بسم الله الرحمن الرحيم

PEMBAGIAN BINTANG

Sudah sejak lama, beberapa bangsa seperti Bangsa Mesir, Babilonia, Cina, dan Yunani secara teliti mengamati benda-benda langit dan pergerakannya. Sejak saat itu Bangsa Yunani melakukan pengamatan dan perhitungan lebih cermat dan sistematik terhadap posisi benda-benda langit. Sehingga Bintang-bintang di langit dibagi-bagi menjadi banyak daerah konfigurasi Bintang. Mereka membayangkan bentuk-bentuk konfigurasi – yang kemudian dikenal dengan konstelasi Bintang yang mirip dengan objek-objek yang mereka kenal dalam mitologi mereka seperti Andromeda, Sagittarius, Hercules dll.

Presesi sumbu rotasi Bumi. kredit : Langit Selatan

A.    Konstelasi

Rasi Bintang atau konstelasi adalah kumpulan bintang-bintang yang dihubungkan menjadi suatu pola rekaan pada bidang langit. Jadi, bintang-bintang dalam satu rasi mungkin agak ‘berdekatan’ menurut bidang pandang, tetapi dalam garis pandang, sangat mungkin salah satu bintangnya lebih dekat ke Bumi dari pada ke bintang-bintang lainnya. Pola-pola suatu rasi dibuat hanya berdasarkan imajinasi penemunya, dan umumnya diberi nama binatang atau tokoh-tokoh dalam mitologi Yunani dan Romawi.

Bumi berotasi pada porosnya. Ketika berputar, sumbu rotasi Bumi akan berperilaku mirip gasing yang bergeser sedikit demi sedikit. Gerak perputaran sumbu rotasi Bumi ini memiliki periode 25765 tahun. Seiring berjalannya waktu, konstelasi pada astronomi akan berubah karena adanya gerak presesi[1] Bumi selama 26.000 tahun ke arah Bintang Vega maupun Polaris yang kemudian menjadi penentu arah Utara. Karena perubahan yang sangat lambat dalam hal orientasi dengan bintang, posisi Matahari di langit pada Vernal Equinox bergeser perlahan ke barat yang artinya juga bergeser dari penanggalan. Inilah yang disebut efek presesi equinox. Laju pergeseran itu 1 hari setiap 71 tahun.

Pada tahun 2011 ketika vernal equinox terjadi pada tanggal 21 Maret, posisi Matahari tampak berada di rasi Pisces di dekat perbatasan Aquarius. Berbeda dengan saat pertama kali konstelasi zodiak dipetakan pada kisaran tahun 1370 SM, pada masa itu vernal equinox terjadi ketika Matahari masih berada di rasi aries. Dan di tahun 10000 nanti, Matahari pada tanggal 21 Maret akan tampak berada di rasi Scorpius. Matahari akan kembali tampak berada di Aries dalam kisaran 23.000 tahun lagi[2].

Berikut ada beberapa Konstelasi bintang yang penting[3];

a.      Ursa Mayor (Beruang Besar)

Rasi Ursa Mayor berada di atas, sementara Ursa Minor ada di bawah. Kredit: Stellarium.

Konstelasi bintang Ursa Mayor yang terdapat pada bola antariksa sebelah Utara terdiri dari 7 buah anggota (Dubhe, Alioth, Mizar, Alkaid, Merak, Phad, dan Megrez). Konstelasi bintang ini sejak dahulu kala secara praktis dipergunakan untuk mencari atau menentukan arah Utara (Bintang Polaris), yaitu dengan cara menghubungkan bintang α Uma dan γ Uma. Garis khayal ini kita teruskan sampai memotong horizon. Titik potong garis ini dengan horizon itulah titik Utara – seperti pada gambar di atas yang mengarah pada sebuah Bintang terterang bernama Polaris terletak di bawah huruf U.

Rasi Layang-layang merupakan penanda arah Selatan. Kredit: Stellarium.

b.      Layang-layang

Bola antariksa bagian Selatan terdapat sekelompok Bintang yang beranggotakan 4 buah bintang (Acrux, Mimosa, Gacrux, dan δ Crux), yang disebut konstelasi Bintang Layang-layang atau Pari, Crux. Konstelasi bintang ini dapat dipergunakan untuk menentukan titik Selatan, yaitu dengan cara menarik garis imajiner antara bintang γ Crucis dan bintang α Crucis. Garis imajiner ini diperpanjang sampai memotong horizon. Titik potong antara perpanjangan garis ini dengan horizon inilah titik Selatan.

c.       Ursa Minor

Bintang Polaris merupakan salah satu anggota dari konstelasi Ursa Minor (Beruang Kecil) yang paling terang dan merupakan penunjuk untuk menentukan arah Utara. Konstelasi ini beranggotakan Polaris, Kocab, Pherkad, Yildun, ε Umi, ζ Umi, dan η Umi. Polaris juga bisa digunakan untuk menentukan letak lintang atau lebar Geografis sebuah tempat di Bumi sebelah Utara khatulistiwa.

d.      Orion

Garis berwarna biru condong ke arah Utara yang berarti Pengamat berada di Bumi bagian Selatan. Kredit Stellarium.

Rigel merupakan salah satu nama bintang terterang di konstelasi Orion yang diikuti oleh Betelgeuse. Rasi bintang ini oleh Bangsa Mesir digunakan sebagai penanda waktunya musim bercocok tanam. Di antara kelompok konstelasi ini terdapat tiga buah Bintang, yaitu Alnilam, Alnitak[4], dan Mintaka. Bintang Mintaka inilah terletak tepat di atas di atas khatulistiwa. oleh karena itulah konstelasi bintang ini dapat dipergunakan untuk mencari khatulistiwa atau equator langit yang sudah tentu proyeksinya pada permukaan Bumi merupakan equator atau khatulistiwa pada bola Bumi – seperti pada gambar di bawah ini bergaris biru yang merupakan garis khatulistiwa atau ekuator.

Sebuah katalog yang dibuat oleh Ptolomeus pada abad ke-2 M memuat sekitar 1.022 buah bintang terdiri dari 48 konstelasi itu pun hanya memuat langit bagian Utara di mana tempat dia tinggal (Alexandria). Katalog ini menjadi rujukan utama sampai abad ke-16 M. Jauh sebelum Ptolomeus membuat katalog konstelasi, Astronom berkebangsaan Cina bernama Gan De adalah orang yang pertama kali membuat katalog pada abad ke-4 SM.[5]

Tahun 1603, Johann Bayer membuat atlas bintang dengan memasukkan konstelasi baru yang dapat teramati di langit Selatan ketika melakukan pelayaran ke Selatan. Sistem penamaan Bintang dalam katalog Bayer masih dipakai hingga sekarang. Secara umum, bintang dalam satu konstelasi diurutkan dari yang paling terang dan pengurutannya mengikuti huruf Yunani dan diikuti dengan bentuk genetif bahasa Latin dari nama konstelasi tersebut. Sebagai contoh, bintang yang paling terang dari Rasi Centaurus adalah Alpha Centauri, dan bintang dalam Rasi Gemini yang tingkat kecerlangannya nomor empat adalah Delta Gemirorum. Tetapi ada juga yang tidak sesuai dengan urutannya (tidak selalu benar), misalkan Rigel disebut β Orionis walaupun sebenarnya Rigel adalah Bintang terterang di Rasi Orion, sedangkan Betelgeuse yang lebih lemah disebut α Orionis[6]. Pemberian nama oleh Bayer ini masih dipakai secara luas hingga sekarang.  Meskipun demikian, sudah sejak dulu orang-orang memberi nama pada bintang-bintang yang cukup terang, yang kebanyakan dinyatakan dalam Bahasa Arab seperti Acamar (Akhir an-Nahr), Achemar (Akhir an-Nahr), Acrab (al-‘Aqrab), Algol (al-Ghul), Alnilam (an-Nidham)[7] dsb.

Tabel Daftar Nama Konstelasi[8]

Nama

Nama Genitif

Singkatan

Arti

Andromeda

Andromedae

And

puteri Ethiopia

Antlia

Antliae

Ant

pompa air

Apus

Apodis

Aps

burung surga

Aquarius

Aquarii

Aqr

pembawa air

Aquila

Aquilae

Aql

garuda

Ara

Arae

Ara

altar

Aries

Arietis

Arie

biri-biri jantan

Auriga

Aurigae

Aur

pengemudi kereta perang

Boötes

Boötis

Boo

penggembala

Caelum

Caeli

Cae

alat pemahat

Camelopardus

Camelopardis

Cam

jerapah

Cancer

Cancri

CnC

kepiting

Canis Venatici

Canum Venaticorum

CVn

anjing-anjing pemburu

Canis Major

Canis Majoris

CMa

anjing besar

Canis Minor

Canis Minoris

CMi

anjing kecil

Capricornus

Capricorni

Cap

kambing laut

Carina

Carinae

Car

lunas kapal Argonauts

Cassiopeia

Cassiopeiae

Cas

ratu Ethiopia

Centaurus

Centauri

Cen

centaur

Cepheus

Cephei

Cep

raja Ethiopia

Cetus

Ceti

Cet

paus

Charmeleon

Charmeleontis

Cha

bunglon

Circinus

Circini

Cir

kompas

Columba

Columbae

Col

merpati

Coma Berenices

Comae Berenices

Com

rambut Berenice

Corona Australis

Coronae Australis

CrA

mahkota selatan

Corona Borealis

Coronae Borealis

CrB

mahkota utara

Corvus

Corvi

CrV

burung gagak

Crater

Crateris

Crt

cangkir

Crux

Crucis

Cru

salib selatan

Cygnus

Cygni

Cyg

angsa

Delphinus

Delphini

Del

lumba-lumba

Dorado

Doradus

Dor

ikan todak

Draco

Draconis

Dra

naga

Equuleus

Equulei

Equ

kuda kecil

Eridanus

Eridani

Eri

sungai

Fornax

Fornacis

For

tungku

Gemini

Geminorum

Gem

kembar

Grus

Gruis

Gru

burung bangau

Hercules

Herculis

Her

Hercules, anak Zeus

Horologium

Horologii

Hor

jam

Hydra

Hydrae

Hya

naga laut

Hydrus

Hydri

Hyi

ular air

Indus

Indi

Ind

Indian

Lacerta

Lacertae

Lac

kadal

Leo

Leonis

Leo

singa

Leo Minor

Leonis Minoris

LMi

singa kecil

Lepus

Leporis

Lep

kelinci

Libra

Librae

Lib

timbangan neraca

Lupus

Lupi

Lup

serigala

Lynx

Lyncis

Lyn

sejenis kucing liar

Lyra

Lyrae

Lyr

harpa

Mensa

Mensae

Men

meja

Microscopium

Microscopii

Mic

mikroskop

Monoceros

Monocerotis

Mon

kuda bertanduk satu

Musca

Muscae

Mus

lalat

Norma

Normae

Nor

timbangan datar

Octans

Octantis

Oct

oktan

Ophiuchus

Ophiuchi

Oph

tangan naga

Orion

Orionis

Ori

pemburu

Pavo

Pavonis

Pav

merak

Pegasus

Pegasi

Peg

kuda bersayap

Perseus

Persei

Per

perseus

Phoenix

Phoenicis

Phe

burung finiks

Pictor

Pictoris

Pic

kuda-kuda

Pisces

Piscium

Psc

ikan

Piscis Austrinus

Piscis Austrini

psA

ikan selatan

Puppis

Puppis

Pup

buritan kapal Argonauts

Pyxis

Pyxidis

Pyx

kompas di kapal Argonauts

Reticulum

Reticuli

Ret

jaring

Sagitta

Sagittae

Sge

anak panah

Sagittarius

Sagittarii

Sgr

pemanah

Scorpius

Scorpii

Sco

kalajengking

Sculptor

Sculptoris

Scl

alat ahli pahat

Scutum

Scuti

Sct

perisai

Serpens

Serpentis

Ser

ular naga

Sextans

Sextantis

Sex

sekstan

Taurus

Tauri

Tau

lembu jantan

Telescopium

Telescopii

Tel

teleskop

Triangulum

Trianguli

Tri

segitiga

Triangulum Australis

Trianguli Australis

TrA

segitiga selatan

Tucana

Tucanae

Tuc

burung rangkong

Ursa Major

Ursae Majoris

UMa

beruang besar

Ursa Minor

Ursae Minoris

UMi

beruang kecil

Vela

Velorum

Vel

layar kapal Argonauts

Virgo

Virginis

Vir

gadis

Volans

Volantis

Vol

ikan terbang

Vulpecula

Vulpeculae

Vul

rubah

Akhirnya, pada tahun 1930, International Astronomical Union (IAU) secara resmi menetapkan konstelasi-konstelasi yang terdapat di langit sejumlah 88 buah di mana satu sama lain tidak bertumpang tindih dengan konstelasi lainnya.

Seiring perkembangan zaman, kemudian muncul pertanyaan mengapa para Astronom bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan objek langit dan fenomena-fenomena lain yang terjadi di alam semesta, padahal benda langit itu tidak bisa disentuh ataupun bisa menakar dan mengukur sama halnya biasa kita lakukan sehari-hari menggunakan meteran atau yang lainnya seperti kita melakukan percobaan Biologi ataupun kimia? Benang merah penghubung antara benda langit dengan manusia adalah cahaya yang dipancarkan benda langit tersebut yang sampai ke permukaan Bumi.

Tentu saja pengamatan yang dilakukan di permukaan Bumi sangatlah terbatas karena adanya atmosfer yang menyelimuti Bumi memiliki fungsi memantulkan kembali sebagian pancaran dari gelombang elektromagnetik – seperti  gelombang inframerah, ultraviolet, sinar x, sinar γ (gamma) dll. Sehingga manusia sulit menerima informasi secara menyeluruh dari pancaran Bintang. Sementara gelombang yang lolos dari atmosfer Bumi diantaranya gelombang optik (cahaya tampak)[9] dan gelombang radio[10] yang kemudian para astronom menemukan benda angkasa dan partikel suatu unsur yang baru.

B.     Magnitudo

Magnitudo adalah tingkat kecemerlangan suatu bintang. Magnitudo Semu sebuah Bintang adalah kecerahan sebuah Bintang yang dilihat oleh pengamat di Bumi. Hipparchus merupakan astronom dan matematikawan Yunani yang mengamati Bintang yang sangat terkenal. Ia mengukur garis lintang dan garis bujur lebih dari 800 Bintang dan menyusun katalog Bintang pada tahun 129 SM. Ia menyusun urutan magnitudo semu Bintang-bintang dari skala 1 sampai 6. Bintang-bintang yang paling terang didaftarkan sebagai Bintang-bintang bermagnitudo 1, dan yang paling redup bermagnitudo 6.

Beberapa contoh magnitudo benda-benda antariksa[11];

Benda Antariksa

Magnitudo Semu

Matahari

Bulan purnama

Venus

Jupiter

Sirius

Canopus

Vega

Arcturus

Betelgeuse

Altair

Aldebaran

Antares

Mars

Αcrux

Polaris

-26,73

-12,10

-4,41

-2,68

-1,45

-0,65

0,00

0,15

0,45

0,75

0,85

1,05

1,24

1,25

1,95

Dari hasil penelitian ternyata bahwa dua buah bintang yang berbeda 5 magnitudo, maka bintang yang satu akan 100 kali lebih terang dari pada bintang yang lainnya. Perbedaan 5 tingkat antara dua buah bintang berarti kedua Bintang tersebut mempunyai perbedaan terang (2,512)5 = 100

Sebagai contoh Bintang A = 1m dan Bintang B = 3m. Selisih magnitudo kedua Bintang tersebut adalah 2m, maka Bintang (2,512)2 lebih terang daripada Bintang B.

Dengan demikian apabila magnitudo Bintang A = am dan magnitudo Bintang B = bm dan b lebih besar dari pada a, maka:

Bintang A = (2,512)b-a kali lebih besar daripada Bintang B.

Misalkan magnitudo semu Matahari = -26,73 dan magnitudo Bulan Purnama = -12,10. Selisih magnitudo kedua Bintang antariksa tersebut adalah 14,63. Dengan demikian Matahari mempunyai tingkat terang (2,512)14,63 kali lebih terang dari pada bulan Purnama.

Cara penyelesaiannya:

Misalkan (2,512)14,63 = x

Log x         = 14,63 . log 2,512

Log x         = 14,63 .  0,4000

= 5,852

x = 711.213,5

Jadi, Matahari mempunyai tingkat terang 711.213,5 kali lebih terang dari pada Bulan Purnama[12].

Skala magnitudo berbanding terbalik dengan kecemerlangan bintang, artinya makin terang suatu bintang makin kecil skala magnitudonya. Perbandingan magnitudo semu bintang dapat menggunakan rumus-rumus berikut:

*  =      atau     =                                           (2.1)

* = 2,512 log                                                               (2.2)

Sebagai contoh, jika magnitudo semu bintang B 1.000 kali lebih besar daripada bintang A, tentukanlah beda magnitudo kedua bintang !

Penyelesaian : mA – mB = -2,5 log (EA/EB)

mA – mB = -2,5 log (0,001)

mA – mB = -2,5 (-3)

mA – mB = 7,5 magnitudo

TABEL MAGNITUDO SEMU (m)

-3

-2

-1

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

0.0064

0,16

0,4

1

2,5

6,3

16

40

100

250

630

1600

4000

104

25000

          Magnitudo Mutlak

Magnitudo mutlak (M) adalah perbandingan nilai terang bintang yang sesungguhnya. Seperti yang Anda ketahui, jarak antara bintang yang satu dan bintang yang lain dengan Bumi tidaklah sama. Akibatnya, bintang terang sekalipun akan nampak redup bila jaraknya sangat jauh. Oleh karena itu, dibuatlah perhitungan magnitudo mutlak, yaitu tingkat kecerlangan bintang apabila bintang  itu diletakkan hingga berjarak 10 parsek dari Bumi.

Perhitungan jarak bintang, magnitudo semu dan magnitudo mutlak (absolut) adalah:

m – M = –2,5 log

= –2,5 log

= –2,5 log

= –2,5 x 2(1 – log d)

= –5+ 5 log d                                                                                 (2.3)                                     (2.3)

Jadi, magnitudo semu (m) dan magnitudo absolut (M) sebuah bintang dengan jarak (d) dalam parsek dapat dihubungkan oleh persamaan

          m – M = –5+ 5 log d                                                                                  (2.4)

Jika magnitudo absolut dan magnitudo semunya diketahui, jaraknya dapat dihitung. Kuantitas mM dikenal sebagai modulus jarak. Adapun hubungan antara magnitudo mutlak dan luminositas (daya) bintang, L dapat diterapkan berdasarkan rumus Pogson

 –  = –2,512 log

Sebagai contoh, diketahui m =  10, M = 5,hitung jaraknya !     

             Penyelesaian: mM = -5 + 5 log d                                        d = 100,2(10-5+5)

5 log d = m – M + 5                                            d = 102 = 100 pc

log d =

d =

  1. Diketahui m = -2, jarak = 6,3 parsek,tentukan M-nya!

Penyelesaian :   6,3     = 100,2(-2-M+5)                            log 6,3 ≈ 0,8

0,8               = 0,2(-2-M+5)

4      = -2-M+5

M      = -1

Dapat pula menggunakan tabel berikut ini :

m – M = 10 – 5 = 5

Carilah angka m-M dikolom atas, kemudian jarak tercantum dibawahnya

Tabel Modulus Jarak (m-M) dan jarak (parsek)

-4

-3

-2

-1

0

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

15

20

1,6

2,5

4

6,3

10

16

25

40

63

100

160

250

400

630

103

1600

104

105

  1. Magnitudo semu Sirius -1,46 dan magnitude absolutnya +1,42.

Tentukan berapa tahun cahaya jarak Sirius ke Bumi!

Penyelessaian :     d = 100.2(m-M+5)

d = 100.2(-1.46-1.42+5)

= 10 0.2(2.12)

= 100.424

                                               = 2,654 parsec = 8,64 tahun cahaya

  1. Diketahui m = -26,73, M = 4,74, tentukan jarak dari Bumi ke Matahari !

Penyelesaian :      d    = 100,2(m-M+5)

= 100,2(-26,73-4,74+5)

= 10-5,314

                                             = 0.00000485 parsek ≈ 150.000.000 km = 1 AU[13]

Spektroskopi Bintang

Sebagai contoh apabila kita memanaskan atau membakar sebuah logam misalnya besi, maka warna besi itu akan berubah mulai dari hitam, merah, kemudian putih kebiru-biruan (pijar) hal ini mengindikasikan adanya kenaikan suhu. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara logam tersebut dengan suhunya. Demikian pula benda-benda antariksa di langit seperti bintang-bintang apabila kita perhatikan warnanya ada yang merah, kuning, dan putih kebiru-biruan.

Dari cahaya benda-benda angkasa, orang dapat menyelidiki spektrum dengan alat yang disebut spetroskop dan spektograf. Spektroskopi merupakan salah satu ilmu dasar dalam astronomi. Penyelidikan ini adalah tugas ilmu analisa spektral[14].

Spektroskopi pertama kali dilakukan oleh Ibnu Haitsam yang menguraikan cahaya Matahari menggunakan gelas prisma menjadi berbagai warna seperti pelangi. Uraian cahaya ini disebut spektrum. Namun dunia mengenalnya lewat

Tabel 1 : Rangkuman klasifikasi bintang yang saat ini umum digunakan (sering digunakan ungkapan : Oh Be A Fine Girl (or Guy), Kiss Me) untuk mengingat urutan klasifikasi kelas spektrum bintang.

Newton dengan cara yang sama bahkan bisa membalikan menjadi cahaya putih kembali pada tahun 1665. Pada tahun 1802 Wollaston melihat adanya garis-garis gelap pada spektrum Matahari. Fraunhofer melakukan pengamatan yang cermat pada garis-garis itu dan berhasil mengkataloguskan 600 garis pada tahun 1815. Delapan tahun kemudian Fraunhofer melihat bahwa spektrum bintang juga mengandung garis-garis gelap serupa yang terdapat pada spektrum Matahari. Hal ini menyokong pendapat bahwa Matahari sebenarnya sebuah Bintang.

Pada tahun 1859 Kirchoff mengemukakan tiga landasan mengenai pembentukan spektrum  oleh materi dalam berbagai keadaan fisis.

  1. Bila suatu benda cair atau gas bertekanan tinggi dipijarkan, benda tadi akan memancarkan energi dengan spektrum pada semua panjang gelombang.
  2.  Gas bertekanan rendah bila dipijarkan akan memancarkan energi hanya pada warna, atau panjang gelombang tertentu saja. Spektrum yang diperoleh berupa garis-garis terang yang disebut garis pancaran atau garis emisi. Letak setiap garis atau panjang gelombang garis tersebut merupakan ciri gas yang memancarkannya.
  3. Bila seberkas cahaya putih dengan spektrum kontinu dilewatkan melalui gas yang dingin dan renggang (bertekanan rendah), gas tersebut tersebut akan menyerap cahaya tersebut pada warna atau panjang gelombang tertentu. Akibatnya akan diperoleh spektrum kontinu yang berasal dari cahaya putih yang dilewatkan diselang-seling garis gelap yang disebut garis serapan atau garis absorpsi[15].

Dengan Bolometer, yaitu sebuah jenis termometer yang sangat peka, dapat pula diselidiki dari sebuah benda antariksa – bagian spektrum mana yang memiliki suhu paling tinggi. Jika misalnya diketemukan  suhu yang paling tinggi bagian spektrum kuning dan kita ketahui bahwa panjang gelombang cahaya kuning 5000 Aom = 5000 Ao), menurut hukum pergeseran Wien:

λ m T = 29,4 . 106

T = 29,4 . 106

5000

= 6000o K (Kelvin).[16]

والله أعلم

الله يأخذبأيدينا إلى مافيه خير للإسلام والمسلمين


[1] Gerak perputaran sumbu rotasi Bumi seperti keolengan pada gasing yang diputar.

[2] http://langitselatan.com/2011/01/20/zodiak-dalam-astronomi/

[3] Bumi Antariksa Astronomi untuk SMA. Op. cit. hal. 29

[4] Kalau kita mengarahkan sebuah teleskop dekat Bintang Alnitak – kita akan melihat Nebula kepala Kuda, sementara ke arah Rigel – terdapat Nebula Orion.

[5] Admiranto, A. Gunawan. Menjelajahi Bintang, Galaksi, dan Alam Semesta. 2009. Yogyakarta: Kanisius. hal. 4

[6] Sutantyo, Winardi. Astrofisika Mengenal Bintang. 1984. Bandung: ITB. hal. 8

[7] http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=833

[8] Ibid. Astrofisika Mengenal Bintang. hal. 2-4.

[9] Pada gelombang optik, kita bisa menggunakan teleskop sebagai pengumpul cahaya, memisahkan sudut, dan perbesaran.

[10] Pengamatan dengan gelombang radio kita bisa manfaatkan teleskop radio. Teleskop ini pertama kali dikembangkan oleh Karl Jansky pada tahun 1930-an setelah mengetahui sifat dulisme cahaya yang terdiri dari partikel dan gelombang.

[11] kredit Stellarium 0.11.0

[12] Bumi Antariksa Astronomi untuk SMA. Op. cit. hal. 33

[13] Gautama, Sunkar Eka. Astronomi dan Astrofisika. 2010. Makasar

[14] Bumi Antariksa Astronomi Untuk SMA. Op. cit. hal. 33

[15] Sutantyo, Winardi. Asrofisika Mengenal Bintang. 1984. Bandung: ITB. hal. 73

[16] 1 Ao = 0,0001 = 10-7 mm.                      1μ = 0,001 mm

Materi yang lebih lengkapnya bisa langsung di download di sini. Semoga bermanfaat…

*Nb: Tolong, beritahu ke kelas 1b Mln untuk mendownload materi ini yang akan dibahas untuk hari senin depan (19-09-2011)…