’49”     Khusuf = Gerhana Bulan

1443      700 50’37”     Muharam                            150 20’07”

1444      780 53’25”     Safar                                       460 00’21”

1445      860 56’13”     Rabiul Awwal                      760 40’35”

1446      940 59’01”     Rabiul Akhir                     1070 20’49”

1447    1030 01’49”     Jumadil Awwal               1380 01’03”

1448    1110 04’37”     Jumadil Akhir                  1680 41’17”

1449    1190 07’25”     Rajab                                    1990 21’31”

1450    1270 10’13”     Sya’ban                              2300 01’45”

1451    1350 13’01”     Ramadhan                          2600 41’59”

1452    1430 15’49”     Syawal                                  2910 22’13”

1453    1510 18’37”     Dzulqa’dah                        3220 02’27”

1454    1590 21’25”     Dzulhijjah                             3520 42’41”

1455    1670 24’13”

1456    1750 27’01”

1457    1830 29’49”

1458    1910 32’37”

1459    1990 35’25”                 1 th =   080 02’48″

1460    2070 38’13”

Dan seterusnya tinggal ditambah 080 02’48” dalam satu tahun

Dari Ijtima ke Istiqbal     : 150 20’07”

Dari Ijtima ke Ijtima       : 300 40’14”

Ada juga perhitungan dengan membutuhkan Zij (Ephemeris) sebagai data tambahan dalam menentukan Gerhana Bulan dan Matahari, Waktu Shalat, Ketinggian Hilal, dan sebagainya. Tapi penulis tidak akan membahas secara spesifik waktu kapan  terjadinya Gerhana karena belum dipelajari secara mendalam.

Ada  cara lain menghitung kemungkinan terjadinya gerhana

Tahun 1431 H  = 3340 17’01”

Ramadhan        = 2760 02’06” +

6100 19’07” – 3600 = 2500 19’7”

(Tidak cocok dengan tabel terjadi gerhana) lihat tabel Kusuf!

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

Sumber:

Buku:

Dewan HISBAH PP PERSIS. 2005. Risalah Shalat. Bandung: Risalah Press.

Jumsa, Uum. 2006. Ilmu Falak Panduan Praktis Menentukan Hilal. Bandung: Humaniora.

Rahman, Dedy dan Kosim Kusnadi. 2003. Kaifiyat Shalat Nabi SAW. Bandung: Majlis Ta’lim Ibadurrahman.

Simamora, P. 1984. Ilmu Falak ( Kosmografi). Jakarta: CV Pedjuang Bangsa.

Web:

http://eclipse.gsfc.nasa.gov/eclipse.html

http://pakarfisika.wordpress.com/

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.