Category: Islam


Hal-hal Yang Merusak Tauhid

بسم الله الرحمن الرحيم

Tauhid merupakan agama yang pertama kali dianut oleh makhluk Allah sebelum diciptakan-Nya Nabi Adam A.S. dari tanah. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya manusia di muka Bumi ini – manusia membuat tandingan selain Allah bahkan mulai membuat patung untuk mengenang orang-orang shaleh terdahulu yang kemudian disembah.

  1. A. Definisi Tauhid dan Syirik

Tauhid berasal dari bahasa arab yaitu dari kata وحّد – يوحّد – توحيدا[1] yang artinya menyatukan/meng-Esa-kan. Kadang juga disebut dengan Iman berasal dari bahasa arab yaitu dari  أمن – يؤمن – إيمانا – مؤمن  yang artinya percaya.

التوحيد فى اللغة: الحكم بأن الشيئ واحد والعلم بأنه واحد

Tauhid menurut bahasa adalah; Menetapkan bahwa sesuatu itu satu dan mengetahui bahwa Dia itu satu[2].

واصطلاحا: إفراد المعبود بالعبادة مع الإعتقاد بوحدته ذاتا و صفاتا و أفعالا

Sedangkan menurut istilah; Meng-Esa-kan yang disembah dalam ibadah dengan meyakini ke-Esa-an-Nya, baik dzat, sifat, dan pekerjaannya[3].

 

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata.

الشرك هو دعوة غير الله معه وأن تجعل لله ندا فى العبادة و هو خلقك

Syirik adalah berdo’a/memohon kepada Allah dan memohon kepada selain Allah, juga membuat tandingan/saingan dalam beribadah kepada Allah padahal Allah sendiri yang menciptakannya[4].

و قيل: هو أن تجعل لله ندا يدعوه و يرجوه و يخافه كما يخاف الله

Menurut yang lainnya; Syirik ialah menjadikan sesuatu tandingan kepada Allah yang ia bermohon, berharap dan takut kepadanya, seperti takutkepada Allah[5].

إن الله لايغفر أن يشرك به و يغفر ما دون ذلك لمن يشاء و من يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما. )النساء: ٤٨(

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

و إذ قال لقمان لابنه و هو يعظه يابني لاتشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم. )لقمان: ۱۳(

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya:’Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedlaliman yang besar’.

 

  1. B. Macam-Macam Syirik

Menurut Abu al-Baqa, syirik itu ada beberapa macam, di antaranya:

  1. 1. Syirik al-Istiqlal

وهو إثبات الهين مستقلّين، كشرك المجوس

Yaitu menetapkan adanya dua tuhan atau lebih dengan berdiri sendiri, seperti syiriknya kaum Majusi (penyembah api)[6].

 

  1. 2. Syirik at-Tab’idh

وهو تركيب الإله من آلهة، كشرك النصارى

Yaitu menetapkan tuhan terdiri dari beberapa tuhan, seperti syiriknya kaum Nashrani (tuhan Bapak, tuhan Anak, dan Ruh Qudus)[7].

  1. 3. Syirik at-Taqrib

وهو عبادة غير الله ليقرّب إلى الله زلفى، كشرك متقدّمى الجاهلية

Yaitu menyembah selain Allah untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti syiriknya orang-orang jahiliyyah dulu[8].

  1. 4. Syirik at-Taqlid

وهو عبادة غير الله تبعا لغير، كشرك متأخّرى الجاهليّة

Yaitu menyembah selain Allah karena ikut-ikutan kepada yang lain, seperti syiriknya orang-orang jahiliyah yang mutaakhirin (kemudian)[9].

  1. 5. Syirik al-Asbab

وهو إسناد التأثير للأسباب العادية، كشرك الفلاسفة و الطبائعين ومن تبعهم على ذلك

Yaitu menyandarkan kejadian sesuatu kepada sebab yang biasa, seperti syiriknya para ahli filsafat dan para ahli fisika. (yang mengaitkan sesuatu dengan kejadian alam tanpa memperhitungkan alam)[10]

  1. 6. Syirik al-Aghradh

وهو عمل لغير الله (القاسمى ٥: ١٢٨٨)

Yaitu beramal tidak karena Allah, seperti orang beribadah karena riya. (al-Qasimi 5: 1288)[11].

Sedangkan menurut Ulama yang lain membagi syirik kepada dua macam; yaitu syirik Akbar (besar) dan syirik Ashghar (kecil). Syirik Akbar ialah menjadikan tandingan kepada Allah, ia bermohon kepadanya seperti bermohon kepada Allah. Atau membuat satu aturan atau bagian untuknya sebagaimana aturan kepada Allah, seperti halnya memohon pertolongan, mengadakan sembelihan, sesajen atau nadzar karenanya yang bukan karena Allah[12].

وفى الصحيحين، عن ابن مسعود؛ سألت النبي صلى الله عليه وسلم: أي الذنب الأعظم؟ قال: أن تجعل لله ندّا وهو خلقك… (متفق عليه)

Dalam dua hadits shahih (Bukhariy-Muslim), dari Ibnu Mas’ud; aku bertanya kepada Nabi S.A.W. Dosa apakah yang terbesar? Nabi menjawab: Engkau menjadikan tandingan kepada Allah padahal Allah sendiri yang menciptakanmu… (H.R. Bukhariy Muslim)

Sedangkan Syirik Ashghar ialah setiap “perantara” yang dapat membawa syirik Akbar, tetapi tidak sampai kepada taraf ibadah atau menyembah dan tidak membuat pelakunya keluar dari Islam, tetapi termasuk dosa besar saja[13].

 

  1. C. Macam-Macam Syirik Akbar
    1. 1. Syirik Do’a

Yaitu berdo’a kepada selain Allah, seperti kepada para Nabi, para wali untuk meminta rizki atau minta disembuhkan dari penyakit.

ولا تدعوا من دون الله مالا ينفعك ولا يضرّك فإن فعلت فإنك إذا من الظالمين (يونس: ۱۰٦)

Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang dlalim[14]. (Q.S. Yunus: 106)

  1. 2. Syirik dalam Sifat Allah

Seperti berkeyakinan bahwa para Nabi atau para wali mengetahui hal yang ghaib (selain Allah).

وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو…. (الأنعام: ٥٩)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri…. (Q.S. al-An’am: 59)

  1. 3. Syirik al-Mahabbah

Yaitu mencintai atau mengagungkan para wali, seperti mencintai Allah.

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبّونهم كحبّ الله والذين أمنوا أشدّ حبّا لله… (البقرة: ١٦٥)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah…. (Q.S. al-Baqarah: 165)

  1. 4. Syirik ath-Tha’at

Yaitu menta’ati ulama atau syeikh dalam maksiat dengan keyakinan bahwa hal itu boleh (sekalipun bertentangan dengan agama).

إتخذوا أحبارهم و رهبانهم أربابا من دون الله… (التوبة: ۳۱)

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah… (Q.S. at-Taubah: 31)

Sedang ibadah itu ditafsirkan dengan mentaati mereka dalam menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang dihalalkan oleh Allah.

  1. 5. Syirik al-Hulul

Yaitu berkeyakinan bahwa Allah bersatu dengan makhluknya (nitis atau seperti faham sinkritisme). Ini adalah aqidah Ibnu Arabi seorang sufi yang dikuburkan di Damasqus. Ia menyatakan tuhan itu hamba dan hamba itu tuhan. Aku heran sekali; siapakah mukallafnya?[15]

  1. 6. Syirik at-Tasharruf

Yaitu berkeyakinan bahwa sebagian para wali dapat mengatur dan mengutus alam semesta. Mereka disebut Wali Quthub, padahal Allah bertanya kepada orang musyrik terdahulu dengan firman-Nya; Siapakah yang mengatur segala urusan? Mereka menjawab: Allah.

  1. 7. Syirik al-Khauf

Yaitu berkeyakinan bahwa para wali yang sudah mati atau yang ghaib dapat menentukan sesuatu atau dapat membuat celaka, yang membuat mereka takut dengan para wali. Dan ini adalah keyakinan orang musyrik yang diperingatkan dalam al-Qur’an.

أليس الله بكاف عبده ويخوّفونك بالذين من دونه… (الزمر: ۳٦)

Tidaklah Allah mencukupkan hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (kekuatan) berhala selain Allah. (Q.S. az-Zumar: 36)

  1. 8. Syirik al-Hakimiyyah

Yaitu orang yang membuat aturan atau undang-undang yang bertentangan dengan syari’at Islam dan menganggap bahwa Islam itu sudah tidak layak lagi.

…ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون (الما ئدة: ٤٤)

…barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (Q.S. al-Maidah: 44).

  1. D. Macam-Macam Syirik Ashghar
    1. 1. Riya dan Berbuat Sesuatu Karena Manusia

Riya dan berbuat sesuatu bukan karena Allah, seperti seorang muslim yang beramal atau shalat atas dasar perintah Allah, tetapi ia memperbagus shalatnya dan ibadahnya agar mendapatkan pujian orang.

…فمن كان يرجوا لقآء ربّه فليعمل عملا صالحا ولايشرك بعبادة ربّه أحدا (الكهف: ۱۱۰)

…barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabnya. (Q.S. al-Kahfi: 110).

Bahkan di dalam hadits pun dijelaskan Rasulullah memperingatkan umatnya untuk berhati-hati terhadap syirik kecil yaitu Riya.

و عن محمود بن لبيد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم (إنّ أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر: الرياء) أخرجه أحمد بإسناد حسن. ﴿بلوغ المرام (باب الترهيب من مساوئ الأخلاق): ١٥١٢﴾

Dari mahmud bin Labid r.a. Ia berkata: Rasulullah S.A.W. bersabda, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takuti atas umatku, ialah syirik yang kecil (yaitu) riya”. H.R. Ahmad dengan isnad yang hasan.[16]

Dalam Shahih Muslim ada ungkapan (matan) yang sama dengan hadits yang di atas dari Mahmud bin Labid.

  1. 2. Sumpah Dengan Selain Allah

Ada sabda Rasul yang mengungkapkan

من حلف بغير الله فقد أشرك (رواه أحمد)

“Barangsiapa yang bersumpah bukan dengan nama Allah, maka sungguh dia musyrik”. (H.R. Ahmad).

Tetapi kadang sumpah bukan dengan nama Allah itu termasuk syirik akbar apabila orang yang sumpah itu berkeyakinan bahwa wali itu dapat membuat dia celaka jika ia melanggar sumpahnya.

  1. 3. Syirik Khafi (Tersembunyi)

Ibnu ‘Abbas menjelaskannya seperti contoh ucapan seseorang kepada temannya; Apa-apa yang dikehendaki Allah dan kamu (pasti terjadi) atau seperti ungkapan; Kalaulah tidak karunia Allah dan bantuan si fulan,…. atau seperti ungkapan; Kalau tidak ada anjing pasti pencuri masuk.

و قال النبيّ صلى الله عليه و سلم: لاتقول ماشاء الله و شاء فلان، ولكن قولوا: ماشاء الله ثمّ شاء فلان. (رواه أحمد)

Nabi S.A.W. bersabda: “Janganlah kamu katakan ini kehendak Allah dan kehendakmu, tapi ucapkanlah; ini kehendak Allah, lalu kamu juga berkehendak”.

و قال النبيّ صلى الله عليه و سلم: الشرك فى هذه الأمّة اخفى من دبيب النملة السوداء على صفارة سوداء فى ظلمة الليل.

Nabi S.A.W. juga bersabda: “Syirik di umat kami lebih tersembunyi daripada merayapnya semut hitam di atas batu hitam di tengah-tengah kegelapan malam.

Adapun kifaratnya dengan berdo’a kepada Allah. Nabi pun mengajarkannya dengan berdo’a seperti

اللهمّ إني أعوذبك أن أشرك بك شيئا وأنا أعلم وأستغفرك من الذنب الذى لا أعلم.

“Ya Allah! Aku berlindung kepeda-Mu dari menyekutukan-Mu padahal aku tahu dan aku memohon ampun kepada-Mu dari dosa yang aku sendiri tidak sadar”.

  1. E. BeberapaFenomena Syirik Di Masyarakat Indonesia
    1. 1. Ngalap (Mencari) Berkah di Kuburan Wali, Kiyai, dan selainnya.

Sudah menjadi hal yang umum dan membudaya di masyarakat, dan bahkan dianggap ibadah yang sangat afdhal bahwa pada hari-hari/bulan-bulan tertentu, misalnya Maulud (Rabiul awal), menjelang Ramadhan, menjelang lebaran (Syawwal) dan lain sebagainya, banyak orang yang mendatangi kuburan kuburan kyai, orang-orang yang dianggap wali, atau kuburan orang shalih. Mereka datang dari tempat yang cukup jauh dengan mencurahkan tenaga, waktu, pikiran, dan harta. Padahal Rasulullah telah bersabda,

“Janganlah kalian mengadakan perjalanan jauh (untuk beribadah, berziarah, mencari berkah) kecuali hanya ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawy), dan Masjid al-Aqsha.”(Muttafaqun ‘Alaih)

Dengan melakukan ritual ziarah ke kuburan-kuburan wali/kiyai dari tempat yang jauh, maka itu sudah merupakan suatu pelanggaran terhadap konsekwensi hadits diatas.

Kalau ternyata tujuan dari ziarah kubur itu menyimpang dari tuntunan syari’at Islam yang suci ini, seperti: Mencari berkah, meminta-minta kepada penghuni kuburan itu, atau mencari syafa’at, maka perbuatan itu jelas merupakan syirik akbar. Apabila pelakunya tidak bertaubat hingga datang kematiannya, maka Allah Subhannahu wa Ta’ala tidak mengampuninya dan dia kekal dalam neraka, semoga kita terhindar dari hal itu.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.”(QS. 4:48)

  1. 2. Mencari Kesaktian  Lewat Amalan, Dzikir Atau Ritual Lainnya

Fenomena ritual seperti ini sudah berurat dan berakar, bahkan menjadi trend dalam masyarakat kita. Dan yang terbelit dan terperangkap dalam lingkaran syetan ini mulai dari orang awam sampai para pejabat, rakyat jelata sampai orang berpangkat. Bahkan kalangan “terpelajar” yang mengaku “intelektual”pun menggandrungi klenik-klenik seperti ini. Mereka menyebutnya dengan “membekali diri dengan ngelmu (ilmu), kekebalan, kesaktian”.

Untuk mengelabuhi orang-orang awam terkadang seseorang pinter itu menyandangkan titel mentereng seperti: KH (Kyai Haji), Prof, DR, padahal semua itu mereka lakukan untuk melanggengkan bisnis mereka sebagai agen-agen dan kaki tangan syetan dan jin.

Untuk meraih kesaktian ini, ada yang dengan cara-cara klasik kebatinan, dengan istilah black magic (ilmu hitam) maupun white magic (ilmu putih), dan ada pula dengan cara-cara ritual “dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu”, dan cara yang terakhir ini lebih banyak mengelabui kaum muslimin, karena seakan-akan caranya Islami dan tidak mengandung kesyirikan.

Dan perlu diketahui bahwa”dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu” yang tidak ada syari’atnya dalam Islam, merupakan rumus dan kode etik untuk berhubungnan dengan alam supranatural (alam jin), hal seperti ini merupakan perangkap syetan yang menjerumuskan orang pada perbuatan syirik. Untuk mengetahui bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan syirik adalah sebagai berikut:

1.1.       Bahwa “dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu” tersebut bukanlah syari’at Islam, karena tidak memakai standar Al-Qur’an maupun Sunnah Rasulullah n, dan ini termasuk dalam kategori bid’ah, yang mana syetan lebih menyukai bid’ah daripada perbuatan maksiat sekalipun.

1.2.       Apabila tujuan seseorang melakukan “dzikir dan amalan-amalan wirid tertentu” tersebut untuk memperoleh kesaktian, kekebalan, dan hal-hal yang luar biasa, maka sudah pasti itu bukan karena Allah Subhannahu wa Ta’ala, seperti membaca Al-fatihah 1000 X, Al-ikhlas 1000 X dan lain sebagainya dengan tujuan agar kebal terhadap senjata tajam, peluru dan tahan bacok. Atau membaca salah satu shalawat bikinan (baca;bid’ah) dengan iming-iming kesaktian tertentu seperti bisa menghilang dari pandangan orang, bisa makan besi, kaca, beling dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah karomah tetapi merupakan hakikat syirik itu sendiri, karena telah memalingkan tujuan suatu ibadah kepada selain Allah Subhannahu wa Ta’ala.

  1. 2. Meminta Bantuan Arwah Rasul, Wali, atau Tokoh Tertentu Agar Terhindar Dari Marabahaya

Ritual-ritual seperti ini dapat kita saksikan pada acara-acara malam 1 Syuro(Muharram). Diantara mereka ada yang mengadakan acara ritual di pantai laut selatan, mereka ramai-ramai melepaskan bermacam-macam sesajen seperti hewan yang masih hidup, aneka makanan, bunga-bungaan dan kemenyan sambil memanggil-manggil arwah Nabi Muhammad, Syekh Abdul Qodir Jailani dan memanggil Nyi Roro Kidul. Tujuan mereka melakukan ini agar Nyi Roro Kidul yang “katanya” menjadi penguasa di pantai laut selatan itu tidak minta korban pada tahun ini.

  1. 3. Membuat Sesajen.

Kegiatan ritual syirik ini bisa kita temui ketika ada pembangunan jembatan, gedung atau rumah. Pada acara peletakan batu pertama, biasanya diadakan pemotongan hewan kemudian darahnya disiramkan atau dioleskan, dan kepala hewan itu ditanam di situ. Tujuannya agar bangunan itu kokoh, kuat, lancar dalam pembangunannya serta tidak meminta korban, terhindar dari bahaya, serta agar makhluk halus yang ada di situ tidak mengganggu. Ada juga yang meletakkan sesajen di atas tiang utama bangunan, agar terhindar dari gangguan makhluk halus yang berada di daerah itu.

Demikian pula, ketika orang merasa takut melewati pohon besar, kuburan, hutan atau lembah yang dianggap angker. Lalu dia mengirimkan berbagai macam bentuk sesajen. Kalau lewat di daerah itu harus minta izin terlebih dahulu, seperti mengucapkan “Mbah permisi saya mau lewat” sambil menundukkan badan pertanda tunduk, atau dengan membunyikan klakson kendaraan sambil menjalankannya dengan pelan-pelan, dan lain sebagainya

  1. 4. Memakai Jimat

Ketika batu akik diyakini memiliki daya magic karena telah “diisi” oleh dukun atau orang pintar, maka menjadikan akik itu sebagai jimat pembawa keberuntungan berarti telah menjadikannya sebagai tuhan selain Allah.

Ketika bambu kuning atau potongan tulisan arab yang maknanya tidak jelas diletakkan di atas pintu rumah, agar”si kolor ijo”tidak bisa masuk rumah, maka berarti telah mempertuhankan jimat itu, dan ini adalah bantuk kesyirikan yang sangat nyata terhadap Allah SWT.

Demikian pula apabila al-Qur’an Stambul (Al-Qur’an berukuran sangat kecil yang tulisannya tidak bisa dibaca kecuali dengan mikroskop) dijadikan jimat untuk menolak marabahaya, maka pelakunyapun sudah terjerumus pada lingkaran syetan yaitu syirik.

Rasulullah SAW bersabda, artinya:

“Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu (sebagai jimat), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada jimat itu”. (HR.Imam Ahmad dan at-Tirmidzi)

  1. 5. Ramal-Ramalan

Yaitu segala bentuk ramalan, mulai dari ramalan keadaan Indonesia sampai keadaan pribadi seseorang untuk rentang waktu sepekan, sebulan atau setahun ke depan, baik mengenai ekonominya, politiknya dan lain sebagainya. Ini semua adalah klenik-klenik yang menghancurkan negara besar ini yang katanya mayoritas muslim terbesar di dunia. Klenik ini juga yang menjadi faktor utama datangnya musibah-musibah yang silih berganti dan tidak akan pernah hengkang dari tanah air kita ini selama kemaksiatan syirik ini dan dosa-dosa besar lainnya masih gentayangan menghancurkan sendi-sendi kehidupan beragama kita. Wallahul Musta’an, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

 

  1. F. Meniadakan Syirik Kepada Allah

Sesungguhnya meniadakan syirik dari Allah tidak akan sempurna kecuali dengan meniadakan tiga macam syirik:

  1. 1. Syirik Dalam Perbuatan Allah

Meyakini bahwa bersama Allah ada pencipta dan pengurus yang lain atau pemberi rizki, seperti keyakinan sebagian orang Sufi bahwa Allah telah menyerahkan sebagian kunci segala urusan kepada sebagian para wali, seperti wali Quthub diserahi untuk mengurus urusan-urusan tertentu. Bahkan ada orang sufi yang mengatakan dalam kitabnya, al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahabi; “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang dapat mengatakan; KUN FAYAKUN untuk menciptakan sesuatu.” Padahal al-Qur’an telah membantah hal itu dengan firman-Nya, “Sesungguhnya putusan Allah jika menghendaki sesuatu cukup mengatakan KUN FAYAKUN.” (Q.S. Yasin: 82).

Bahkan di ayat yang lain Allah S.W.T. berfirman:

… ألا له الخلق والأمر… (الأعراف: ٥٤)

…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah… (Q.S. al-A’raf: 54 )

  1. 2. Syirik Dalam Ibadah dan Do’a

Menyembah dan berdo’a kepada Allah dengan memohon kepada Allah, baik para Nabi atau orang-orang yang shaleh, seperti beristighasahdan berdo’a dengan mereka disaat susah dan senang.

إيّاك نعبد وإيّاك نستعين. (الفاتحة: ٥)

Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (Q.S. al-Fatihah: 5)

  1. 3. Syirik dalam Dzat dan Sifat Allah

Seperti keyakinan orang nashrani dengan aqidah trinitasnya dan keyakinan yahudi bahwa Uzair itu putera Allah dan seperti keyakinan bahwa Nabi juga para wali memiliki sifat seperti Allah. Umpamanya mengetahui urusan ghaib.

وعنده مفاتح الغيب لايعلمها إلاّ هو… (الأنعام: ٥٩)

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri… (Q.S. al-An’am: 59)

 

  1. G. Bahaya-Bahaya Syirik

Syirik terdapat di dalam bahaya yang besar dan banyak, baik dalam kehidupan individu atau masyarakat yang intinya adalah sebagai berikut;

  1. 1. Syirik Akan Merendahkan Martabat Kemanusiaan

Sesungguhnya syirik itu akan merendahkan martabat kemanusiaan dan merusak citra kedudukan manusia yang terhormat, seperti halnya di India orang-orang menyembah sapi yang justru diciptakan Allah untuk membantu manusia dengan tenaganya dan dagingnya untuk dimakan. Demikian pula kita sering melihat orang-orang menghormati kuburan dan minta-minta di kuburan untuk mengatasi kebutuhan mereka, padahal dia yang dikubur adalah manusia biasa, tidak dapat menyelamatkan dirinya atau menolak bahaya yang akan menimpanya. Manakah kehinaan yang lebih rendah dari itu?

  1. 2. Syirik Adalah Sarang Takhayul dan Khurafat

Orang yang meyakini adanya kekuatan ghaib selain Allah, baik itu bintang, jin, roh, dan benda-benda tertentu – maka tentu saja akalnya akan senantiasa siap menerima segala khurafat dan meyakini setiap dajal dan dengan itu lakulah pasaran dukun, paranormal, tukang sihir, para astrolog (tukang nujum) dan lain sebagainya.

  1. 3. Syirik Adalah Dlalim yang sangat besar

Syirik adalah dlalim terhadap kebenaran, karena inti kebenaran itu adalah meyakini bahwa tiada tuhan selain Allah, tiada rabb selain Dia, tiada hukum yang paling benar kecuali hukum Allah. Tetapi orang musyrik telah menjadikan tuhan selain Allah dan mencari hukum dan undang-undang diluar hukum Allah. Syirik juga berarti dlalim terhadap diri sendiri karena yang musyrik telah menghambakan dirinyaa kepada makhluk lain yang sederajat atau bahkan lebih rendah dari dirinya, padahal Allah telah menciptakan manusia bebas dan merdeka.

Syirik juga berarti dlalim terhadap yang lain karena orang yang musyrik telah memberikan hak dan kedudukan kepada yang lain diluar keadaan yang sebenarnya.

  1. 4. Syirik Sumber Ketakutan dan Prasangka Buruk

Orang yang akalnya mempercayai khurafat dan meyakini kebathilan dan kebohongan, ia akan penuh rasa takut dari berbagai jalan karena dia akan bersandar kepada banyak tuhan (yang dipertuhan) yang kesemuanya tidak akan mampu mendatangkan manfaat dan menolak benana dari dirinya. Oleh karena itu akan tersebarlah di dunia syirik prasangka buruk kepada yang lain, rasa takut yang tidak beralasan.

سنلقي فى قلوب الذبن كفروا  الرعب بما أشركوا بالله مالم ينزّل به سلطانا و مأواهم النار وبئس مثوى الظالمين (آل عمران: ١٥١)

Akan kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang dlalim. (Q.S. Ali Imran: 151).

  1. 5. Syirik Akan Merusak Perbuatan Yang Bermanfaat

Orang yang musyrik akan senantiasa mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mengandalkan para perantara dan pemberi syafa’at. Akhirnya mereka meninggalkan amal shaleh dan berbuat dosa karena mereka berkeyakinan bahwa mereka (para wali) akan memberi syafa’at di sisi Allah.

Ini adalah keyakinan orang arab sebelum Islam. Allah menceritakan tentang mereka;

ويعبدون من دون الله ما لا يضرّهم ولاينفعهم ويقولون هؤلاء شفعاؤنا عند الله قل أتنبّئون الله بما لايعلم في السمـوات ولافي الأرض سبحانه وتعالى عمّا يشركون (يونس: ۱٨)

Dan mereka memyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfa’atan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?”. Mahasuci Allah dan Mahatinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Q.S. Yunus: 18)

Orang-orang Nashrani berani berbuat kemungkaran karena mereka berkeyakinan ada penebusan dosa.

Demikian juga sebahagian orang Islam berani meninggalkan yang wajib dan melakukan yang haramkarena mereka mengandalkan syafa’at guru dan wali mereka untuk masuk surga.

  1. 6. Syirik Menyebabkan Kekal Di Neraka

…إنه من يشرك بالله فقد حرّم الله عليه الجنّة ومأواه النار وماللظّالمين من أنصار (المائدة: ٧٢)

…sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dlalim itu seorang penolongpun. (Q.S. al-Maidah:72)

  1. 7. Syirik Akan Memecah Belah Ummat

…ولاتكونوا من المشركين * من الذين فرّقوا دينهم وكانوا شيعا كل حزب بما لديهم فرحون (الروم: ۳۱-۳٢)

…dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (Q.S. ar-Ruum: 31-32)

والله أعلم

الله يأخذ بأيدينا إلى مافيه خير للإسلام والمسلمين


[1] Hasan, Ahmad. Kitab at-Tashriyf. Penerbit: Raihan Bangil hal: 78

[2] Zakaria, Aceng. MATERI DA’WAH Untuk Da’i dan Mubaligh. 2004. Bandung: Risalah Press. hal 1

[3] Ibid hal 1

[4] Ibid hal 66

[5] Ibid hal 66

[6] Ibid hal 73

[7] Ibid hal 73

[8] Ibid hal 73

[9] Ibid hal 73

[10] Ibid hal 73

[11] Ibid hal 74

[12] Ibid hal 74

[13] Ibid hal 79

[14] Termasuk orang-orang yang dlalim; maksudnya dari orang yang menyekutukan Allah.

[15] Materi Da’wah. Loc. cit hal 77

[16] al-‘Asqalaniy, al-Hafidl Ibnu Hajar. Bulughul Maram. Surabaya: Darul Ilmi hal 302

Tata Cara Shalat Kusuf/Khusuf

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan Rahman dan Rahimnya, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW pada hari senin tanggal 27 Januari 632 Masehi bertepatan dengan terjadinya Gerhana Matahari yang kemudian dikenal dengan Shalat Kusuf Ada pun tata cara shalat gerhana yang pernah dicontohkan oleh Nabi sebagai berikut:

عن عائشة أنها قالت: خسفت الشمس فى عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم بالناس فقام فأطال القيام ثم ركع فأطال الركوع ثم قام فأطال القيام وهو دون القيام الأول ثم ركع فأطال الركوع وهو دون الركوع الأول ثم سجد فأطال السجود ثم فعل فى ركعة الثانية مثل ما فعل فى الأولى ثم انصرف و قد انجلت الشمس فخطب الناس فحمدالله و أثنى عليه ثم قال: إن الشمس و القمر آياتان من آيات الله لايخسفان لموت أحد ولالحياته فإذا رأيتم ذلك فادعوا الله وكبروا وصلوا وتصدقوا

Dari ‘Aisyah r.a. berkata: “Di zaman Rasulullah S.A.W. telah terjadi gerhana Matahari, kemudian Rasulullah shalat bersama orang-orang. Beliau berdiri dan memanjangkan (lama) berdirinya, lalu beliau ruku’ dan memanjangkan ruku’nya, setelah itu Beliau berdiri (lagi) dan memanjangkan berdirinya hanya tidak sepanjang berdiri yang pertama, kemudian Beliau ruku’ kurang (tidak selama) ruku’ yang pertama, kemudian Beliau sujud dan memanjangkan sujudnya. Kemudian Beliau melakukannya pada raka’at yang kedua sebagaimana melakukan pada raka’at yang pertama. Setelah itu Beliau berpaling sedangkan Matahari sudah terang, lalu beliau menasihati (khuthbah) orang-orang, Beliau membaca tasbih kepada Allah dan memuji-Nya lantas bersabda: ‘Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua ayat (tanda) di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena mati atau hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat yang serupa itu (gerhana) berdo’alah kamu kepada Allah dan bertakbirlah dan bershadaqahlah kamu.” (H.R. Bukhariy 1:181, 2:24 )

  1. Bilangan Ruku’ dalam Shalat Gerhana

Berdasarkan beberapa riwayat, shalat gerhana yang dicontohkan oleh Nabi SAW sebanyak dua raka’at. Namun, dalam hal bilangan ruku’ ternyata riwayat-riwayat itu adanya perbedaan. Apabila peristiwa gerhana itu terjadi beberapa kali, maka hadits-hadits yang menunjukkan cara yang berbeda-beda – yang dikeluarkan melalui jalan yang shahih tentu boleh diamalkan, karena satu sama lain tidak bertentangan. Tetapi karena Nabi SAW melakukannya hanya satu kali, maka harus diambil dalil yang raajih. Bilangan ruku’ menurut beberapa riwayat:

عن النعمان بن بشير أنه صلى الله عليه وسلم صلاهاركعتين بركوع (ح.ر. أحمد و أبوداود و النسائي و إبن ماجه)

Dari an-Nu’man Ibnu Basyir sesungguhnya Nabi S.A.W. sebanyak dua rakaat setiap rakaat satu kali ruku’ (H.R. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasaiy dan Ibnu Majah)

قالت عائسة: خسفت الشمس على عهدرسول الله صلى الله عليه وسلم فبعث مناديا الصلاةُ جامعةٌ, فقام فصلى أربع ركعات فى ركعتين و أربع سجدات

‘Aisyah r.a. berkata: “telah terjadi gerhana Matahari pada zaman Rasulullah S.A.W. lalu Beliau mengutus seorang penyeru (munaadiy) mengumandangkan: “ASH-SHALAATU JAAMI’AH” kemudian Beliau shalat empat kali ruku’ pada dua rakaa’at dan empat kali sujud.” (Shahih al-Bukhariy 1:362 no 1016, Shahih Muslim 2:620 no.901, Shahih Ibnu Hibban 7:93 no. 2850, Sunan an-Nasa’iy 3:127 no. 1465)

Keterangan lain menjelaskan:

…ثم فعل فى ركعة الأخرة مثل ذلك فاستكمل أربع ركعات فى أربع سجدات

“…kemudian Rasulullah S.A.W. melakukan hal yang sama (dengan raka’at yang pertama) pada raka’at yang kedua, maka sempurnakanlah empat kali ruku’ dalam empat kali sujud.” (Shahih al-Bukhariy 2:25)

…ثم يعاود القرأة فى صلاة الكسوف أربع ركعات فى ركعتين و أربع سجدات

“…kemudian Rasulullah mengulangi bacaan tadi dalam shalat kusuf empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (Shahih al-Bukhariy 2:31)

قال جابر رضي الله عنه كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى ست ركعات بأربع سجدات

Jabir r.a. berkata: “Telah terjadi gerhana Matahari pada zaman Rasulullah S.A.W. lalu Beliau shalat enam kali ruku’ dan empat kali sujud.” (Shahih Muslim 2:623 no. 904, Sunan Abi Dawud 1:306 no.1178, Sunan al-Bahaqiy al-Kubra 3:325 no. 6113, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal 3:317 no. 14457)

قال ابن عباس رضي الله عنهما كان النبي صلى الله عليه وسلم صلى فى كسوف قرأ ثم ركع ثم قرأ ثم ركع ثم قرأ ثم ركع والأخرى مثلها

Ibnu ‘Abbas r.a. berkata: “Nabi S.A.W. shalat gerhana. Beliau membaca lalu ruku’, kemudian membaca lalu ruku’, kemudian membaca lalu ruku’, dan raka’at kedua juga seperti itu.” (Shahih Muslim 2:627 no.909, Shahih Ibnu Khuzaimah 2:317 no. 1385, Sunan Abi Dawud 1: 308 no. 1183, Sunan an-Nasa’iy 3:129 no. 1468, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal 1:346 no. 3236)

Dalam riwayat lain disebutkan:

صلى ثماني ركعات فى أربع سجدات

Beliau shalat delapan kali ruku’ dan empat kali sujud. (Shahih Muslim2:627 no. 908, Sunan ad-Daaramiy 1:430 no. 1526, Sunan al-Baihaqiy al-Kubra 3:327 no. 6115, Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2:217 no. 8300)

قال أبيّ بن كعب رضي الله عنه: كسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى بهم فقرأ بسورة من الطول وركع خمس ركعات وسجدتين ثم قام إلى الثانية فقرأ بسورة من الطول وركع خمس ركعات و سجدتين

Ubay Bin Ka’ab r.a. berkata: “Telah terjadi gerhana Matahari di zaman Rasulullah S.A.W. lalu Beliau shalat mengimami mereka. Beliau membaca surat yang panjang. Beliau ruku’ sebanyak lima kali ruku’ dan dua sujud. Kemudian Beliau berdiri ke raka’at kedua lalu membaca surat yang panjang dan ruku’ sebanyak lima kali dan dua kali sujud.” (Sunan Abi Dawud 1:307 no. 1182, Musnad Ahmad bin Hanbal 5: 134 no. 21263)

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa ada beberapa riwayat tentang shalat gerhana:

  • Setiap raka’at satu kali ruku’; jadi jumlahnya 2 kali ruku’ sebagaimana shalat biasa.
  • Setiap raka’at dua kali ruku’; jadi jumlahnya 4 kali ruku’
  • Setiap raka’at tiga kali ruku’; jadi jumlahnya 6 kali ruku’
  • Setiap raka’at empat kali ruku’; jadi jumlahnya 8 kali ruku’
  • Setiap raka’at lima kali ruku’; jadi jumlahnya 10 kali ruku’

Setelah mengkaji semua riwayat yang berkaitan dengan masalah gerhana, maka dapat diambil kesimpulan bahwa shalat gerhana pada zaman Nabi S.A.W. hanya satu kali. Dengan demikian, berarti hanya satu macam cara yang dicontohkan oleh Nabi S.A.W. dan yang paling kuat adalah hadits yang menyatakan bahwa jumlah 4 kali ruku’ (setiap raka’at 2 kali ruku’). Karena selain merupakan riwayat al-Bukhariy dan Muslim jumlah Shahabatnya pun lebih banyak.

  1. Jumlah al-Fatihah dalam Shalat Gerhana

قالت عائشة رضي الله عنها خسفت الشمس, فقام النبي صلى الله عليه وسلم فقرأ سورة طويلة ثم ركع فأطال ثم رفع رأسه ثم استفتح بسورة أخرى ثم ركع حتى قضاها وسجد ثم فعل ذلك فى الثانية

‘Aisyah r.a. berkata: “ Telah terjadi gerhana Matahari, lalu Nabi S.A.W. berdiri (shalat) kemudian membaca surat yang panjang, kemudia ruku’ (sangat) lama, kemudian bangkit dari ruku’ lalu mulai membaca surat yang lain, kemudian ruku’ sampai selesai, dan bersujud. Beliau juga melakukan yang demikian itu pada raka’at kedua.” (Shahih al-Bukhariy 1:406 no. 1154)

Hadits di atas tidak menerangkan apa yang dibaca oleh Nabi S.A.W. ketika berdiri yang pertama dan yang kedua setelah ruku’ pada raka’at pertama serta berdiri ketiga dan keempat setelah ruku’ pada raka’at kedua. Untuk mengetahui apa yang dibaca oleh beliau ketika berdiri, kita kembalikan pada contoh shalat-shalat beliau, yaitu sebagai berikut:

  • Setiap qiyam/berdiri, Rasulullah selalu membaca al-Fatihah, baik pada shalat fardhu maupun shalat sunnat.
  • Setelah membaca al-Fatihah, disunnatkan membaca surat, kecuali pada raka’at ketiga dan keempat dalam shalat fardhu.

Jadi, menurut contoh Rasul, setiap berdiri dalam shalat, ada bacaan al-Fatihah. Dengan demikian tidak menyebutkan al-Fatihah pada hadits tersebut tidak berarti tidak membaca al-Fatihah.

  1. Bacaan Shalat Gerhana dengan Dijaharkan (keras)

قالت عائشة رضي الله عنها جهر النبي صلى الله عليه وسلم فى صلاة الخسوف بقرائته فصلى أربع ركعات فى ركعتين و أربع سجدات

‘Aisyah r.a. berkata: “Nabi S.A.W. mengeraskan bacaannya dalam shalat gerhana. Beliau shalat dua raka’at dengan empat kali ruku’ dan empat kali sujud.” (Shahih Muslim 2:620 no. 901, Shahih al-Bukhariy 1:361 no. 1012)

Dalam lafadl yang lain, ‘Aisyah berkata

خسفت الشمس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتى المصلى فكبر فكبر الناس ثم قرأ فجهر بالقراءة و أطال القيام

“Telah terjadi gerhana pada zaman Rasulullah S.A.W. kemudian Beliau mendatangi tempat shalat, lalu bertakbir dan orang-orang pun bertakbir. Kemudian (dalam shalat) Beliu membaca dan beliau mengeraskan bacaan itu dan lama berdiri.” (Musnad Ahmad Ibnu Hanbal 6:76 no. 24517)

قال سمرة رضي الله عنه: صلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فى كسوف الشمس ركعتين لانسمع له فيهما صوتا

Samurah r.a. berkata: “Rasulullah S.A.W. shalat mengimami kami pada waktu gerhana sebanyak dua raka’at. Kami tidak mendengar suara Beliau pada shalat itu.” (Musnad Ahmad Ibnu Hanbal 5:23)

Hadits tersebut dha’if karena dalam sanadnya adaseorang rawi bernama Tsa’labah Ibnu ‘Ibad. Ibnu Hazm dan Ibnu al-Qaththan berkata “dia itu majhul” (Tahdzib al-Kamal 4:395-396).

Hadits yang semakna diriwayatkan pula oleh asy-Syafi’iy, Abu Ya’la, dan al-Baihaqiy, dari shahabat Ibnu ‘Abbas. Pada sanadnya ada seorang rawi bernama ‘Abdullah Ibnu Lahi’ah yang menurut Ibnu Ma’in, haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah (alasan) (Tahdzib al-Kamal 15:449). Al-Bukhariy berkata: “rumah dan kitab-kitab Ibnu Lahi’ah terbakar pada tahun 170 Hijriyah (Mukhtalith)”. (Tahdzib al-Kamal 15:496).

  1. Tidak Ada Adzan dan Iqamat Pada Shalat Gerhana

قالت عائشة: خسفت الشمس على عهدرسول الله صلى الله عليه وسلم فبعث مناديا الصلاةُ جامعةٌ, فقام فصلى أربع ركعات فى ركعات و أربع سجدات

‘Aisyah r.a. berkata: “Telah terjadi gerhana Matahari pada zaman Rasulullah S.A.W. lalu Beliau mengutus seorang penyeru (munaadiy) mengumandangkan: “ASH-SHALAATU JAAMI’AH” kemudian Beliau shalat empat kali ruku’ pada dua rakaa’at dan empat kali sujud.” (Shahih al-Bukhariy 1:362 no 1016, Shahih Muslim 2:620 no.901)

  1. Shalat Gerhana Berjama’ah

قال النبي صلى الله عليه وسلم: إن الشمس و القمر ءايتان من ءايات الله لاينكسفان لموت أحد ولالحياته, فإذا رأيتموهما كذلك فافزعوا إلى المسجد

Nabi S.A.W. bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak akan terjadi gerhana karena mati dan hidupnya seseorang. Apabila kamu melihat kejadian itu, segeralah ke masjid.” (Musnad Ahmad Ibnu Hanbal 5:428 no.23679 dan Mahmud Ibnu Labid)

قالت عائشة رضي الله عنها: خسفت الشمسف فى حياة رسول الله صلى الله عليه وسلم فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى المسجد فقام فكبر وصف الناس وراءه

‘Aisyah r.a. berkata: “Telah terjadi gerhana Matahari pada masa hidup Rasulullah S.A.W. lalu Beliau pergi ke masjid, kemudian berdiri dan takbir. Dan orang-orang bershaf di belakang beliau.” (Shahih Muslim 2:619 no. 901, Shahih Ibnu Khuzaimah 2:319 no. 1387, Sunan al-Bahaqiy al-Kubra 3:321 no. 6097, Sunan Abi Dawud 1:307 no.1180, Sunan an-Nasa’iy 3:130 no. 1472, Sunan Ibnu Majah 1:401 no. 1263, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal 6:87 no. 24625, Musnad Abi Awanah 2:347, al-Muntaqa li Ibni al-Jarud 1:73 no. 249)

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan shalat gerhana itu:

  1. Berdiri/qiyam yang panjang pada raka’at pertama dengan bacaan dan tata caranya sama dengan shalat biasa, yaitu do’a iftitah, ta’awudz, al-Fatihah, kemudian baca surat,
  2. Kemudian ruku’ pertama pada raka’at pertama dengan tata cara dan bacaannya sama dengan shalat biasa,
  3. Kemudian bangkit dari ruku’ (qiyam kedua) cara dan bacaannya sama dengan bangkitnya shalat biasa, dilanjutkan membaca al-Fatihah dan surat (qiyam kedua pada raka’at pertama),
  4. Kemudian ruku’ kedua pada raka’at pertama, yang bacaannya sama dengan shalat biasa,
  5. Bangkit dari ruku’ kedua, bacaannya sama dengan bangkit shalat biasa, dilanjutkan sujud yang tata cara dan bacaannya sama dengan shalat biasa,
  6. Qiyam ketiga, raka’at kedua sama cara dan bacaannya dengan qiyam kedua pada shalat biasa, yaitu baca al-Fatihah dan surat,
  7. Kemudian ruku’ ketiga pada raka’at kedua lalu bangkit dari ruku’ baca lagi al-Fatihah dan surat (qiyam keempat),
  8. Kemudian ruku’ keempat raka’at kedua, lalu bangkit. Bacaan dan tata caranya sama dengan shalat biasa.
  9. Kemudian sujud ketiga raka’at kedua, dilanjutkan duduk di antara dua sujud, lalu sujud keempat pada raka’at kedua yang cara dan bacaannya sama dengan shalat biasa,

10. Duduk untuk at-Tahiyyat, cara dan bacaannya sama dengan shalat biasa,

11. Dilanjutkan khuthbah oleh Imam,

12. Bershadaqah,

13. Pada saat qiyam kedudukan tangan tetap bersidekap seperti shalat biasa.

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خيرللإسلام والمسلمين

Ta’aruf

PAJAGALAN 1-2Ijinkan saya memperkenalkan diri saya – nama saya Zaid Nasrullah, menurut orang tuaku saya lahir normal dengan selamat di Bandung, 11 Desember 1988. Saya disekolahkan di Pesantren Persatuan Islam no. 1 Bandung pada tahun 2004 di bangku kelas 2b Tsanawiyyah hingga lulus Mu’allimiyn program MIPA tahun 2009 untuk memperdalam Ilmu Agama dalam menghadapi era globalisasilogo-persis-green

Hobi saya membaca buku berbau sains apalagi menyangkut Astronomi (Ilmu Falak) yang ada kaitannya dengan Alam Semesta karena astronom merupakan cita-citaku. Semenjak SMP di Pasundan 2 Cimahi saya lebih suka main bola basket walaupun kemampuan main basketku pas-pasan. Oia alamatku di Perumnas Cijerah 2 Blok 11 No. 40 Rt: 06 Rw: 19 kel. Melong Kecamatan Cimahi Selatan… gol. darahku B dan Saya aktif di AFC (AstroFun Club 107˚ 37′)Lembang, Bandung.

venjpt_beletsky

Salah satu kegiatan AFC  ini untuk mengetahui terjadinya Gerhana Bulan Penumbra bersama Hendro Setyanto, M.Si & Judhistira Aria Utama, M.Si yang pernah terjadi pada tanggal 9 Februari 2009 di Jl. Peneropongan Bintang No. 3 (Toko Teleskop), Lembang, Bandung, pengamatan gerhana Penumbra ini adalah observasi yang pertama kali saya amati.

Tokoh yang kuidolakan adalah dua orang Ilmuwan Muslim yaitu Abu Raihan al-Biruni & Adnan Oktar atau nama bekennya adalah Harun Yahya, lewat VCD dan tulisannyalah saya banyak belajar mengenai alam semesta secara sederhana namun berisi. Sementara al-Biruni saya mengenalnya ketika saya membaca sejarah keemasan Islam yang menguasai dunia selama hampir 10 abad dan Beliau adalah seorang Ilmuwan yang paling berpengaruh dalam bidang Astronomi bahkan bukunya menjadi buku rujukan bagi para sciencetis Eropa.

dan ini adalah teman-teman seperjuanganku di Pesantren Persatuan Islam no 1 Bandung, kami semua sekelas selama 2 tahun di kelas 2a dan 3a Mu’allimiyn dan yang paling belakang memakai sweater warna biru bertuliskan Budweiser adalah adik kandungku yang pertama, ya.. kami sekelas….S718782 RIZKY G-27-8R-007.tif-54707

Apalagi ya yang mau diinformasikan…. jadi bingung kaya yang ngomong sendiri….

Hhe… Hhe… Hhe….

Baiklah saya akan mengungkapkan pemikiran saya tentang TA’ARUF.

Ta’aruf berasal dari bahasa arab dalam bentuk isim mashdar yaitu dariتَعَارَفَ – يَتَعَارَفُ – تَعَارُفًا  (Ta’aarafa – Yata’aarafu – Ta’aarufan) yang artinya berkenal-kenalan. Islam menghalalkan seseorang untuk berkenalan dengan lawan jenisnya sebelum menikah, tetapi tetap harus dijaga rambu-rambunya – jangan berharap bisa berduaan plus memegang tangannya. Itulah hebatnya dan perhatiannya Islam yang memuliakan kaum Hawa (wanita). Namun kebanyakan mengingkari hal ini. Tapi entahlah apakah itu karena ingin diperhatikan atau karena memang keadaan lingkungan yang memaksakan untuk melakukan hal itu, mungkin sebenarnya hanya dia yang tahu (dan tentu saja Dia (Allah) tidak boleh ditinggal).

Namun di samping itu saya akan mencoba mengungkapkan sisi Ta’aruf dari sudut pandang yang lain sebagaimana termaktub di dalam Q.S. al- Hujuraat (49): 13

يـأيها الناس إناخلقنـكم من ذكر وأنثى وجعلنـكم شعوبا وقبآئل لتعارفوا إن أكرمكم عند اﷲ أتقـكم إن اﷲ عليم خبير ﴿س.ق. الحجرات (٤٩):١٣﴾

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami Jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” {QS. Al-Hujuraat (49): 13}.

kalau kita coba membuka lembaran-lembaran masa lalu Islam – lebih tepatnya pada masa Nabi S.A.W. di buku sirah Nabawiyah maka kita akan disuguhi perjalanan kisah yang diceritakan kepada orang lain sampai begitu panjangnya daftar nama yang disebutkan dalam Ilmu Mushthalah Hadits disebut sanad.

Begitu banyaknya ahli hadits yang mengembara ke seluruh dunia demi mendapatkan satu hadits, kemudian diikuti oleh para sciencetist untuk mencari buah pemikiran dari berbagai bidang ilmu dari peninggalan peradaban sebelumnya

﴿س.ق. المجادلة (٥٨):١١﴾

… إنما يخشى اﷲ من عباده العلمـؤا…﴿س.ق. فاطر (٣٥):٢٨﴾

bersambung……

﴿س.ق. المجادلة (٥٨):١١﴾

… إنما يخشى اﷲ من عباده العلمـؤا…﴿س.ق. فاطر (٣٥):٢٨﴾

Ghirah Seorang Muslim

Perjuangan umat Islam yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW dalam memberantas kejahiliyahan dan ketakhayulan dari segi aqidah, moral, dan IPTEK pada saat itu.

Allah berfirman dalam Al-qur’an surah al-isra’: 36

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak ada padamu ilmu”.

Disini Allah menerangkan kepada manusia khususnya orang yang beriman supaya tidak taklid (mengikuti tanpa ada dasar) bahkan Allah menurunkan al-qur’an yang pertama yaitu surah al-’alaq ayat yang pertama iqra‘ (bacalah) dengan ini lengkap sudah perintah Allah mengenai keradikalan dalam berpikir terutama menyangkut ayat-ayat kauniyah yang bertebaran di dalam Al-qur’an seperti surat Ali Imran dan ayat ini pula sebagai penyemangat maupun rujukan dalam melakukan study para Ilmuwan Muslim.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَاب الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka “(Q.S. Ali Imran :190-19).

Kalau kita menengok ke masa lampau banyak penduduk Mekkah percaya kepada yang namanya takhayul seperti bahwa di ujung dunia ini ada gunung-gunung yang menyangga langit yang penuh dengan bintang-kemintang, terjadinya gempa bumi dan tsunami itu disebabkan oleh makhluk gaib yang marah karena tidak diberi sesajian, peristiwa gerhana bulan maupun matahari itu karena dimakan oleh Batarakala (Indonesia), dsb. Padahal kalau kita bandingkan ke zaman kita sungguh itu adalah sesuatu yang sangat memalukan bagi orang yang berpikir terutama para ilmuwan.

Awal mula suatu peradaban yang sangat maju dalam sektor pengelolaan ilmu adalah pada massa

1. Mesir kuno

Mesir kuno adalah suatu peradaban kuno di bagian timur laut Afrika Peradaban ini terpusat sepanjang pertengahan hingga hilir Sungai Nil yang mencapai kejayaannya pada sekitar abad kee-2 SM, pada masa yang disebut sebagai periode Kerajaan Baru. Daerahnya mencakup wilayah Delta Nil di utara, hingga Jebel Barkal di Katarak keempat NIL. Pada beberapa zaman tertentu, peradaban Mesir meluas hingga bagian selatan levant, Gurun Timur, pesisir pantai Laut Merah, semenanjung Sinai, serta Gurun Barat(terpusat pada beberapa oasis).

Peradaban Mesir Kuno berkembang selama kurang lebih tiga setengah abad. Dimulai dengan unifikasi awal kelompok-kelompok yang ada di Lembah Nil sekitar 3150 SM, peradaban ini secara tradisional dianggap berakhir pada sekitar 31 SM, sewaktu Kekaisaran Romawi awal menaklukkan dan menyerap wilayah Mesir Ptolemi sebagai bagian provinsi Romawi. Walaupun hal ini bukanlah pendudukan asing pertama terhadap Mesir, periode kekuasaan Romawi menimbulkan suatu perubahan politik dan agama secara bertahap di Lembah Nil, yang secara efektif menandai berakhirnya perkembangan peradaban independen Mesir.

2. Mesopotamia

Keistimewaan Mesopotamia untuk peradaban dunia sudah disinggung beberapa saat lalu, karena itu tidak perlu diulangi lagi. Saya ingin melihatnya dari sudut kebudayaan dan religius meski ini pun sudah pernah disinggung sedikit.

Menurut keyakinan Kristen dan Yahudi seperti dalam Perjanjian Lama, ada usaha menghubungkan keluarga Abraham (yang lalu disebut “Bapa Orang Beriman” dan diakui oleh tiga agama monoteistik dunia, Islam, Kristen, dan Yahudi) dengan Mesopotamia. Dalam kitab Kejadian 11,31 dikatakan, pada suatu masa keluarga Abraham berpindah dari Ur- Kasdim ke Haran sebelum akhirnya berpindah ke Kanaan (Palestina sekarang).

Tidak mudah untuk menentukan lokasi Ur-Kasdim secara tepat. Biasanya yang ditunjuk sebagai lokasi daerah ini adalah Tell el-Muqayyar, situs bekas reruntuhan Kota Ur kuno dari periode Sumeria. Tapi, banyak ahli masih meragukan usulan ini. Sedangkan Haran terletak di bagian utara Mesopotamia, di tepi Sungai Eufrat.

Beberapa catatan lain bisa dikemukakan untuk menunjukkan hubungan antara Abraham dengan Mesopotamia. Dalam kitab Ulangan 26,3; Nabi Musa mengajak umat untuk berdoa kepada Tuhan saat mempersembahkan panen pertama dengan mengawalinya, Bapaku adalah seorang Aram, seorang pengembara.

Di tempat lain dikatakan, Ishak, anak Abraham, diperintah Abraham untuk mencari istri dari daerah Aram-Mesopotamia (aram-naharayim) (Kejadian 24,2.10). Demikian juga dengan Yakub, cucu Abraham, dia disuruh pergi ke Padan-Aram untuk mendapatkan istri di sana (Kejadian 28,2). Dalam terjemahan Yunani Septuaginta, kedua nama terakhir ini disebut Mesopotamia.

Begitulah, melalui beberapa teks itu kelihatan, Abraham, Bapa Orang Beriman, tampaknya mempunyai hubungan dengan Mesopotamia.

SELAIN petunjuk yang secara eksplisit ada dalam Alkitab, masih bisa ditemukan informasi lain yang menunjukkan pengaruh Mesopotamia yang cukup kuat. Kini sudah lazim diterima bahwa kisah Penciptaan dan kisah Air Bah yang terkenal itu, yang dikisahkan pada bagian awal kitab Kejadian, sebenarnya kuat dipengaruhi sastra Mesopotamia. Biasanya ada tiga karya sastra Mesopotamia yang ditunjuk, yaitu Enuma Elish (dari abad 17 SM), Epic Gilgamesh (abad 20 SM), dan Athrahasis (abad 18-17 SM). Teks-teks itu cukup terkenal dan tersebar luas karena ditemukan dalam berbagai versi dan bahasa, seperti versi Akkadia, Sumeria, Hittit, dan Asyur.

Kemiripan antara sastra Mesopotamia dengan teks-teks Alkitab begitu mencolok sehingga orang mau tidak mau menyimpulkan, ada ketergantungan di antara mereka. Karena teks-teks Mesopotamia berasal dari periode yang jauh lebih tua dari teks-teks Alkitab, maka tidak mengherankan jika bisa disimpulkan, teks Alkitab bergantung pada sastra Mesopotamia itu. Para penulis Israel tampaknya mengambil dan memanfaatkan teks-teks Mesopotamia itu untuk mengungkap keyakinan mereka, sekaligus menyesuaikannya dengan keyakinan itu, terutama di bidang monoteisme: segala yang berbau politeisme dibuang jauh-jauh!

Namun, bila kitab Kejadian disusun oleh para penulis Israel pada awal masa kerajaan, kira-kira abad 10 SM, sementara sampai saat itu tidak ada kontak langsung antara Israel dengan Mesopotamia, lalu dari mana datangnya pengaruh Mesopotamia itu?

Salah satu kemungkinan adalah bahwa kisah-kisah Mesopotamia dibawa ke Palestina-lalu menyebar-saat terjadi perpindahan penduduk besar-besaran dari Mesopotamia yang disebabkan situasi yang agak kacau sekitar abad 19 SM. Kiranya ini juga yang menjadi konteks berpindahnya keluarga Abraham dari Ur ke Haran, lalu ke Kanaan.

Berbagai kebiasaan dan peraturan yang dilakukan para Bapa Bangsa yang tercermin dalam kitab Kejadian ternyata juga menemukan banyak kesamaan dengan kebiasaan dan peraturan yang hidup di daerah Mesopotamia. Sebagai contoh, kekhawatiran Abraham karena dia tidak mendapat keturunan, karena itu harus mewariskan segala miliknya kepada abdinya yang setia, Eliezer (Kejadian 15,1-4), ternyata sejajar dengan praktik yang dilakukan masyarakat Nuzi yang mendiami sebelah timur Sungai Tigris. Hal ini bisa diketahui melalui analisis teks-teks hukum yang berlaku di Nuzi, yang berasal dari abad 15 SM.

Kisah tentang Abraham yang datang ke negeri asing lalu mengaku istrinya sebagai saudarinya (Kejadian 12,10-20) sering membingungkan orang. Tetapi, kini, dengan ditemukannya teks-teks yang berasal dari bangsa Hori di sebelah utara Mesopotamia, berdekatan dengan Haran, hal itu bisa dipahami dengan lebih baik.

Dalam masyarakat Hori, ikatan perkawinan yang paling kuat adalah jika seorang istri sekaligus mendapat status saudari secara hukum. Karena itu, sering terjadi, sesudah perkawinan diadakan upacara lain untuk mengadopsi sang istri menjadi saudari. Hal ini disahkan dengan dua dokumen. Pertama, dokumen tentang perkawinan. Kedua, berkait dengan pengangkatannya sebagai saudari.

SALAH satu warisan peradaban Mesopotamia Kuno yang amat bernilai bagi umat manusia adalah kumpulan hukum yang biasa disebut Codex Hammurabi. Kumpulan hukum yang berbentuk balok batu hitam itu ditemukan di Susa tahun 1901 dalam suatu ekspedisi yang dilakukan arkeolog Perancis di bawah pimpinan M de Morgan. Pada bagian atas balok, yang kini ada di Museum Louvre, Paris, ada relief yang menggambarkan Raja Hammurabi dari Babilonia Kuno (1728-1686 SM) sedang menerima hukum dari Dewa Shamash, dewa Matahari yang juga menjadi dewa pelindung keadilan.

Perbandingan dengan kumpulan hukum yang ada dalam kitab Keluaran 21-23 menunjukkan adanya kesejajaran yang dekat. Adanya ketergantungan antara kedua kumpulan hukum itu tidak bisa ditentukan dengan pasti, tetapi pengaruh tidak langsung rasanya merupakan sesuatu yang amat masuk akal.

Codex Hammurabi, yang terdiri dari 282 pasal ditambah Prolog dan Epilog, tidak saja berpengaruh pada kumpulan hukum yang ada dalam Alkitab, tetapi juga pada sistem hukum pada periode selanjutnya. Yang menarik dan mungkin membuat kita (seharusnya) tertunduk malu adalah, kumpulan hukum itu juga mengingatkan kita bahwa sejak abad 18 SM, di Mesopotamia sudah ada seorang pemimpin besar yang sungguh-sungguh mempunyai kesadaran bahwa manusia harus diperlakukan secara adil sebagai manusia.

Kini, pada milenium ketiga, tanah yang sudah memberi banyak sumbangan bagi umat manusia ternyata masih mengalami penganiayaan, entah sampai kapan. Mungkin Hammurabi sendiri akan menangis melihat kenyataan yang bertentangan dengan apa yang pernah ditulisnya dalam Epilog codex-nya yang menggambarkan tujuannya menuliskan hukum:

Di dadaku kubawa rakyat Sumeria dan Akkadia; mereka berkembang di bawah perlindunganku; aku selalu memerintah mereka dalam kedamaian; aku menaungi mereka dengan kebijaksanaanku.

Agar yang kuat tidak menindas yang lemah; agar para yatim piatu dan para janda mendapatkan keadilan; di Babilonia, kota di mana Anum dan Elil menengadahkan kepalanya; di Esagila, kuil yang dasarnya kokoh kuat seperti langit dan bumi; aku menulis kata-kataku yang berharga ini pada monumenku; dan di hadapan patungku, sebagai raja keadilan, aku menetapkannya untuk mengatur hukum di negeri ini; untuk menentukan peraturan bagi negeri ini; untuk memberi keadilan bagi yang tertindas. Sayang sekali.

3. Yunani

Yunani memiliki kesinambungan sejarah lebih dari 5,000 tahun. Bangsanya, disebut Hellenes, setelah mendiami sebagian besar dari daerah Laut Hitam (Efxinos Pontos) dan Laut Tengah menjelajah daerah sekitarnya, menyusun negara bagiannya, membuat perjanjian-perjanjian komersil, dan menjelajah dunia luar, mulai dari Caucasus sampai Atlantic dan dari Skandinavia samapi ke Ethiopia. Sebuah expedisi terkenal dari gabungan daerah-daerah maritim Yunani ( Danaë atau penduduk laut ) mengepung Troy seperti dinarasikan didalam sebuah karya sastra Eropa besar pertama, Homer’s Iliad. Bermacam-macam penduduk Yunani ditemukan sepanjang Laut Tengah, Asia Kecil, Laut Adriatik, Laut Hitam dan pantai Afrika Utara akibat dari penjelajahan untuk mencari tempat dan daerah komersil baru.

Selama periode Kalsik (Abad ke 5 S.M.), Yunani terdiri dari daerah-daerah bagian kecil dan besar dalam bermacam-macam bentuk internasional (sederhana, federasi, federal, konfederasi) dan bentuk-bentuk internal (kekerajaan, tirani, oligarkhi, demokrasi konstitusional, dan lain-lain) yang paling terkenal ialah Athena, diikuti oleh Sparta dan Thebes. Sebuah semangat kebebasan dan kasih yang membara membuat bangsa Yunani dapat mengalahkan bangsa Persia, adikuasa pada saat itu, didalam peperangan yang terkenal dalam sejarah kemanusiaan- Marathon, Termopylae, Salamis dan Plataea.

Pada paruh kedua abad ke 4 S.M., banyak daerah-daerah bagian di Yunani membentuk sebuah Aliansi (Cœnon of Corinth) yang dipimpin oleh Alexander Agung sebagai Presiden dan Panglima (Kaisar) dari Aliansi, Raja dari Macedonia (“Yunani takabara” dalam bahasa persia kuno) menyatakan perang dengan Persia, membebaskan saudara-saudara mereka yang terjajah, Ionian, dan menguasai daerah-daerah yang diketahui selanjutnya. Menghasilkan sebuah masyarakat yang berkebudayaan Yunani mulai dari India Utara sampai Laut Tengah barat dan dari Rusia Selatan sampai Sudan.

Pada tahun 146 S.M., Aliansi diatas jatuh ke bangsa Romawi. Pada tahun 330, ibukota negara bagian Romawi berdiri didaerah baru, Roma Baru atau Konstantinopel, sebuah bentuk popular, sebuah nama untuk memperingati Kaisar Romawi, pada saat itu, Konstantin Khloros (Konstantin Agung). Para ahli sejarah sejak abad ke 19 lebih memilih, untuk alasan referensi, menamakan periode terakhir sebagai Bizantium dengan tujuan untuk membedakan 2203 tahun wilayah Romawi menjadi dua periode. Selama periode kedua dunia budaya Yunani klasik dari Yunani Kuno berubah menjadi dunia modern masyarakat barat dan kristen. Kata Bizantium diambil dari wilayah yang sudah ada sebelumnya (Bizantium, dengan Megara sebagai Metropolis) dimana ibukota baru berada, Konstantinopel.

Setelah ibukota dan wilayah jatuh ketangan Turki pada tahun 1453, bangsa Yunani berada dibawah kekuasaan Ottoman hampir selama 400 tahun. Selama masa ini bahasa mereka, agama mereka dan rasa identitas diri tetap kuat, yang menghasilkan banyak revolusi untuk kemerdekaan meskipun gagal.

Pada tanggal 25 Maret 1821, bangsa Yunani memberontak kembali, kali ini berhasil, dan pada tahun 1828, mereka mendapatkan kemerdekaannya. Sebagai sebuah negara baru yang hanya terdiri dari sebagian kecil dari negara modern mereka, perjuangan untuk membebaskan seluruh daerah yang dihuni oleh bangsa Yunani berlanjut. Pada tahun 1864, kepulauan Ionian disatukan dengan Yunani; tahun 1881 sebagian dari Epirus dan Thessaly. Crete, Kepulauan Aegean Timur dan Macedonian ditambahkan pada tahun 1913 dan Thrace Barat tahun 1919. Setelah Perang Dunia II kepulauan Dodecanese juga dikembalikan ke Yunani.

4. Islam

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pingasaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS al-Baqarah [2]: 164)

Siapakah yang mendominasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini? Siapakah yang menguasai perekonomian dan perdagangan dunia? Siapakah yang menjadi negara adikuasa di dunia ini? Jawabannya, bukan negara berpenduduk Muslim mayoritas, tapi negara Barat. Negara-negara Barat saat ini menjadi pelopor ilmu pengetahuan dan teknologi serta perdagangan. Penemuan-penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi baru selalu berasal dari negara Barat, bukan negara-negara Muslim. Negara-negara Muslim hanya menjadi konsumen (pemakai) dari produk teknologi, bukan pencipta.

Kehidupan negara-negara berpenduduk Muslim mayoritas juga dihimpit kemiskinan. Kecuali Saudi Arabia, Kuwait, dan Malaysia, negara-negara Muslim, berdasarkan data yang dikeluarkan Bank Dunia dan IMF, dikategorikan sebagai negara miskin. Dua realitas ini, yaitu kemiskinan dan kebodohan, selalu mengakrabi kehidupan umat Islam.

Kehidupan umat Islam saat ini jika dibandingkan dengan kehidupan umat Islam di abad ke-10 sungguh sangat kontras sekali. Umat Islam di abad ke-10 mampu menjadi umat yang terbaik (khairu ummah) pada masanya. Saat itu umat Islam mampu menjadi pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan dan menjadi “sumbu” peradaban dunia serta juga mempunyai kekuasaan politik yang terbentang luas.

Di masa yang disebut sebagai masa keemasan Islam ini lahir pemikir-pemikir Muslim yang sampai saat ini namanya masih harum, misalnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd serta Ibnu Khaldun. Ibnu Sina adalah pelopor dalam bidang ilmu kedokteran yang konon buku karangannya fi ‘ilmi at-Thib (tentang ilmu kedokteran) sampai saat ini menjadi rujukan ilmu kedokteran. Ibnu Rusyd disebut masyarakat Barat sebagai “al-Muallim ats-Tsani” (the second teacher), pelanjut filsafat Aristoteles. Sedangkan Ibnu Khaldun adalah pelopor ilmu sosiologi. Buku karangannya yang berjudul al-Muqaddimah disebut sebagai buku sosiologi yang pertama ada di dunia.

Mengapa Umat Islam Mundur

Kemegahan peradaban Islam mulai surut dengan jatuhnya Baghdad di tangan pasukan Mongol. Pasukan Mongol saat meruntuhkan kekuasaan Baghdad membakar habis buku-buku hasil penalaran otak kaum muslim. Menurut A.J. Toynbee, pembakaran buku-buku di perpustakaan Baghdad membuat umat Islam mundur dua abad ke belakang.

Tapi menurut intelektual asal Pakistan Fazlur Rahman, penyebab fundamental kemunduran umat Islam adalah perubahan pola pikir. Setelah masa ini, menurut Fazlur Rahman, umat Islam hanya mengabadikan hasil pemikiran umat Islam masa lalu dan tidak berusaha menggali serta mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga perkembangan pemikiran umat Islam mengalami stagnasi (jumud).

Perubahan lain yang terjadi di tubuh umat Islam setelah kejatuhan Baghdad adalah pandangan terhadap Alquran. Kalau umat Islam di abad ke-10 membaca Alquran dilanjutkan dengan penelitian atas fenomena alam yang ditunjuk Alquran, umat Islam setelahnya membaca Alquran tidak diikuti dengan penelahan atas fenomena alam yang dibicarakan Alquran, tapi sebatas mengimaninya saja. Pembacaan terhadap Alquran hanya ditujukan untuk mendapatkan pahala, tidak lebih.

Inilah penyebab kenapa umat Islam mengalami kemunduran dalam bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan kemiskinan menjalar ditubuh umat Islam karena paham yang menyatakan bahwa baik-buruknya nasib umat Islam adalah suratan takdir Ilahi. Kemiskinan dianggap sebagai takdir Ilahi yang tidak bisa diubah. Padahal dalam sebuah ayat dinyatakan perubahan akan terjadi jika umat Islam mau berusaha merubahnya (QS ar-Ra’d [13]: 11).

Kembali ke masalah ilmu pengetahuan, sebenarnya Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk selalu berpikir dan merenungi fenomena alam. Kita bisa melihat dari banyak ayat-ayat Alquran yang memerintahkan umat Islam untuk selalu berpikir, meneliti dan merenungi fenomena alam. Dari olah pikir dan renungan fenomena alam inilah umat Islam akan menemukan sebuah ilmu pengetahuan yang baru yang bisa membangkitkan peradaban. Tapi ironis, ternyata yang melaksanakan perintah berpikir dan merenungi kekuasaan Allah yang “terjelma” di jagad raya adalah non muslim.

Saat ini umat Islam hanya membaca Alquran tidak disertai pemahaman dan penelahaan atas makna kandungannya. Sikap ini sangat dikecam oleh Rasullulah. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Hibban Rasulullah bersabda, “Telah diturunkan kepadaku satu ayat tadi malam. Celakalah bagi orang yang membacanya, tetapi tidak mau memikirkan (maksudnya)-nya, celaka baginya.” (HR Muslim & Ibnu Hibban).

Integrasi Imu

Keadaan ini semakin diperparah dengan pola pikir sebagian besar umat Islam yang mendikotomikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan umum, termasuk sains dan teknologi. Umat Islam menomorduakan sains dan teknologi. Umat Islam menganggap hanya mempelajari ilmu agama yang mendapatkan pahala, sedangkan belajar ilmu pengetahuan umum tidak mendapatkan pahala. Padahal segala usaha yang diniatkan tulus untuk mencapai keridhaan Allah dinilai pahala di sisi-Nya.

Perubahan pola pikir ini atau mengintegrasikan Islam dan ilmu pengetahuan adalah solusi mengeluarkan umat Islam dari keterpurukan dan mengejar ketertinggalannya dari masyarakat Barat. Penghilangan dikotomi antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan Ilmu Agama sebenarnya bisa dilakukan dengan menelaah dan mempelajari kembali ayat-ayat Alquran yang menyeru kaum Muslim untuk mempelajari apa yang ada di langit dan di bumi. Sedangkan mengangkat keterpurukan umat Islam dalam bidang ekonomi bisa dilakukan dengan melaksanakan perintah Alquran kepada umat Islam untuk senantiasa memanfaatkan alam. Berikut ayat yang memerintahkan dua hal tersebut:venjpt_beletsky

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,” (QS Ali Imran [3]: 190)

“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi…” (QS Yunus [10]: 101)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang (nya),” (QS al-Hijr [15]: 16)

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran kami kepada orang-orang yang mengetahui,” (QS al-An’am [6]: 97)

“Dan kami telah ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia…” (QS al-Hadid [57]: 25)

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang bersampingan, dan kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang, disirami dengan air yang sama, Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain, tentang rasa (dan bentuknya). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”. (QS ar-Ra’d [13]: 4)

“Dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di rumah-rumah yang didirikan manusia! kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itulah keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat yang menyembuhkan bagi bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan,’” (QS an-Nahl [16]: 68-69)

Perintah dari ayat di atas itulah yang diabaikan umat Islam dan dipraktikkan oleh masyarakat Barat sehingga umat Islam mengalami kemunduran dan Barat mencapai kemajuan. Untuk menghibur diri, umat Islam menyatakan kemajuan yang dicapai Barat saat ini tidak lepas dari bantuan umat Islam masa lalu. Hal ini memang benar, tapi realitas umat Islam saat ini seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa romatisme masa lalu tidak akan merubah keadaan. Umat Islam saat ini akan bangkit jika giat melakukan mempelajari ilmu pengetahuan dan memanfaatkan sumber daya alam. Mustahil umat Islam maju tanpa melakukan dua hal ini.

Di abad ke-10 umat Islam maju karena memperlajari ilmu pengetahuan Yunani untuk kemudian mengembangkan dan mewarnainya dengan nilai-nilai Islam. Begitu juga umat Islam saat ini, mereka harus belajar dari Barat karena di sanalah sumber Ilmu pengetahuan sebagaimana Yunani dulu menjadi sumber ilmu pengetahuan.

Umat Islam jangan menganggap segala yang datang dari Barat sebagai hal yang berbahaya bagi agama Islam dan umatnya. Yang diperlukan adalah sikap selektif; membuang yang buruk dan mengambil yang baik. Kemajuan yang dicapai Barat haruslah dipelajari, bukan dimusuhi. Sikap memusuhi apa yang datang dari Barat akan kontraproduktif bagi kemajuan umat Islam.

Wallahu a’lamu bis shawab.

Diantara Ilmuwan Muslim yang berkontribusi dibidang IPTEK:

ibn-al-baitar

Abu RaihaAl-Biruni                       Ibnu Al-Baitar

Referensi: http://www.dakwatuna.com

http://www.wikipedia.org

http://www.unisosdem.org

http://www.greekembassy.or.id

http://www.cmm.or.id

Nama: Zaid Nasrullah

Kelas: XII IPA ( 3A Mln)

Pesantren Persatuan Islam 1-2 Bandung

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.