Tag Archive: Astronomi Populer


Aurora, Cahaya Kutub

بسم الله الرحمن الرحيم

Aurora, itulah nama sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya interaksi antara partikel-partikel Matahari yang terjebak dalam medan magnet dan atmosfer Bumi yang mengalir turun sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi ke kutub-kutub Bumi dan bertabrakan dengan atom nitrogen dan oksigen di atmosfer sehingga terjadinya badai geomagnetik yang menghasilkan tirai cahaya berwarna-warni di beberapa lokasi berlintang tinggi[1]. Penamaan Aurora sendiri diambil dari bahasa Yunani[2] yaitu Dewi Fajar Rom[3].

Partikel-partikel yang dilontarkan oleh Matahari disebut dengan Flare, Matahari merupakan sebuah bintang – yaitu bola plasma panas yang ditopang oleh gaya gravitasi. Di pusat Matahari (nomor 1), terjadi reaksi nuklir (fusi) yang mengubah 4 atom hidrogen menjadi 1 atom helium. Reaksi fusi tersebut, selain menghasilkan helium, juga menghasilkan energi dalam jumlah melimpah (ingat persamaan terkenal oleh Einstein: E=mc2). Energi yang dihasilkan, di pancarkan keluar melewati bagian-bagian Matahari, yaitu: zona radiatif (nomor 2), zona konventif (nomor 3), dan bagian atmosfer Matahari, yang terdiri dari fotosfer (nomor 4), kromosfer (nomor 5), dan korona (nomor 6). Dan badai Matahari adalah peristiwa yang berkaitan dengan bagian atmosfer Matahari tersebut.

Bagian terluar dari Matahari, yaitu korona, memiliki temperatur yang mencapai jutaan kelvin. Dengan temperatur yang tinggi tersebut, materi yang berada di korona Matahari memiliki energi kinetik yang besar. Tarikan gravitasi Matahari tidak cukup kuat untuk mempertahankan materi korona yang memiliki energi kinetik yang besar itu. Dan secara terus menerus, partikel bermuatan yang berasal dari korona, akan lepas keluar angkasa. Aliran partikel ini dikenal dengan nama angin matahari, yang terutama terdiri dari elektron dan proton dengan energi sekitar 1 keV. Setiap tahunnya, sebanyak 1012 ton materi korona lepas menjadi angin matahari, yang bergerak dengan kecepatan antara 200-700 km/s.

Berbeda dengan pusat Matahari yang relatif sederhana, bagian atmosfer Matahari relatif lebih rumit. Karena di atmosfer Matahari ini, medan magnetik Matahari berperan besar terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalamnya. Ada berbagai fenomena menarik diamati di atmosfer Matahari berkaitan dengan medan magnetik Matahari, seperti bintik matahari (sun spot), ledakan Matahari (solar flare)[4], prominensa, dan pelontaran material korona (CME – Coronal Mass Ejection)[5]. Hal-hal inilah yang berkaitan dengan badai Matahari[6].

Ledakan yang terjadi di Matahari tersebut diklasifikasikan dalam beberapa kelas berdasarkan kecerlangannya pada panjang gelombang sinar-x antara 1 – 8 Angstroms. Setidaknya ada 3 klasifikasi utama dalam flare Matahari yakni :

  1. Flare kelas X, merupakan klasifikasi untuk ledakan yang paling besar dan dasyat yang terjadi di Matahari. Ledakan kelas ini bisa menyebabkan terjadinya gangguan pada jaringan listrik karena transformator dalam jaringan listrik akan mengalami kelebihan muatan, gangguan telekomunikasi (merusak satelit, menyebabkan black-out frekuensi HF radio, dll), navigasi, menyebabkan korosi pada jaringan pipa bawah tanah dan terjadinya badai radiasi yang panjang di lapisan teratas atmosfer.
  2. Flare kelas-M, merupakan ledakan kelas menengah yang kekuatannya 1/10 dari energi fluks flare kelas X. Biasanya flare di kelas ini hanya meyebabkan terjadinya pemadaman (blackout) singkat pada frekuensi radio khususnya untuk area kutub dan badai radiasi yang minor.
  3. Flare kelas-C, jika dibandingkan dengan kelas M dan X, kelas C jelas merupakan flare yang terhitung berskala kecil dan hampir tidak memiliki akibat pada Bumi. Kekuatannya 1/10 energi fluks flare kelas M.

Kelas

 Puncak (W/m2)antara 1 dan 8 Angstroms

B

I< 10-6

C

10-6 < = I < 10-5

M

10-5< = I < 10-4

X

I> = 10-4

Yang pasti, fenomena badai geomagnetik setelah terjadinya flare Matahari sebagai akibat interaksi medan magnetik Bumi dan materi bermuatan yang terlepas dari Matahari menyajikan keindahan tirai cahaya warna warni yang dikenal sebagai aurora di area kutub dan area lintang tinggi.

Singkatnya, badai Matahari adalah kejadian dimana aktifitas Matahari berinteraksi dengan magnetik Bumi. Badai Matahari ini berkaitan lansung dengan peristiwa solar flare dan CME. Kedua hal itulah yang menyebabkan terjadinya badai Matahari.

Beruntung, kita diberi magnet alami untuk menangkal partikel berenergi tinggi ini sebagaimana dalam al-Qur’an surat al-Anbiya’: 32

وَجَعَلْنَا السَّمَاءَ سَقْفًا مَحْفُوظًا وَهُمْ عَنْ آَيَاتِهَا مُعْرِضُونَ {الأنبياء:23}

“Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah).”

 Jika partikel bermuatan dipaksa melintasi medan magnetik maka ia akan diarahkan oleh medan magnetik Bumi, untuk bergerak sesuai dengan garis-garis medan magnetik Bumi, meninggalkan suatu daerah berbentuk komet di sekitar Bumi kita yang disebut magnetosfer menuju ke arah kutub utara dan kutub selatan magnetik Bumi sehingga suatu arus listrik (induksi) dapat dihasilkan melalui suatu kumpulan interaksi-interaksi yang kompleks, beberapa dari partikel-partikel bermuatan dapat menembus ke dalam magnetosfer ini berkumpul dalam beberapa zone di sekitar Bumi. Arus listrik yang dibangkitkan memberikan energi untuk mempercepat  beberapa dari partikel-partikel ini kembali menuju Bumi, sejajar dengan garis-garis gaya magnetik yang berasal dari kutub-kutub magnetik utara dan selatan. Saat partikel-partikel energetik tersebut berbenturan dengan partikel udara dalam atmosfer Bumi, ia akan menyebabkan partikel udara (terutama nitrogen) terionisasi dan mengeksitasi atom-atom dan molekul-molekul lainnya ketingkat energi lebih tinggi (keadaan eksitasi). Ketika atom-atom dan molekul-molekul ini kembali ke keadaan dasarnya dengan cara membebaskan energi, atom-atom dan molekul-molekul ini memancarkan radiasi dengan panjang gelombang tertentu. Panjang gelombang-panjang gelombang cahaya tampak yang dipancarkan menghasilkan AURORA[7].

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام والمسلمين


[1] http://langitselatan.com/2010/08/04/dari-flare-matahari-hingga-aurora/

[2] Aurora yang terjadi di belahan utara dinamai Aurora Borealis sedangkan yang terjadi di selatan Aurora Australis.

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/aurora

[4] Ledakan di Matahari akibat terbukanya salah satu kumparan kumparan medan magnet permukaan Matahari. Ledakan ini melepaskan partikel berenergi tinggi dan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang sinar-x dan sinar gamma.

[5] Pelepasan material dari korona yang teramati sebagai letupan yang menyembur dari permukaan Matahari. Dalam semburan material korona ini, sekitar 2×1011 – 4×1013 kilogram material dilontarkan dengan energi sebesar 1022 – 6×1024 joule. Material ini dilontarkan dengan kecepatan mulai dari 20 km/s sampai 2000 km/s, dengan rata-rata kecepatan 350 km/s. Untuk mencapai Bumi, dibutuhkan waktu 1-3 hari

[6] Langitselatan. Loc. cit.

[7] Kanginan, Marthen. Fisika 2000 SMU kelas 2. 2003. Jakarta; Erlangga. hal 126-127.

Pluto

بسم الله الرحمن الرحيم

Angkasa luar ruang hampa tak bertepi yang rahasianya masih tak terungkap oleh Ilmu Pengetahuan. Susunan di antara ciptaan Allah yang tersebar di alam semesta ini berupa miliaran Galaksi, Bintang, Planet, Komet, Asteroid, Meteor dan benda angkasa lainnya tersusun dengan sangat rapih untuk menjaga keseimbangan alam semesta yang kita tempati. Salah satu keteraturan yang ada di alam semesta ini adalah Tata Surya kita yang mempunyai 8 Planet, puluhan Satelit, ratusan Komet, ribuan Asteroid dan Meteor serta ratusan ribu benda angkasa lainnya yang selalu setia berthawaf mengelilingi pusat Tata Surya yaitu Matahari kita.

Matahari sendiri mempunyai Planet yang kontrofersial sejak awal tahun 1990-an saat ditemukan benda angkasa lainnya kemudian seiring berjalannya waktu dan perkembangan astronomi modern berubah statusnya menjadi Dwarf Planet (Planet Katai). Namun ada juga yang tetap mempertahankannya sebagai Planet karena memiliki atmosfer, musim, dan  bentuk bundar seperti layaknya Planet lain.

  1. Sejarah Penemuan

Kalau melihat sejarahnya, Pluto sebenarnya ditemukan lantaran adanya teori mengenai planet kesembilan dalam sistem Tata Surya Bimasakti yaitu Planet X. Posisinya telah diperkirakan dengan tepat sabelumnya oleh Percival Lowell karena penelitian Pluto didasarkan adanya gangguan pada Planet Uranus dan tidak cukup hanya karena adanya gerakan (pengaruh) dari Planet Neptunus. Tahun 1905 Astronom Amerika (William Pickering dan Percival Lowell) untuk pertama kalinya melakukan pengamatan dengan nama Planet X-nya. Setelah empat tahun tanpa hasil mereka melakukan pengamatan dengan survey langit fotografis sampai wafatnya Percival Lowell pada tahun 1916.

Pickering melanjutkan pencariannya dengan nama Planet O. Dia menghitung ulang perhitungan yang sebelumnya ketika melakukan penelitian bersama Lowell. Kemudian, dengan metode fotografislah dia melanjutkan penelitiannya sampai menyerah pada tahun 1929. Padahal dalam pencariannya Planet ini berhasil empat kali terekam di pelat potretnya namun Ia tidak tahu bahwa Ia berhasil menemukan Planet O itu[1].

Tetapi Planet Tombaugh (Pluto) lebih kecil dan lebih dekat ke Matahari dari yang diperkirakan oleh Lowell. Benda mungil ini pertama kali ditemukan di luar orbit Neptunus pada tanggal 18 Februari 1930 oleh Clyde William Tombaugh (1906-1997) seorang asisten di Observatorium Lowell di Flagstaff, Arizona[2] tempat Dia bekerja yang direkrut oleh seorang Direktur Observatorium (Dr. Vesto Slipher). Karena tidak mampu belajar ke Universitas, Dia membuat teleskop (Newtonian) sendiri untuk mempelajari Bintang dan Planet. Setelah Observatorium itu mendapatkan teleskop pantul (Reflektor) baru dengan diameter 33 cm dia menemukan planet kerdil aneh itu. Namun sebelumnya pada tahun 1929 Ia sudah berhasil memotretnya tetapi Ia tidak mengenali Planet ini  karena dianggap sebuah bintang yang cahayanya lemah. Kemudian Ia menggunakan mesin bernama Blink Comparator[3] untuk menganalisis pelat-pelat potret hasil survey langitnya sehingga menemukan adanya cahaya/titik yang hilang atau berpindah di pelat potretnya selama dua hari berturt-turut [4].

  1. Penamaan

Pluto adalah Dewa dunia bawah tanah dari mitologi Romawi sedangkan dalam bahasa Yunaninya adalah Hades yang diusulkan oleh Venetia Burney[5] karena ketertarikannya pada mitologi kuno serta untuk menyeragamkan dengan nama-nama Dewa Romawi yang diberikan kepada planet lain.

Sebenarnya Astronom yang ada di Observatorium Lowell bebas memilih untuk menemai Planet baru tersebut dengan yang ada didaftar nama yaitu Minerva, Cronus, dan Pluto. Namun mereka lebih memilih Pluto ketimbang yang lain[6] karena dengan sebutan Minerva (Dewi Ilmu Pengetahuan) untuk menamai Planet baru tersebut sudah digunakan oleh hal yang lain. Namun sebelumnya nama Constante (Pendiri Observatorium Clyde W. Tombaugh bekerja yaitu Constante Lowell) pun pernah menjadi kandidat dalam penamaan Planet tersebut kemudian ditolak secara perlahan-lahan.[7] Karena ikut andil menamai Planet baru tersebut kemudian ia diberi uang sebesar 5 pon[8].

Nama resmi Pluto pun berhasil disandang oleh Minor Planet Center (MPC) dengan kode 134340. Nama ini diberikan setelah adanya keputusan mengeluarkan Pluto dari Planet menjadi Dwarf Planet (Planet Katai) sejak tahun 2006 silam atau selama 76 tahun lebih dunia menyebutnya dengan sebutan Planet Pluto.[9]

  1. Identitas Pluto

Hingga kini Pluto yang memiliki diameter sekitar 2.400 km (kurang dari seperlima diameter Bumi) dengan  0,002 kali massa Bumi (5,98 x 1024 kg) – bisa dibilang sebagai salah satu benda angkasa yang paling jarang diteliti manusia. Setelah tanggal 24 Agustus 2006, atau selama 3 tahun lebih menyandang status  sebagai sebuah Planet Katai, setelah pengukuran merupakan Planet Katai terbesar ketiga setelah Eris yang 27% lebih besar diikuti oleh Xena, dan merupakan kesepuluh Planet Kerdil terbesar mengorbit Matahari – terdiri dari batuan dan es yang diduga ditangkap oleh gravitasi Matahari sehingga terus beredar seperti layaknya Planet lainnya.

Baru-baru ini para Ilmuwan hanya dapat  memprediksikan lapisan atas dari  atmosfer Pluto yang dapat dipelajari. dengan memanfaatkan peristiwa gerhana yang terjadi antara Pluto dan Charon,[10] Okultasi bintang (ESO 21/22) pada tahun 1985 yaitu fenomena yang terjadi apabila suatu anggota Tata Surya menghalangi cahaya latar belakang dari sebuah bintang sehingga observasi ini dapat memberikan gambaran mengenai temperatur dan tekanan atmosferik di dekat permukaan Pluto. kemudian mereka melakukan observasi terkini dengan menggunakan  perangkat Cryogenic InfraRed Echelle Spectrograph (CRIRES) yang terpasang pada Very Large Telescope milik European Space Observatory (ESO)[11]. Sebagaimana benda angkasa lainnya Pluto memiliki susunan atmosfer, orbit, satelit dan lain-lain.

  • Atmosfer

Permukaan Pluto diyakini sebagai salah satu tempat terdingin di Tata Surya yaitu antara -2330C sampai -2230C. Pluto tertutup oleh gas metana yang membeku, dan memiliki atmosfer yang tersusun atas metana yang didominasi oleh Nitrogen sekitar 98% dan kemungkinan adanya Karbondioksida. Karena massa jenis Pluto rendah, para ilmuwan memperkirakan bahwa Pluto pada dasarnya adalah berbentuk es[12]. Bahkan ada yang meyakini Pluto memiliki sifat atmosfer yang paling asli semenjak memisahkan diri dari Matahari. Atmosfernya begitu tipis dan akan berbentuk gas jika seandainya berada hanya sedikit lebih dekat ke Matahari. Namun kenyaatannya atmosfernya menjadi lapisan es yang membeku karena saking jauhnya dari Matahari.[13] Pluto juga memiliki susunan atmosfer yang terdiri dari air dan Amoniak yang membeku.[14]

Para astronom memanfaatkan peristiwa okultasi bintang (ESO 21/22) kemudian berhasil menunjukkan bahwa lapisan atas dari atmosfer Pluto adalah berkisar -1700C, atau sekitar 500 lebih hangat daripada suhu di permukaannya. Berkebalikan dengan atmosfer di Bumi, di Pluto temperaturnya justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian. Perubahan suhunya berkisar 3-150/km. Di Bumi, dalam kondisi normal temperatur berkurang sekitar 60 setiap km ketinggian. Namun  uniknya, observasi terkini menggunakan pearangkat CRIRES yang terpasang pada Very Large Telescope – telah mengungkapkan bahwa atmosfer Pluto secara keseluruhan, bukan hanya lapisan atasnya memiliki suhu rata-rata -1800C. Dengan demikian “jauh lebih panas” dari pada suhu permukaannya. Observasi ini memberikan titik terang mengenai temperatur dan tekanan atmosferik di dekat permukaan Pluto. Tekanan atmosfernya hanya sekitar  tekanan atmosfer Bumi, atau sekitar 0.015 milibar.[15]

Alasan mengapa permukaan Pluto sedemikian dingin berhubungan dengan eksistensi atmosfer Pluto, yakni karena terjadinya sublimasi es dipermukaan; menganalogikan dengan keringat yang mendinginkan tubuh saat menguap dari permukaan kulit kita,  sublimasi ini memiliki efek pendinginan pada permukaan Pluto. Dari segi ini, Pluto memiliki sifat yang sama dengan komet, dimana bagian koma dan ekornya juga terbentuk dari es yang menyublin saat komet mendekati Matahari.

  • Orbit

Pluto sendiri yang mempunyai jarak rata-rata dari Mataharinya 39,46 SA, dengan orbit memanjang yang aneh memiliki perilaku lebih mirip objek Sabuk Kuiper dibanding sebuah planet. Lintasan edar revolusinya berbeda dari Planet-Planet lain, lintasannya tidak melingkar melainkan lonjong dan membentuk sudut kecondongan sebesar 17o terhadap lintasan edar Bumi. Orbit Pluto yang berbentuk elips tumpang- tindih dengan orbit Neptunus. Orbitnya terhadap Matahari terlalu melengkung dibandingkan delapan objek yang diklasifikasikan sebagai planet. Bahkan Pluto juga lebih kecil dari Bulan[16]. Ini mengakibatkan jarak Pluto ke Matahari berubah-ubah antara 4,45 miliar km hingga 7,38 miliar km. Dengan kondisi tersebut, Pluto dan Neptunus tidak akan bertabrakan. Namun jika kita mendekatkan Pluto ke Matahari lebih dekat dari 18 AU untuk satu sama lain, maka Pluto mirip dengan komet – itu  dikarenakan rasio batu dan es antara Pluto dan komet hampir sama sehingga akan tumbuh ekor yang spektakuler sampai kehilangan massanya yang terbakar oleh ledakan Matahari.

Pluto biasanya lebih jauh dari Matahari daripada delapan planet lainnya – tetapi karena eksentrisitas dari orbitnya, hal itu lebih dekat daripada Neptunus selama 20 tahun keluar dari orbit 249 tahun dengan jarak terdekat mencapai 29,60 SA[17] sedangkan orbit Neptunus mencapai 30,10 SA. Pluto menyilang orbit Neptunus pada tanggal 21 Januari 1979 dan terus mendekat sehingga lebih dekat sampai 5 September 1989, dan tetap di dalam orbit Neptunus sampai 11 Februari 1999. Ini tidak akan terjadi lagi sampai September 2226[18].

Pluto yang jauhnya sekitar 39 kali jarak  Bumi ke Matahari, atau dengan jarak rata-ratanya 5,87 x 109 km (3,647 x 109 mil), merupakan Planet Katai dalam susunan tata surya (walaupun pada suatu periode tertentu jaraknya ke matahari lebih dekat dibandingkan dengan Neptunus). Pluto pun berotasi selama 6,378 hari sama dengan satelit alami yang pertamanya yaitu Charon. Tidak seperti kebanyakan  planet, tetapi mirip dengan Uranus, Pluto berputar dengan kutub hampir dalam orbit pesawat dengan sumbu rotasi 1220.

  • Satelit

Seorang Astronom Angkatan Laut Amerika Serikat James Christy menemukan satelit Pluto dengan menggunakan teleskop reflektor berdiameter 1,54 m. Ia menamainya dengan Charon[19] yang berdiameter 1.172 kilometer (728 mil) dengan jarak rata-ratanya 19.640 km (12.200 mil), pada tahun 1978 di Observatorium US Naval, Flagstaff[20]. Kemudian pada musim panas menyusul dua satelit Pluto baru ditemukan yaitu Hydra[21] dan Nix[22]pada tanggal 15 Mei 2005 setelah mempelajari gambar yang telah dipotret oleh sebuah tim Astronom (Max Mutchler dan Andres Steffl) mengunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble menemukan dua bulan sebelumnya tidak dikenal Pluto memiliki diameter hingga 100 mil (160 km) yang berenang diluar orbit Charon[23]. Pada awalnya Hydra dan Nix disebut S/2005 P1 dan S/2005 P2 untuk sementara, dan kemudian terakhir mereka diberi nama secara permanen pada tanggal 21 Juni 2006[24].

Hydra adalah satelit alami Pluto yang paling terluar jaraknya mencapai 65.000 km sehingga membutuhkan waktu 38 hari untuk menyelesaikan orbitnya. Tidak seperti satelit Pluto yang lain orbitnya hampir melingkar dengan sempurna[25].

  1. Kriteria Planet

Selama 76 tahun dari waktu penemuannya pada 1930-2006 itu dianggap sebagai planet kesembilan di tata surya, tetapi karena benda-benda tambahan[26] lainnya telah ditemukan termasuk Eris yang adalah 27% lebih besar sehingga IAU mereklasifikasi Pluto dan benda-benda lain sebagai planet kerdil.

Menurut mantan Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung, Dr. Taufiq Hidayat, keputusan Sidang Umum International Astronomical Union (Himpunan Astronomi Internasional) ke-26 yang dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus 2006 di Praha, Republik Ceko adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi yang sudah berlangsung 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet atau tidak.

“Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi kimianya lebih menyerupai komet daripada planet.” ungkap astronom yang mendalami bidang ilmu-ilmu planet ini[27]. Sidang Umum tersebut memutuskan Pluto tidak lagi dikelompokkan sebagai salah satu Planet di Tata Surya. Sidang itu menyatakan bahwa Pluto itu dikelompokkan sebagai ‘Dwarf Planets’ (Planet Kerdil) oleh kurang lebih 3000 Astronom dan itu pun diputuskan melalui pemungutan suara.

Resolusi 5A Sidang Umum IAU ke-26

  1. Mengorbit Matahari/bintang atau sisa-sisa bintang,
  2. Berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuknya yang bulat,
  3. Memiliki jalur orbit yang jelas dan bersih (tidak ada benda langit lain di orbit tersebut),
  4. Tidak terlalu besar hingga dapat menyebabkan fusi termonuklir terhadap Deuterium di intinya.

Berdasarkan definisi tersebut, Plutotidak dapat lagi disebut sebagai Planet karena tidak memenuhi syarat yang ketiga[28]. Sejak saat itu, lanjut Taufik, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. “Pilihannya adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB 313 ke dalam keluarga planet sehingga jumlah planet menjadi 12 – atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang disepakati.” tutur mantan Ketua Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung ini.

Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA senilai 700 juta dollar AS, New Horizon Probe, mengaku merasa “malu” terhadap keputusan itu. “Ini benar-benar sebuah definisi yang ceroboh. Ini belum selesai.” ujar Stern.[29]

Sehingga informasi Pluto dapat disimpulkan sebagai berikut:

Statistik Pluto
Ditemukan oleh Clyde W. Tombaugh
Tanggal penemuan 18 Februari 1930
Massa (kg) 1.27e 22
Massa (Bumi = 1) 2.125e-03
Equatorial radius (km) 1.137
Equatorial radius (Bumi = 1) 0,1783
Rata-rata kerapatan (g/cm3) 2,05
Jarak rata-rata dari matahari (km) 5.913.520.000
Satuan Astronomik (Bumi = 1)) 39,5294
Periode rotasi (hari) -6,3872
Periode Orbital (tahun) 248,54
Kecepatan orbital (km/sec) 4,74
Eksentrisitas orbital 0,2482
Kemiringan sumbu (derajat) 122,52
Orbital kecenderungan (derajat) 17,148
Gravitasi permukaan di Khatulistiwa (m/sec2) 0,4
Kecepatan Equatorial (km/sec) 1,22
Visual geometric albedo 0,3
Magnitudo Tampak (Vo) 15,12
Magnitudo Mutlak -0,7

Penelitian lebih lanjut sedang dilakukan  dengan mengirimkan misi pesawat ruang angkasa tanpa awak NASA, New Horizon Probe yang diluncurkan ke Pluto lebih tepatnya pada 16 Januari 2006 lalu dan akan tiba di Pluto sekitar pada14 Juli 2015 untuk menyingkap Idenditas palanet kerdil aneh ini  secara rinci[30]. Pesawat ini direncanakan akan melintasi Pluto dan Charon kemudian melanjutkan menuju Sabuk Kuiper.

والله أعلم

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين


[1] Gunawan, A. Admiranto. Menjelajahi Tata Surya. 2009. Yogyakarta: Kanisius. hal. 246

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto. 3 Feb 2010 5.47 am

[3] Mesin ini bisa membuat proyeksi pelat-pelat potret hasil pemotretan suatu daerah langit selama beberapa hari berturut-turut.

[4] Menjelajahi Tata Surya. Loc. cit. hal. 247

[5] Seorang gadis yang berusia 11 tahun sekolah di Oxford, Inggris.

[6] http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.universetoday.com/guide-to-space/pluto/

[7] http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto. Loc. cit.

[8] http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.universetoday.com/guide-to-space/pluto/. Loc. cit

[9] Pada 7 September 2006 nama Pluto diganti dengan kode, yaitu 134.340. kode ini diberikan oleh Minor Planet Center (MPC), organisasi resmi yang bertanggung  jawab dalam mengumpulkan  data tentang asteroid dan komet dalam tata surya kita.

[10] http://www.solarviews.com/eng/pluto.htm

[11] http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/

[12] Mahoney, Terry. Science Explained AstronomyDunia Sains Astronomi. 2003. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

[13] Poster KTK ar-Risalah. Penciptaan Alam Semesta dalam al-Qur’an dan Sains.  Surakarta: C.V. ar-Rafah  Group

[14] Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 247

[15] http://ias.dhani.org/2009/03/03/menyingkap-rahasia-atmosfer-pluto/. Loc. cit.

[16] http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto. OP. cit.

[17] SA (Satuan Astronomik), bahasa Inggrisnya AU (Astronomical Unit) di mana dalam satuannya berjarak 1,496 x 108 km.

[18] http://www.solarviews.com/eng/pluto.htm. Op. cit.

[19] Charon adalah nama tukang perahu tambang yang bertugas menyeberangkan arwah-arwah di sungai Styx setianya dalam dunia kegelapan yang dikuasai Pluto.

Menjelajahi Tata Surya. Op. cit. hal. 248

[20] Science Explained AstronomyDunia Sains Astronomi. Op. cit.

[21]Dewi malam dan kegelapan yang merupakan ibu dari Charon

[22] Binatang multiheaded yang menjaga perairan Pluto.

[23] http://www.nasa.gov/worldbook/pluto_worldbook.html

[24] http://www.universetoday.com/guide-to-space/pluto/

[25] Ibid. Nix bulan Pluto.

[26] Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil lain di belakang Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari. Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai objek Sabuk Kuiper (Sabuk Kuiper adalah  bagian dari objek-objek trans-Neptunus hingga jarak 50 SA). Belasan benda langit termasuk dalam Objek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni 2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus, Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004).

Penemuan 2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini diketahui juga memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan puncaknya adalah penemuan objek yang ditemukan oleh Michael Brown dari California Institute of Technology (Caltech) berkode 2003 UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama oleh penemunya dengan sebutan Xena. Selain lebih besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit. (http://id.wikipedia.org/wiki/Pluto)

[27]Kompas (27 Agustus 2006)

[28] Ilmu Pengetahuan Populer. 2003. Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi hal. 74

[29] Kompas. Loc. cit.

[30] Pluto worlbook. Loc.cit.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.